thumbnail Halo,

Sembilan negara favorit berikut ini harus pandai-pandai menyelesaikan permasalahannya sebelum kick-off Piala Dunia 2014.

Semuanya telah pasti. Uruguay resmi menjadi kontestan terakhir Piala Dunia 2014 usai menyingkirkan Yordania, Kamis (21/10). Kini, kita sudah mengetahui 32 kontestan yang bakal berlaga di Brasil tahun depan sambil menunggu undian babak fase grup pada 6 Desember mendatang.

Negara-negara seperti Kolombia, Belgia, hingga Bosnia-Herzegovina sangat berpeluang menjadi tim kuda hitam di turnamen. Namun, tak ada yang lebih menarik selain membahas tim-tim kelas berat alias para unggulan tradisional Piala Dunia.

Setidaknya, salah satu dari sembilan negara favorit di bawah ini bakal merengkuh trofi Piala Dunia. Redaksi Goal International membahas apa saja pekerjaan rumah yang harus diselesaikan kesembilan raksasa ini agar peluang mereka untuk menjadi yang terbaik di dunia semakin besar. Simak!


SPANYOL - MENIMBANG KIPER TERBAIK


Dengan semakin seringnya Iker Casillas duduk di bangku cadangan Real Madrid, maka tak ada yang pasti dengan posisi penjaga gawang utama di timnas Spanyol. Vicente Del Bosque sudah bilang kalau San Iker tak terjamin posisinya. Victor Valdes pun punya peluang besar untuk keluar dari bayang-bayang Casillas. Kiper yang akan meninggalkan Barcelona pada akhir musim ini tampil bagus dalam beberapa kesempatan bersama La Roja.

Masalah lain adalah lini belakang. Gerard Pique dan partner sentralnya, Sergio Ramos, yang tampak rapuh dan mengkhawatirkan. Neymar terlihat nyaman dalam mengobrak-abrik pertahanan Madrid dalam El Clasico beberapa waktu lalu. Lalu ditambah dengan kegemaran Jordi Alba untuk terlalu maju ke depan sehingga mengindikasikan pertahanan Spanyol di musim panas mendatang tidak akan rapat-rapat amat.

Tanda tanya juga menggantung di area tengah. Xavi, 33 tahun, sudah mulai menunjukkan penurunan performa. Ia pun diragukan bisa tampil seperti sedia kala di bawah terik panas matahari musim panas Brasil selama dua kali seminggu. Kembali bugarnya Xabi Alonso dan kemunculan Koke bisa membuat Del Bosque punya opsi untuk bermain dalam formasi 4-2-3-1 kesukaannya.

Di lini depan semestinya tak ada masalah. Pedro terus menujukkan efektivitasnya lewat 11 gol dalam 15 pertandingan bersama Spanyol. Apalagi, mereka baru saja memecundangi Brasil dengan akuisisi Diego Costa, salah satu penyerang yang paling didambakan tim manapun. Tenaga besar Costa akan lebih dibutuhkan ketimbang Fernando Torres sebagai ujung tombak.

- Ben Hayward


JERMAN - WASPADA BADAI CEDERA


Jerman terus mencetak talenta-talenta baru berkat kebijakan ekstrem DFB pada dekade lalu. Namun, tiga gelandang terbaik mereka saat ini mengalami cedera sehingga mereka dikhawatirkan terlambat panas ketika Piala Dunia bergulir. Sami Khedira sangat diragukan tampil di Brasil, sementara Bastian Schweinsteiger masih berkutat soal kebugarannya karena cedera engkel.

Belum pulihnya Ilkay Gundogan juga membuat Joachim Low semakin pusing. Bek sayap sekaligus kapten Philipp Lahm bisa saja menjadi mengisi lini tengah Jerman yang sedang rawan ini, seperti yang ia tunjukkan di Bayern Munich. Namun, tak ada bek kanan atau bek kiri lain sebaik dirinya. Seandainya Lahm dan Marcel Schmelzer cedera, permasalahan Die Mannschaft bisa-bisa makin besar. 

Low juga punya masalah dengan duet bek sentral di mana ia banyak diprotes karena tak memasukkan Mats Hummels sebagai pilihan utamanya dan lebih memilih Per Mertesacker-Jerome Boateng. Jika Holger Badstuber pulih dan fit dari cedera panjangnya, situasi ini akan tambah menarik. Faktanya, Low cukup beruntung punya tim dengan kedalaman skuat yang sangat tinggi.

Ia bisa memainkan pemain kelas dua atau bahkan kelas tiga tanpa merusak keseimbangan tim. Max Kruse mulai mapan di timnas berkat penampilan gemilang bersama Borussia Monchengladbach. Duo striker yang berkarier di Italia, Miroslav Klose dan Mario Gomez, bakal masuk ke dalam skuat. Jika tidak, akan ada Mario Gotze yang bisa tampil dalam taktik false nine. Selain masalah cedera, Jerman tampak siap menghadapi Piala Dunia. 

- Enis Koylu



ARGENTINA - BUTUH SKUAT TERBAIK DEMI MESSI


Cedera anyar yang diderita Lionel Messi tentu menggegerkan dunia, tetapi kabar buruk ini lantas tak mengubah peruntungan Argentina di Piala Dunia. Sejak menunjuk Alejandro Sabella, Argentina terlihat sudah menemukan cara untuk mengeluarkan potensi terbaik Messi. Teka-teki taktik Albiceleste demi sang superstar Barcelona pun sudah terpecahkan

Meski tak terlalu cemerlang di Eropa, Fernando Gago bisa dibilang sebagai salah satu pemain terpenting Argentina dan tampil impresif selama babak kualifikasi. Kemampuannya untuk memberikan umpan-umpan dari lini tengah dianggap vital atas membaiknya penampilan Messi di level timnas. Untuk pendamping Messi, tak ada yang lebih baik selain Sergio Aguero dan Gonzalo Higuain yang tengah on fire di klubnya masing-masing. Argentina pun boleh bangga melangkah ke Brasil dengan sekumpulan penyerang terbaik di dunia.

Meski demikian, Sabella dihadapkan pada rawannya lini belakang mereka, terutama pada bagian bek sayap mereka. Pemain seperti Pablo Zabaleta sering hanya berkontribusi kecil dalam pertahanan. Sebelumnya, Argentina kerap memainkan tiga bek sekaligus, namun tak terlalu sukses. Dengan demikian, masih mungkin bagi para bek Argentina untuk bersaing meraih perhatian Sabella. Nama-nama seperti Nicolas Otamendi, Facundo Roncaglia, dan Lucas Orban berharap terus menembus skuat Piala Dunia.

Argentina juga tak punya kiper top selama beberapa tahun belakangan. Membaiknya performa Sergio Romero bisa menambal kekurangan ini. Namun, masih tak ada tanda-tanda di AS Monaco bahwa Romero akan mendapatkan kesempatan bermain, apalagi menjadi kiper utama. Ia baru sekali tampil bersama Monaco di musim ini, itupun di Piala Prancis. Sabella harus memperhatikan betul posisi penjaga gawang ini.

- Rupert Fryer


BELANDA - POTENSI DARI MINIM PENGALAMAN


Louis van Gaal, seperti biasa, terus menunjukkan rasa sukanya pada pemain muda disaat ia semakin menancapkan revolusi di tubuh Oranje. Belanda saat ini terdiri dari skuat yang berbasis pada pemain-pemain Eredivisie, seperti Daryl Janmaat, Stefan de Vrij, dan Luciano Narsingh yang belum kenyang pengalaman di Eropa.

Terbukti, ada kekurangan talenta-talenta top dalam skuat yang hanya dapat dikompensasikan dengan kehadiran para pemain andalan mereka, Arjen Robben dan Robin van Persie. Kedua penyerang ini sedang berada di puncak karier masing-masing. Robben dan Van Persie sekali lagi membuktikan cerita lawas Belanda yang tak punya penyerang muda berbakat.

Ketika Belanda kehilangan bola, mereka tampak kesusahan untuk menghadang lawan. Ini berarti, mereka tak punya pemimpin di lini belakang. Kegelisahan di lini belakang ini tak akan terbantu dengan terlalu seringnya mengganti para pemain di posisi tersebut, termasuk di posisi penjaga gawang. Empat kiper pernah tampil di babak kualifikasi: trio Liga Primer Inggris Michel Vorm, Tim Krul, dan Maarten Stekelenburg serta kiper Ajax Jasper Cillessen.

Kembalinya Nigel de Jong dari cedera serius menyuntikkan aspek pengalaman di lini tengah. Van Gaal sudah menegaskan bahwa dirinya memang berencana tampil di Piala Dunia dengan pemain muda ini. Dengan pemasalahan yang ada ini, ditambah dengan ego para pemain, Belanda punya segala potensi untuk tampil mengejutkan dengan pemain muda nan menjanjikan ini.

-  Stefan Coerts



ITALIA - WAJIB TEMUKAN FORMASI PASTI


Cesare Prandelli memang sukses meloloskan Italia, namun hal itu diraih tanpa formasi yang jelas. Selama satu tahun kalender ini, Azzurri tampil 18 kali dengan delapan formasi yang berbeda-beda dengan 4-2-3-1 sebagai formasi paling populer dan digunakan dalam empat kesempatan. Akibat formasi gado-gado ini, pertahanan kokoh khas Italia menjadi korbannya dan tampak mengalami degradasi.

Sejak dimulainya Piala Konfederasi pada Juni lalu, jawara Piala Dunia 2006 ini sudah kebobolan 21 gol dari 12 laga. Performa Gianluigi Buffon di musim ini tak terlalu memuaskan jika pemain belakang di depannya gagal menyaring serangan lawan. Selain itu, Prandelli juga masih mencari-cari trequartista berkualitas yang bisa berdiri di belakang duo strikernya.

Giuseppe Rossi sedang dalam reinkarnasinya setelah absen selama 18 bulan akibat cedera dan kini ia bisa menjadi kandidat peraih Sepatu Emas jika ia terus fit bersama Fiorentina. Partnernya yang moody, Mario Balotelli, masih diragukan keandalannya meski kemampuannya sudah tak diragukan lagi. Duet striker ini diprediksi bisa meledak di Brasil.

Ada kebersamaan yang tinggi di skuat ini dan aspek tersebut sangat penting di level internasional. Dengan komposisi para pemain sekelas Daniele De Reossi dan Andrea Pirlo di lini tengah, Italia masih punya kekuatan dahsyat. 

- Carlo Garganese



INGGRIS - KEGAGALAN SEPERTI BIASA?


Inggris berusaha keras untuk menyingkirkan label 'tim kecil' jika dibandingkan para unggulan lainnya. The Three Lions selalu mendapat hasil yang mengecewakan dan hasil yang sudah bisa diprediksi jika bertarung dengan para raksasa itu. Dan kegagalan lama yang sama akan muncul lagi. Mereka baru saja kalah dari Cili dan Jerman di Wembley selama sepekan ini. Fans kecewa sekaligus frustrasi dengan permainan biasa-biasa saja dari Inggris. Inilah cara bermain Inggris yang akan kita saksikan di Piala Dunia.

Meski memiliki gelandang yang melimpah, Roy Hodgson hampir selalu kesulitan dalam hal penguasaan bola. Bek-bek lebih senang melepas umpan-umpan panjang ke depan ketimbang membangun serangan dari tengah. Permainan Steven Gerrard, Frank Lampard, Jack Wilshere, dan Michael Carrick juga kerap tak konsisten. Formasi 4-4-2 mereka sudah dapat diprediksi lawan. Sudah 13 tahun berlalu, teka-teki penyatuan Lampard-Gerrard juga masih belum terpecahkan.

Ketika sebuah tim tak punya daya dobrak di lini depan, biasanya mereka punya lini pertahanan kokoh. Inggris bahkan tak punya keistimewaan ini. Ada kecenderungan Inggris selalu kebobolan dalam serangan-serangan balik dan umpan-umpan silang di saat formasi empat bek mereka masih belum jelas. Gary Cahill dan Chris Smalling secara jelas memperlihatkan lubang itu, sementara Kyle Walker belum menunjukkan permainan sesuai standar yang diinginkan. Satu tempat di bek kiri yang kokoh dalam satu dekade lebih, Ashley Cole, kini kekuatannya semakin berkurang. Posisinya bisa digeser oleh Leighton Baines.

Posisi kiper juga sama rumitnya. Joe Hart sedang dalam masa-masa paling buruk sepanjang kariernya. Dia harus tetap dipilih. Namun, Inggris bukanlah tim yang diselimuti dengan kekurangan-kekurangan tersebut. Jika mereka bisa memberi bola ke Andros Townsend, hal-hal yang diinginkan bisa terjadi. Ada juga potensi duet maut Wayne Rooney dan Daniel Sturridge jika mereka mendapat sokongan dari tengah. Jika tetap bermain dengan performa seperti sekarang ini, Inggris hanya bakal mencapai babak 16 besar atau paling tidak perempat final.

- Sam Lee


BRASIL - SKUAT PATEN DALAM TEKANAN BESAR


Luiz Felipe Scolari jelas tak dipusingkan dengan pemilihan skuat. Ia sudah mengantongi 20 nama pasti yang bakal tampil di rumah mereka sendiri. Fokus utama Scolari sejak penunjukkannya pada 2012 lalu adalah untuk menanamkan ikatan kuat antarpemain seperti yang sudah ia tunjukkan pada Piala Dunia 2002. Rasa kekeluargaan ini mudah terlihat, beberapa pemain mengklaim bahwa mereka sangat menikmati atmosfer di skuatnya.

Masih ada beberapa hal-hal kecil yang harus diberesi Brasuk agar bisa tampil  lebih sempurna. Kualitas bertahan Luiz Gustavo dan kemampuan Paulinho untuk naik-turun di lapangan telah membantu Brasil hanya menelan sekali kekalahan dari 17 pertandingan terakhir. Kedua pemain ini beberapa kali terlihat kesulitan ketika mencoba melakukan penetrasi ke depan dari belakang.

Duo gelandang tersebut memang punya banyak kemampuan, namun mereka tidak cukup memiliki kecerdasan dalam penguasaan bola ketika Brasil sedang dalam kondisi tertekan. Scolari lalu bereksperiman dengan memasukkan Hernanes, tetapi hal ini malah membuat lubang terbuka di lini tengah. 

Pekan ini, usai membekuk Honduras dan Cili, Scolari menyatakan bahwa Brasil merasa tak tertekan atau Brasil bisa menjadi juara dunia. Meski demikian, tekanan itu jelas ada ketika Brasil kembali tampil di kandang sejak tragedi Maracanazo. 200 juta rakyat Brasil tak mengharapkan apapun dari Neymar dkk. selain sebuah kejayaan.

- Rupert Fryer



PORTUGAL - KETERGANTUNGAN PADA RONALDO


Sebelum laga play-off melawan Swedia, Paulo Bento sempat mengatakan bahwa Portugal lebih dari sekedar Cristiano Ronaldo. Akan tetapi, dua leg tersebut sekali lagi belum membuktikan omongan sang pelatih. Seleccao terlihat tak punya kemampuan untuk menang dalam laga besar jika tanpa bintang Real Madrid itu. Kini, pertanyaannya adalah, di manakah posisi terbaik CR7 di timnas?

Sang kapten memang ahli bermain dari sayap kiri, seperti di Madrid, tetapi Portugal dalam beberapa tahun belakangan tak punya banyak striker berkualitas seperti Los Blancos. Helder Postiga dan Hugo Almeida terlihat kesulitan. Akan datang sebuah waktu saat Piala Dunia berlangsung, ketika Ronaldo membutuhkan sokongan dalam laga-laga besar dan Portugal tak punya striker top untuk membantunya. Jika tidak, Ronaldo sendiri yang akan tampil lebih ke tengah.

Jika hal ini terjadi, maka Portugal menaruh seluruh harapannya pada pundak Ronaldo seorang. Di tengah, Raul Meireles, Miguel Veloso, dan Joao Moutinho menjadi nama pasti. Ketiga pemain ini punya kemampuan dan keuletan dalam penguasaan bola. Hal ini mampu memberikan banyak opsi serangan sebelum bola jatuh pada kaki Ronaldo.

Mereka mungkin memiliki pertahanan yang lumayan bagus di babak kualifikasi, hanya kebobolan sembilan gol. Akan tetapi, fakta bahwa mereka kebobolan tiga gol dari Israel, dua dari Irlandia Utara, dan bahkan satu gol dari Luksemburg menunjukkan bahwa lini belakang mereka tak terlalu sulit di tembus. Meski Pepe dan Bruno Alves sudah menjadi duet paten selama beberapa periode, mereka masih belum terlalu meyakinkan. Jika ada terlalu banyak tekanan pada pertahanan, Seleccao bisa pulang lebih cepat dari Brasil.

- Kris Voakes



FRANCE - BUTUH PERSATUAN


Meski kebersamaan dan kekompakan Prancis terlihat ketika melakoni comeback fenomenal melawan Ukraina, mereka harus menunjukkan hal yang sama secara reguler dan terus menenrus. Semangat tim menjadi komposisi yang hilang dari Les Bleus sebelum muncul kembali di Paris untuk membalas kekalahan 2-0 di Kiev. Mereka seperti memanggil kembali roh kemenangan di Piala Dunia 1998. 

Beberapa hasil dari kualifikasi menunjukkan bahwa Prancis punya pemain berkualitas. Franck Ribery adalah contoh baiknya. Ia sempat frustrasi karena selalu tampil biasa-biasa saja ketika membela Prancis, berbeda dengan performa kelas dunianya bersama Bayern Munich. Meski demikian, sejak 2013 lalu, Ribery berhasil bangkit dan menjadi salah satu pemimpin pasukan Didier Deschamps.

Problem seleksi pemain juga ada. Dalam leg pertama melawan Ukraina, duet bek sentral Eric Abidal dan Laurent Koscielny gagal. Empat hari berselang, duo Mamadou Sakho dan Raphael Varane menggantikan mereka dan membantu mengantar Prancis ke Brasil, meski keduanya tak mendapat banyak tekanan. Deschamps harus segera memutuskan pemain utamanya. Patice Evra, yang beberapa waktu lalu menyebut Bixente Lizarazu sebagai parasit, diyakini sebagai titik terlemah dalam formasi empat bek. 

Tanda tanya besar juga menggantung di lini depan mereka. Apakah Karim Benzema mampu memimpin di lini depan. Sudah sejak lama striker Real Madrid ini menjadi harapan Prancis di lini depan, namun dia juga sering tampil mengecewakan. Olivier Giroud bisa menjadi andalan berikutnya di lini depan, meski sang bomber Arsenal ini juga tak terlalu istimewa.

- Robin Bairner



Goal hadir via ponsel dengan alamat m.goal.com.
Unduh juga aplikasi Goal secara langsung untuk OS ponsel Anda:
Apple iTunes
Apple iOS
Blackberry App World
Blackberry
Google Play
Android
Nokia OVI Store
Nokia
Windows Phone
Windows Phone

Terkait