thumbnail Halo,

Final Piala Champions 1966/67.

Oleh Agung Harsya

Selayang Pandang

Sebelum musim 1966/67, Piala Champions hanya pernah dijuarai empat tim saja. Real Madrid, Benfica, dan dua tim asal Milan. Keberhasilan Celtic menembus final pada turnamen edisi ke-12 ini menjadi salah satu kejutan besar. Meski demikian, lawan yang dihadapi pada laga puncak, Inter Milan, lebih difavoritkan.

Inter mewarisi periode La Grande Inter dengan tiga komponen pentingnya saat itu, pemilik Angelo Moratti, pelatih Helenio "Il Mago" Herrera, dan strategi "pintu petir" yang menjadi cikal bakal catenaccio.

Inter baru saja menjuarai dua kali Piala Champions beruntun, pada 1964 dan 1965. Inter diperkuat para pemain legendaris, seperti Tarcisio Burgnich, Giacinto Facchetti, dan Sandro Mazzola, wajar jika Nerazzurri begitu dijagokan karena nyaris tidak ada orang yang mengenal para pemain Celtic saat itu.

Saat manajer Jock Stein membangun timnya, dia mengembangkan pemain lokal dan sangat mengandalkannya. Semua anggota skuad Celtic pada Piala Champions musim ini lahir dalam radius 50 km dari kota Glasgow, sehingga mencerminkan keberhasilan sistem pembinaan dan pengembangan bakat lokal. Jauh berbeda dengan kondisi sepakbola modern yang kian lekat dengan globalisasi.

Inter sukses menggusur juara bertahan Real Madrid pada perempat-final dengan skor agregat 3-0. Namun, pada semi-final, pasukan Herrera sedikit kesulitan saat menghadapi CSKA Sofia dan harus melalui babak play-off, setelah dua laga menghasilkan skor identik 1-1, sebelum melaju ke final. Pada laga play-off itu, akhirnya CSKA ditekuk 1-0.

Celtic harus melalui perlawanan sengit tim-tim Eropa Timur pada babak delapan dan empat besar. Sempat kalah 1-0 di kandang klub Yugoslavia, Vojvodina, Celtic membalasnya dengan menang 2-0 di Parkhead. Pada semi-final, Celtic unggul agregat 3-1 berkat kemenangan di kandang sendiri dan hasil imbang tanpa gol di kandang lawan. Celtic pun menjadi klub Inggris Raya pertama yang mampu melaju ke final Piala Champions. Bahkan, hingga saat ini, Celtic menjadi satu-satunya tim asal Skotlandia yang mampu bertahan hingga final turnamen antarklub paling bergengsi ini.

Jalannya Pertandingan

25 Mei 1967
Estadio Nacional, Lisbon
Wasit: Kurt Tschenscher (Jerman)
Penonton: 56.000

Lisbon Lions.

Fans Celtic akan mengenang tim ini sepanjang masa. Meski kalah pengalaman dan nama besar, semangat Celtic yang menggebu-gebu sungguh merepotkan juara Eropa dua kali, Inter.

Alessandro Mazzola membuka keunggulan Inter pada menit ketujuh dan membuktikan semua prediksi pengamat gaya sepakbola defensif Nerazzurri, ditambah rancangan serangan balik, akan kembali memberikan hasil positif.

Gol terjadi melalui titik putih setelah Jim Craig menjatuhkan Renato Cappellini di dalam kotak penalti.

Sisanya, adalah sejarah. Pasukan Singa Lisbon memberikan perlawanan hebat, meski Inter membendungnya dengan sepuluh pemain bertahan. Inter hanya mampu sekali mendapatkan tendangan penjuru sepanjang pertandingan, berbeda dengan Celtic yang menghasilkan dua tendangan yang menghantam mistar, serta 39 tendangan ke arah gawang.

Kiper Ronnie Simpson hanya melakukan dua penyelamatan, sedangkan Giuliano Sarti harus 13 kali berjibaku di depan gawangnya.

Gol penyeimbang tercipta pada menit ke-63. Craig mengobati kesalahannya dengan memberikan umpan kepada Tommy Gemmell, yang menceploskan bola ke gawang Sarti.

Keasyikan belum berhenti. Tujuh menit sebelum usai, Gemmell terlepas dan memberikan bola kepada Bobby Murdoch. Tendangan keras Murdoch membentur Steve Chalmers dan mengecoh Sarti untuk membawa Celtic balik unggul atas Inter.

Kedudukan 2-1 tetap bertahan hingga akhir. Singa pun mengaum di Estadio Nacional, Lisbon. Fans Celtic yang dilanda euforia merangsek masuk ke dalam lapangan. Begitu ramainya sehingga panitia menunda acara penyerahan trofi. Saat trofi diserahkan, hanya kapten Billy McNeill yang naik podium karena lapangan sudah dipenuhi para fans.

Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadikan Celtic sebagai klub Inggris Raya pertama yang merajai Eropa, tapi juga membawa mereka memenangi quadruple pada musim itu.

Susunan Tim

Celtic
Manajer: Jock Stein


Ronnie Simpson
Jim Craig -- Bobby Murdoch -- John Clark -- Tommy Gemmell
Billy McNeill
Jimmy Johnstone -- Willie Wallace -- Bertie Auld -- Bobby Lennox
Stevie Chalmers

Renato Capellini -- Sandro Mazzola -- Angelo Domenghini
Giancarlo Bedin -- Mauro Bicicli -- Mario Corso
Giacinto Facchetti -- Aristide Guarneri -- Tarchisio Burgnich
Armando Picchi
Giuliano Sarti

Inter
Manajer: Helenio Herrera

Kutipan

"Aku akan bilang kepadanya, Celtic akan menjadi tim pertama yang membawa trofi juara Eropa ke Inggris Raya, tapi itu takkan berarti apapun. Bagaimanapun, kami akan keluar menyerang seolah-olah kami tak pernah bermain menyerang sebelumnya," ujar Jock Stein saat ditanyakan pers sebelum final. Ucapan ini ditujukan kepada pelatih Inter, Helenio Herrera.

"Trofi tidak dimenangkan oleh individual," ujarnya setelah final, "tapi dimenangkan oleh para pemain di dalam tim, para pemain yang menempatkan klub di atas gengsi pribadi. Aku beruntung, aku memiliki para pemain itu yang rela melakukannya demi Celtic."

"Kami semua anak-anak lokal. Bobby Lennox datang paling jauh, itupun hanya 30 mil (kira-kira 50 km) di pantai Ayreshire. Sisanya, tinggal bersebalahan dengan stadion. Datang dari sistem pembinaan Celtic tanpa menuai sukses memicu semangat para pemain. Kami sangat bertekad, sangat positif terhadap sikap saat bermain. Ketika Big Jock kembali ke Celtic pada 1965, dia menyadari potensi ini dan membuat kami bermain mengerahkan segenap kemampuan terbaik," imbuh kapten Billy McNeill.

"Saat itu, para pemain Italia bermain sangat defensif dan mereka melakukan penjagaan orang per orang. Salah satu rencana kami adalah menempatkan para pemain depan untuk membingungkan bek mereka dan berdiri pada posisi yang bodoh, karena mereka selalu menguntit kami. Jadi, full-back kami bisa naik menyerang. Bek kiri Tommy Gemmell menghujani enam atau tujuh tendangan ke arah gawang dalam enam atau tujuh menit. Kami memengang kendali permainan dan lebih cepat daripada klub Italia itu. Mereka pemain hebat, tapi tak terbiasa meladeni lawan yang menggebu-gebu, itulah yang kami lakukan," tukas pencetak gol kemenangan, Stevie Chalmers.

Terkait