thumbnail Halo,

Dalam rangka menyambut kedatangan tim nasional Belanda ke Indonesia, 7 Juni mendatang, Goal menyuguhkan lima legenda dari salah satu klub raksasa Negeri Kincir Angin, Feyeoord


OLEH    DEWI AGRENIAWATI


Seperti yang telah diuangkapkan dalam ulasan sebelumnya, kompetisi Belanda mengenal rivalitas segitiga yang melibatkan Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven dan Feyenoord Rotterdam atau yang dikenal dengan sebutan "De Grote Die".

Lima legenda dari dua tim terdepan, Ajax dan PSV, telah diulas Goal beberapa waktu lalu dan sekarang giliran Feyenoord, yang telah meraup 14 gelar kompetisi Belanda [sembilan di antaranya setelah kompetisi dengan format seperti sekarang, Eredivisie] atau yang paling sedikit dibandingkan dua rival lainnya, The Amsterdammers yang mengantungi 32 gelar [24 di Eredivisie] dan Boeren yang mengoleksi 21 titel [18 di Eredivisie].

Seperti dua rival lainnya, klub bermarkas di De Kuip ini kerap menelurkan sejumlah pemain dunia seperti Dirk Kuyt, Giovanni van Bronchorst, Henrik Larsson dan Robin van Persie. Tapi, siapa sajakah legenda yang benar-benar pernah mengharumkan nama klub yang berdiri pada 19 Juli 1908? Berikut lima nama pilihan Goal:


Feyenoord
WILLEM VAN HANEGEM

De Kromme
Nama Lengkap:

Tempat Lahir:
Tanggal Lahir:
Laga/Gol:
Willem van Hanegem
Brenkens
20 Februari 1944
298/90
De Kromme. Demikian label yang diberikan kepada Willem van Hanegem karena kemampuannya dalam mendribel bola dan memberikan umpan melengkung dengan kaki kiri bagian luar kerap mengundang kekaguman.

Van Hanegem merupakan salah salah pujaan Feyenoord di era 1960 dan 1970-an. Bagaimana tidak selama 20 tahun karier di dunia sepakbola, Van Hanagem menyabet berbagai gelar prestisius baik di kompetisi domestik maupun Eropa, semuanya bersama Feyeoord.

Di Belanda, dia dikenal sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Negeri Kincir Angin. Dianugerahi skill di atas rata-rata, Van Hanegan dikenal dengan passing fantastis dan kemampuan penguasaan bola. Inilah yang menjadi dasar mengapa publik setempat menamainya De Kromme karena kelincahannya meliuk-liuk mengecoh pemain saat melakukan sprint serta kemampuannya memberikan umpan melengkung.

Pria kelahiran 20 Februari 1944 ini tampil memukau bersama dua tahun membela Xerxes pada periode 1966-1968, setelah sebelumnya lulus dari akademi Velox SC. Dari sanalah Feyenoord melihat bakatnya sebagai pengatur lini tengah. Di awal musim 1968, Van Hanegem resmi berseragam De Trots van Zuid dan langsung memberikan gelar Eredivisie di musim perdananya. Van Hanegem juga berperan besar membawa Feyenoord berjaya di kompetisi Eropa dengan mempersembahkan gelar Piala Champions, Piala Uefa dan Piala Interkontonental.

Sayang, di level timnas pria yang pernah menukangi FC Utrecht tak mampu menyabet prestasi membanggakan. Pencapaian tertingginya adalah ketika membawa Belanda ke runner-up Piala Dunia 1974.

Van Hanegen juga secara terang-terangan menyatakan kebenciannya terhadap Jerman, yang dianggap bertanggung jawab atas kematian kedua orang tua serta saudara perempuan dan laki-laki saat terjadi perang. Van Hanegen bahkan menangis saat timnya gagal mengalahkan Jerman di Piala Dunia 1974.


Feyenoord
HENK SCHOUTEN

Striker Sembilan Gol
Nama Lengkap:
Tempat Lahir:
Tanggal Lahir:
Laga/Gol:
Henk Schouten
Rotterdam
5 Maret 1948
194/125
Salah satu nama yang terkenal dari Feyenoord di era 1950-an adalah penyerang asli Belanda, Henk Schouten. Mengawali karier dengan Excelsior Rotterdam, Schouten menyeberang ke Feyenoord.

Salah satu penampilan yang paling dikenal dari Schouten adalah saat sembilan golnya menghancurkan Volewijckers dengan skor telak 11-4 pada 2 April 1956. Saat itu, Feyenoord tengah menikmati musim kedua sejak kompetisi Eredivisie resmi diperkenalkan pada 1954/55.

Pria yang kini berusia 81 tahun memiliki peran kunci saat Feyenoord berjaya di kompetisi domestik dengan menyabet gelar Eredivisie dua musim beruntun pada 1961 dan 1962.

Scouten akhirnya hengkang dan kembali ke klub masa kecilnya, Excelsior pada 1963 sebelum akhirnya memutuskan pensiun dari dunia sepakbola empat tahun kemudian.

Meski memiliki peran signifkan bersama Feyenoord di awal kompetisi Eredivisie, Scoute tidak termasuk pemain langganan timnas. Dalam kurun waktu enam tahun, Schouten hanya dua kali mencicipi seragam Oranje dan tidak pernah mencetak gol.


Feyenoord
COEN MOULIJN

Ikon Sepanjang Masa
Nama Lengkap:
Tempat Lahir:
Tanggal Lahir:
Laga/Gol:
Coenraad Moulijn
Rotterdam
15 Februari 1937
487/84
Jika Ajax memiliki Johan Cruyff sebagai pemain terbaik, maka Feyenoord punya Coen Moulijn yang disebut-sebut sebagai ikon klub sampai saat ini. Cruyff bahkan mengaku mengidolakan pria yang meninggal dua tahun lalu akibat stroke.

Lahir di Blokland Street pada 15 Februai 1937, Moulijn remaja gabung dengan Xerxes, di mana dia melakoni debut pada 28 Februari 1954 bersama tim senior. Lalu pada musim panas 1955 Moulijn menyeberang ke rival sekota, Feyenoord. Selama 17 tahun berseragam De Stadionclub, Moulijn tampil di 487 pertandingan dan membukukan 88 gol dalam proses tersebut.

Pemain yang berposisi sebagai sayap kiri ini membawa Feyenoord lima kali menjadi kampiun Eredivisie, dua kali menyabet trofi KNVB, masing-masing satu di Piala Interkontinental, Piala Champions, dan dua kali di Piala Intertoto.

Pada 8 April 1956, ketika itu usia baru 19 tahun tapi dia sudah siap mengenakan seragam timnas Belanda. Sayang, tidak seperti penampilannya bersama klub, Moulijn justru hanya 38 kali mengecap pertandingan bersama Oranje. Banyak pelatih yang menolak memberikan tanggung jawab kepadanya karena mereka berpikir Moulijn bukan tipe pemain yang aktif mencari bola.

Moulijn melakoni laga perpisahan dengan Feyenoord pada 9 Juni 1972 melawan timnas Uruguay. Namun, meski memutuskan gantung sepatu Moulijn tetap rajin mengunjungi pertandingan Feyenoord di De Kuip sampai akhirnya meninggal dua dua tahun silam.


Feyenoord
PIERRE VAN HOOIJDONK

Eksekutor Free Kick
Nama Lengkap:



Tempat Lahir:
Tanggal Lahir:

Laga/Gol:
Petrus Ferdinandus
Johannes van Hooijdonk
Steenbergen
29 November 1969
98/60
Pierre van Hooijdonk memang tidak seloyal legenda-legenda di era sebelumnya. Tapi, dia tetap menjadi idola di hati fans Feyenoord meski hanya tiga tahun di De Kuip pada dua periode berbeda.

Bersama Feyenoord dia akan selalu diingat dengan kemampuan tendangan bebas dan menjadi bagian integral saat tim juara Piala Uefa musim 2001/02.

Dia mencetak dua gol di partai final dan penampilan impresifnya di musim itu membantu Feyenoord membekuk Freiburg, Rangers, PSV Eindhoven, FC Internazionale dan Borussia Dortmund.

Sebelum partai final versus Dortmund digelar, sekelompok fans Feyenoord meminta Black and White Brothers merekam sebuah lagu tentang tendangan bebas dan gol Van Hooijdonk yang kemudian menempati chart musik Belanda.

Di dua tahun pertama pada 2001-2003, Van Hooijdonk mengoleksi 52 gol dari 61 penampilannya bersama Feyenoord di semua kompetisi.

Pria 43 tahun ini kemudian memutuskan hijrah ke klub Turki Fenerbahce lalu balik ke Belanda di bawah naungan NAC Breda sebelum akhirnya menutup karier di Feyenoord di mana dia menambah delapan gol dari 37 pertandingan dalam setahun.


Feyenoord
GIOVANNI VAN BRONCKHORST

Legenda Tanpa Mahkota
Nama Lengkap:


Tempat Lahir:
Tanggal Lahir:
Laga/Gol:
Giovanni Christiaan van Bronckhorst
Rotterdam
5 Februari 1975
191/30
Legenda satu ini tidak hanya idola Feyenoord, tapi juga rakyat Indonesia. Maklum Giovanni van Bronckhorst merupakan pemain berdarah Maluku yang kesohor di Belanda.

Van Bronckhorst lahir di Rotterdam dan mulai bermain dengan tim amatir lokal, Linker Maas Oever saat usianya enam tahun, lalu bergabung dengan akademi Feyenoord di tahun berikutnya.

Pada 1990, saat usianya 15 tahun klub menawarinya kontrak profesional yang akhirnya dia terima. Mendapat gelar liga di kompetisi junior bersama Feyenoord, dia kesulitan menembus tim senior.

Pelatih kemudian memutuskan meminjamkannya ke RKC Waalwijk dan melakoni debut Eredivisie pada 1993. Dia kemudian kembali ke Feyenoord di musim 1994/95, namun ketika itu hanya menjadi penghias kursi cadangan dan hanya tampil di sepuluh pertandingan.

Tapi, pada 1995/96 menjadi musim mengesankan baginya. Van Bronckhorst tampil di hampir setiap pertandingan Feyenoord dan bermain dengan sejumlah nama seperti Regi Blinker dan Henrik Larsson.

Bersama Feyenoord pria kelahiran 5 Februari 1975 hanya kebagian dua gelar KNVB tapi gagal merusak duopoli PSV-Ajax di Eredivisie selama empat musim beruntun. Menyusul kepergian pemain mayor termasuk Larsson, Van Bronckhorst mencari petualangan baru dan akhirnya memilih gabung dengan Dick Advocaat (mantan pelatihnya di timnas Belanda U-16 dan U-18) di Rangers pada 1998.


Garuda vs. Oranje

Terkait