thumbnail Halo,
Brasil tampil di Piala Konfederasi 2013 dengan status tuan rumah sekaligus juara bertahan.

FOKUS Piala Konfederasi: Tantangan Luar Dalam Tuan Rumah Brasil

Brasil tampil di Piala Konfederasi 2013 dengan status tuan rumah sekaligus juara bertahan.

Di tengah kendala yang dihadapi tuan rumah Brasil, Piala Konfederasi digelar 15-30 Juni ini!


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter

Piala Konfederasi digelar mulai 15 hingga 30 Juni mendatang sebagai bagian dari persiapan Brasil untuk menggelar Piala Dunia 2014.

Persiapan tuan rumah dilanda banyak masalah, baik dari segi teknis maupun non-teknis. Pergantian pelatih dari Mano Menezes ke Luiz Felipe Scolari akhir tahun lalu memancing reaksi pro dan kontra. Menezes memang belum memuaskan, tetapi layak diberi waktu karena persiapan turnamen masih dapat dikejar. Di tangan Scolari, Brasil tertatih-tatih di sejumlah laga uji coba sebelum akhirnya memungkas persiapan Piala Konfederasi dengan membekuk Prancis 3-0.

Di atas lapangan, Brasil menghadapi tantang serius. Dua tamu Eropa, Spanyol dan Italia, datang dengan kekuatan terbaik. Sementara, tetangga mereka yang pernah menyebabkan tragedi Maracana, Uruguay, ikut hadir. Tiga tim lain merupakan langganan Piala Dunia, yaitu Jepang, Meksiko, dan Nigeria. Satu tim lain merupakan tim debutan yang kekuatannya tidak banyak dikenal, Tahiti.

Jadi, mulai akhir pekan ini mari kita berlatih kemampuan begadang menyaksikan pertempuran delapan tim dari setiap benua untuk memperebutkan trofi Piala Konfederasi.


GRUP A

Brazil Brasil Japan Jepang Mexico Meksiko Italy Italia
 
16 Juni
02:00
vs. Estadio Nacional, Brasilia
17 Juni
02:00 vs. Estadio Maracana, Rio de Janeiro
20 Juni
02:00 vs. Estadio Castelao, Fortaleza
20 Juni
05:00 vs. Arena Pernambuco, Recife
23 Juni
02:00 vs. Arena Fonte Nova, Salvador
23 Juni
02:00 vs. Estadio Mineirao, Belo Horizonte

Brasil - Tuan rumah menjadi favorit terdepan menjuarai Piala Konfederasi. Uniknya, Brasil juga berstatus sebagai juara bertahan turnamen setelah menyabetnya di Afrika Selatan empat tahun lalu. Meski Luiz Felipe Scolari masih bingung menerapkan formasi 4-2-3-1 atau 4-2-2-2, Brasil tampil lebih pragmatis tanpa menghilangkan jogo bonito yang dimiliki pemain muda cemerlang seperti Neymar dan Oscar. Turnamen ini menjadi kesempatan yang tepat bagi Selecao untuk membuktikan diri siap menggelar serta bertarung di Piala Dunia tahun depan.

Jepang - Jepang menjadi satu-satunya tim pada turnamen ini yang dipastikan akan kembali ke Brasil tahun depan, kecuali tuan rumah tentu saja, setelah sukses melalui kualifikasi Piala Dunia zona Asia pekan lalu. Samurai Biru rupanya tak mau muluk-muluk. Pelatih Alberto Zaccheroni menandaskan timnya mencari pengalaman bertanding di turnamen. Para pemain seperti Keisuke Honda, Shinji Kagawa, dan Yuto Nagatomo masih menjadi andalan tim. Jika tampil oke di turnamen ini, Jepang dapat membekali diri dengan kepercayaan diri tinggi menghadapi ajang yang sesungguhnya kelak.

Meksiko - Meksiko tim pelanggan Piala Konfederasi dengan Brasil 2013 menjadi partisipasi kelima mereka sepanjang sejarah. Pada 1999, Meksiko mengukir sejarah emas dengan menjuarai turnamen setelah menumbangkan Brasil di laga puncak. Sayangnya, Meksiko kali ini datang dengan kondisi pincang karena hanya mampu sekali menang sepanjang 2013. Hasil lebih banyak imbang di kualifikasi Piala Dunia zona Concacaf menempatkan pelatih Jose Manuel de la Torre dalam posisi yang tidak mengenakkan. Tersandung sedikit di turnamen ini, kursi De la Torre dipastikan kian goyang.

Italia - Spesialis turnamen seperti Italia meramaikan persaingan Piala Konfederasi tahun ini dengan pendekatan Cesare Prandelli yang berbeda dari kebanyakan bos Azzurri lainnya. Prandelli menugaskan para pemainnya untuk berani bermain menekan dan menguasai bola. Pola ini membawa Italia menembus final Euro 2013 dengan formasi 4-2-3-1 plus alternatif 3-5-2. Belakangan Prandelli juga mencoba formasi ofensif 4-3-3 sehingga penggemar boleh berharap duet pemain muda Mario Balotelli dan Stephan El Shaarawy menjadi salah satu warna semarak turnamen ini.


GRUP B

Spain Spanyol Uruguay Uruguay Tahiti Tahiti Nigeria Nigeria
 
17 Juni
05:00
vs. Arena Pernambuco, Recife
18 Juni
02:00 vs. Estadio Mineirao, Belo Horizonte
21 Juni
02:00 vs. Estadio Maracana, Rio de Janeiro
21 Juni
05:00 vs. Arena Fonte Nova, Salvador
24 Juni
02:00 vs. Estadio Castelao, Fortaleza
24 Juni
02:00 vs. Arena Pernambuco, Recife

Spanyol - Dalam lima tahun terakhir Spanyol menjadi tim favorit di mana pun mereka bermain. Pada Piala Konfederasi kali ini, Spanyol berstatus sebagai juara Piala Dunia sekaligus juara Euro edisi terakhir. Belakangan pasukan Vicente Del Bosque menerapkan taktik penyerang palsu, tetapi tidak mengurangi ancaman tim berkat segudang talenta yang dimiliki. Kekuatan mereka praktis tak berubah dengan pemain seperti Andres Iniesta dan Xavi Hernandez menjadi motor lini tengah, serta duet Sergio Ramos dan Gerard Pique di pertahanan. Satu-satunya perubahan besar adalah kemungkinan tampilnya Victor Valdes sebagai penjaga gawang utama karena Iker Casillas jarang dimainkan Real Madrid pada paruh kedua kompetisi La Liga.

Uruguay - Uruguay membangkitkan kejayaan masa lalu dengan menembus semi-final Piala Dunia 2010 serta menjuarai Copa America setahun berselang. Namun, mereka tiba di Piala Konfederasi dengan perasaan campur aduk karena keteteran di kualifikasi Piala Dunia. Setidaknya gol tunggal kemenangan yang diciptakan Edinson Cavani ke gawang Venezuela awal pekan ini memberikan ketenangan bagi La Celeste untuk menjalani turnamen. Pelatih Oscar Tabarez dikenal gemar meramu strategi sesuai dengan lawan yang dihadapi. Dia juga kerap memainkan strategi serangan balik. Waspadai pula duet Cavani dan Luis Suarez, belum lagi menyebut nama striker veteran Diego Forlan, yang pasti menggetarkan nyali lawan dalam setiap pertandingan.

Tahiti - Jujur saja, sebelum Piala Konfederasi orang-orang lebih mengenal Tahiti sebagai salah satu tujuan wisata di Samudera Pasifik ketimbang sebagai negara sepakbola. Kini, tim yang mayoritas diperkuat para pemain amatir ini memulai debut penampilan di Piala Konfederasi. Pengaruh Prancis sangat kental di negara kepulauan ini, seperti striker veteran Mahama Vahirua yang berpengalaman di Ligue 1. Saat menjuarai Piala Oceania tahun lalu, Tahiti mengandalkan kekokohan lini belakang dengan formasi 4-4-2. Keberhasilan itu bukan sebuah kebetulan karena tim U-20 mereka lebih dahulu mengukir sejarah dengan tampil di Piala Dunia U-20 2009.

Nigeria - Inilah tim yang paling akhir merebut tiket Piala Konfederasi melalui jalur juara Piala Afrika yang digelar awal tahun ini. Ini penampilan kedua Nigeria di ajang serupa setelah 1995. Elang Super membawa serta para pemain yang membawa mereka berjaya di Piala Afrika, antara lain seperti dua pemain Chelsea, John Obi Mikel dan Victor Moses. Sayangnya, persiapan tim terganggu protes pemain terhadap bonus sehingga mereka mengancam mogok. Di sini lah tugas pelatih Stephen Keshi sebagai figur yang dihormati pelatih maupun pengurus federasi untuk menjadi mediator sehingga kampanye Nigeria di Brasil tak terganggu.

*Waktu pertandingan disesuaikan dengan Waktu Indonesia Barat (WIB).

Jadwal, Hasil, Klasemen Piala Konfederasi 2013

Semua Berita Piala Konfederasi 2013

Bagaimana menurut Anda, siapakah calon kuat juara Piala Konfederasi? Ikuti jajak pendapat kami serta sampaikan komentar Anda di bawah ini!

GOAL.com hadir via ponsel dengan alamat m.goal.com.
Unduh juga aplikasi GOAL.com secara langsung untuk OS ponsel Anda:
Apple iTunes
Apple iOS
Blackberry App World
Blackberry
Google Play
Android
Nokia OVI Store
Nokia
Windows Phone
Windows Phone

Tendangan Bebas

Siapa juara Piala Konfederasi 2013?

Terkait