thumbnail Halo,

Nil tercatat sebagai satu-satunya peserta dengan status pelatih kepala timnas.

Pelatih tim nasional Indonesia Nil Maizar merasa beruntung dapat mengikuti pelatihan sepakbola bertaraf internasional di Jerman. Mantan pelatih Semen Padang itu mengaku banyak mendapatkan ilmu kepelatihan sepakbola yang belum pernah didapatkan.

Seperti diketahui, Nil ditunjuk PSSI mewakili Indonesia dalam pelatihan yang digelar Federasi sepakbola Jerman atau Deutscland Fussballbund (DFB), di Sportschule Hennef. Nil tercatat sebagai salah satu dari 30 peserta yang datang dari 25 negara di seluruh dunia itu.

"Harus diakui metode pelatihan yang saya dapatkan kali ini sangat berbeda dengan pelatihan-pelatihan sebelumnya yang pernah diikuti. Hal paling berkesan di sini semua materi yang diberikan instruktur sangat detail," kata lelaki kelahiran Payakumbuh 42 tahun lalu itu.

Menurut Nil, bahkan saking detailnya, keseriusan peserta sangat dibutuhkan untuk bisa menyerap semua pelajaran yang diberikan. Apalagi, metode pelatihan sangat berimbang, dalam arti teori 50 persen dan selebihnya langsung dipraktekkan.

"Inilah kelebihan dunia sepakbola di Barat, Jerman khususnya yang sudah sangat maju. Semuanya sangat detail dan hal-hal sekecil apa pun harus dipelajari. Artinya, kalau mau jadi pelatih yang baik dan berhasil, jangan sesekali mengabaikan hal-hal yang detail dan kecil seperti itu," kata Nil saat menghubungi GOAL.com Indonesia, Senin (30/4) pagi WIB.

Nil mengaku tak menemui kendala berarti selama mengikuti pelatihan, termasuk masalah komunikasi yang semuanya disampaikan dalam bahasa Inggris. Meskipun begitu, padatnya agenda pelatihan memang terasa cukup berat dan melelahkan, tapi itulah resiko yang harus dijalani untuk mendapatkan ilmu yang berharga.

"Kalau mau go Internasional kita memang harus siap untuk hal-hal seperti ini. Karena untuk mendapatkan ilmu itu memang tidak mudah, kita harus siap berkorban dan perlu perjuangan keras juga," tambah Nil.

Soal peserta latihan yang digelar 23 April-12 Mei 2012 itu, Nil tercatat sebagai satu-satunya peserta dengan status pelatih kepala timnas. Sementara asisten pelatih timnas terdapat beberapa orang, misalnya Luis Marin (Kosta RiKa), Luis Romero (Ekuador), James Appiah (Ghana), Wane Wilson (Tanzania) dan beberapa lainnya. "Tapi kebanyakan mereka pelatih timnas dari level yunior atau klub," tutur Nil.

Soal adaptasi di Jerman, Nil juga menyebut tak terlalu kesulitan, apalagi Eropa saat ini sudah mulai diambang musim panas. Suhu dan cuaca tak terlalu dingin. Soal suhu dingin dan tinggal di Eropa, memang bukan hal baru bagi Nil Maizar. Sebab semasa berlatih bersama timnas Garuda II, dia pernah tinggal empat bulan di Cekoslowakia.

"Saat itu jauh lebih berat, karena kita di sana bertepatan dengan musim dingin. Tapi karena sekarang sudah bulan April, cuaca tak begitu dingin, karena sebentar lagi Eropa memasuki musim panas," kata Nil. (gk-33)   

>> Halaman Khusus Sepakbola Indonesia
>> Semua Berita Sepakbola Indonesia

Terkait