thumbnail Halo,

Dari sisi ekonomi dan Financial Fair Play, Bayern sudah mengalahkan Chelsea.

Saat Bayern Munich dan Chelsea bertanding di final Liga Champions di Allianz Arena, Minggu (20/5) dinihari WIB, kedua tim sama-sama berambisi untuk menuntaskan dahaga sekian lama. Kondisi perbedaan sisi finansial kedua tim tampaknya bisa saja berpengaruh terhadap usaha mereka untuk meraih gelar di musim ini.

Dalam urusan Financial Fair Play (FFP) yang digagas UEFA, Chelsea dihadapkan pada tuntutan untuk menyusun kembali struktur ekonomi mereka agar bisa sesuai dengan paramater yang baru. Sementara Bayern sudah berhasil melakukannya. Untuk itu, pertandingan final kali ini akan menjadi pembuktian apakah FFP bisa bermanfaat atau tidak.

Kris Voakes, Clark Whitney, dan Nikolai Mende dari GOAL.com memaparkan beberapa data finansial yang menunjukkan perbedaan perkembangan yang dialami Bayern dan Chelsea.

Kondisi Uang di Munich | Pendapatan Sepuluh Top sejak Abramovich tiba
2003/04
2011/12
1. €259,0 juta Manchester United   1. €479,5 juta Real Madrid
2. €236,0 juta Real Madrid   2. €450.7 juta Barcelona
3. €222,3 juta AC Milan   3. €367,0 juta Manchester United
4. €217,0 juta
Chelsea   4. €321,4 juta
Bayern Munich
5. €215,0 juta Juventus   5. €251,1 juta Arsenal
6. €173,6 juta Arsenal   6. €249,8 juta
Chelsea
7. €169,2 juta Barcelona   7. €235,1 juta AC Milan
8. €166,5 juta Inter   8. €211,4 juta Inter
9. €166,3 juta
Bayern Munich
  9. €203,3 juta
Liverpool
Gambar dari Deloitte

Roman Abramovich tiba di Chelsea pada 2003, dan secara tiba-tiba mengubah wajah sepakbola. Total utang sebesar £80 juta (€100 juta) mampu diatasi, sejumlah pemain besar didatangkan, manajer berkelas dunia direkrut, trofi kemudian diraih, dan Chelsea menjadi salah satu klub disegani di dunia. Tapi, meski kondisi keuangan mereka sudah aman, namun model bisnis The Blues tidaklah lebih baik.

Laporan Football Money League Deloitte 2012 menyebutkan, pendapatan Chelsea hanya naik 15,1 persen di delapan tahun pertama kekuasaanAbramovich, meski ada peningkatan dari sisi tiket, broadcasting, dan sumber lainnya. Pendapatan komersil pada 2010/11 mencapai €62,8 juta, naik 23% sejak 2003/04, namun pernah jatuh 33% pada 2006/07. Data tersebut menunjukkan The Blues tidak mampu menjaga pendapatan di saat kondisi finansial naik dan menurun drastis.

Stamford Bridge juga pernah membuktikan kegagalan menjadikan klub untuk lebih viable secara finansial. Baru pada bulan ini mereka mengajukan tawaran untuk membeli Battersea Power Station di sebelah selatan Laut Thames, yang sudah tidak aktif. Itu dilakukan agar belanja stadion menjadi lebih efektif.

Produk akademi yang terakhir dihasilkan Chelsea dan masuk ke dalam skuad inti, seperti Josh McEachran, Ryan Betrand, dan Sam Hutchinso, kalau ditotal baru tampil 23 kali pertandingan. Itu menunjukkan pembinaan muda klub tidak berjalan efektif.

Chelsea dihadapkan pada posisi sulit. Musim ini, mereka hanya finis di peringkat kedelapan. Kegagalan di final Liga Champions sama saja mereka tidak akan kembali tampil di kompetisi terakbar di Eropa itu pada musim depan. Kalau itu terjadi, ini adalah kali pertama Chelsea absen di bawah imperium Abramovich. Mereka dibayang-bayangi kondisi setback untuk bisa sesuai dengan aturan FFP.

Salah satu yang dikhawatirkan Chelsea adalah kehilangan sponsorship. Samsung Electronics bahkan mengancam akan menarik deal €16,3 juta per tahun jika Chelsea hanya bermain di Liga Europa pada musim 2012/13.

Apa yang terjadi dengan Chelsea tidak dialami Bayern. Rekor fenomenal Die Roten dalam memproduksi talenta-talenta muda menang sudah dalam rencana besar mereka. Pemain-pemain seperti Philipp Lahm, Holger Badstuber, Bastian Schweinsteiger, dan Thomas Muller sudah lama tumbuh, dan klub beruntung bia memanfaatkan tenaga mereka.

Bayern mampu memainkan gaya permainan mereka sendiri, di saat sepakbola sekarang ini banyak didominasi klub-klub yang terlilit hutang. Klub-klub seperti Manchester United, Real Madrid, dan Barcelona dibayang-bayangi kekuatan meminjam. Sementara Chelsea, Manchester City, Paris Saint-Germain, dan Inter dikuasai "konglomerat besar". Hanya Barcelona yang bergantung pada uang yang dihasilkan sebagai klub.



CEO Bayern Karl-Heinz Rummenigge mengaku bangga dengan rekor keseimbangan keuangan klub. Ia baru-baru ini menyatakan Chelsea akan berjuang untuk bisa menemui aturan kriteria dalam deadline pertama FFP pada 2013/14. "Bukan rahasia lagi ada 60% klub-klub profesional Eropa yang berada dalam status merah. Apa yang saya ketahui, Chelsea tiak akan bisa menemui kriteria Financial Fair Play pada hari ini," ujar Rummenigge.

Tidak ada tekanan hebat dalam kontrak broadcasting di Bayern karena keuntungan yang diraih klub-klub Bundesliga tidak sebesar dibandingan di Liga Primer Inggris. Laporan KirchMedia pada 2002 pernah menyebutkan, deal TV di liga menurun hingga hanya €20 juta secara total, bandingkan dengan Serie A yang mencapai €80 juta atau Liga Primer dengan kontrak tiga tahun dengan Sky Sports senilai €1,024 milyar.

Namun, pada musim panas ini akan ada perubahan. Sebuah kesepakatan baru telah ditandatangani Sky Sports sehingga akan menaikkan pendapatan Bundesliga dari €412 juta menjadi €628 juta. Kondisi itu bisa membuat klub-klub Jerman kian percaya diri. Model keberlanjutan adalah salah satu kesuksesan Bayern dalam menggunakan keuntungan, baik di kandang maupun tandang.

Dengan kontrak mewah yang ditandatangani bersama Audi dan Adidas, plus kapasitas tempat duduk Allianz Arena 69.901 yang secara reguler bisa terjual, maka ada keuntungan fantastis untuk pendapatan yang bisa dihasilkan Bayern. Berbeda dengan penurunan 23% pendapatan komersil Chelsea di bawah kekuatan Abramovich, Bayern justru mengalami kenaikan 69% dalam periode yang sama. Masa kembali terburuk Bayern (€105,2 juta pada 2003/04) jauh melebihi tahun paling untung Chelsea (€83,8 juta pada 2006/07).

Dalam hal ini, itu berarti Bayern, yang pendapatannya kurang €50,7 juta dari Chelsea pada 2003/04, justru mendapat nilai lebih besar, yakni €71,6 juta pada musim lalu.

Data-data di atas menunjukkan Chelsea harus mengeluarkan dana berlebih ketimbang Bayern dalam usaha untuk bisa memenuhi mimpi meraih gelar Liga Champions. Namun, bedanya, Bayern bisa mencetak banyak produk lokal seperti Toni Kross dan David Alaba. Atau mereka bisa saja mendatangkan nama-nama beken seperti Franck Ribery, Arjen Robben, dan Mario Gomez, tanpa harus "merampok" bank. Bandingkan dengan Chelsea yang harus berboros dana untuk mendatangkan pemain-pemain terkenal, terakhir yang didatangkan adalah Fernando Torres dan David Luiz.

Tagihan gaji Bayern juga masih di bawah 50% dari volume bisnis mereka, seperti klub-klub seperti AC Milan dan Inter harus membayar gaji hingga 85%. Bayern bisa menjadi contoh buat UEFA dalam penerapan FFP yang baik.

Dalam sudut pandang ekonomi dan FFP, Bayern memang unggul telak atas Chelsea. Namun, layak ditunggu pada final yang sesaat lagi akan berlangsung, apakah Bayern atau Chelsea yang akan memegang trofi terakbar di Eropa pada musim ini sekaligus memuaskan dagaha lama mereka...

Ikuti perkembangan terkini Liga Champions di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Liga Champions, lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen Liga Champions.

Terkait