thumbnail Halo,

Untuk meraih kesuksesan di sepakbola era ini, seorang pelatih harus cerdik dan fleksibel untuk mengubah taktiknya sesuai dengan keadaan lawan dan skenario.


GOALOLEH ROBIN BAIRNER&CARLO GARGANESE PENYUSUN YUDHA DANUJATMIKA  Ikuti di twitter

Taktik mungkin bukanlah satu hal yang menarik saat berbicara soal olahraga paling populer di dunia ini, tapi tiga laga besar beberapa pekan lalu – Monaco vs. PSG, Liverpool vs. Arsenal, dan Manchester City vs. Chelsea – mendemonstrasikan betapa pentingnya sebuah strategi.

Minggu malam (9/2), dalam pertarungan puncak klasemen Ligue 1, bukanlah pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic dan James Rodriguez yang menentukan hasil akhir – melainkan pelatih Claudio Ranieri yang mempermainkan Laurent Blanc di babak kedua seiring Monaco sukses meraih hasil imbang 1-1.

Di babak pertama, les Parisiens tampak begitu digdaya. Mereka unggul lebih dulu lewat Javier Pastore yang menanduk bola ke gawang Monaco. PSG pun mendominasi lini tengah lewat Marco Verratti, Blaise Matuidi, dan Thiago Motta.

Babak pertama tim tamu menjadi kesempatan untuk mengatur ulang tim dan waktu jeda dimanfaatkan dengan baik oleh Ranieri. Pelatih asal Italia ini memilih untuk menarik keluar Lucas Ocampos yang lincah dan menggantinya dengan Geoffrey Kondogbia, yang berkombinasi dengan Jeremy Toulalan dan akhirnya mampu menandingi lini tengah yang sebelumnya didominasi PSG.

Sebagai balasam, Blanc gagal mengambil keputusan terbaik, memilih untuk menggantikan Pastore dan Verratti dengan Jeremy Menez dan Yohan Cabaye berurutan.

Pergantian yang dilakukan Monaco membuat mereka merajai lini tengah dan melepas permainan sayap – terutama sektor kanan – mendorong bek kanan&kiri untuk maju. Saat Pastore tampak ketat dalam penjagaan Fabinho, Menez tampak tak peduli dan menunjukkan adanya pergerakan lebih dari mantan pemain pinjaman Real Madrid itu, yang umpan silangnya memaksa Thiago Silva melakukan gol bunuh diri.

“Kami sedikit lalai di babak kedua,” ujar Matuidi pada Canal+. “Perubahan taktik mereka di lini tengah sangat berefek bagi kami karena Toulalan mendapat ruang lebih dan mampu mengorganisasi permainan.”

Dalam konteks Ligue 1, hasil imbang bukanlah hasil yang buruk bagi PSG, yang masih unggul lima poin dan merajai pagelaran ini, tapi laga kontra Monaco menunjukkan bahwa mereka masih harus membuktikan diri saat melawan klub-klub papan atas. Pasukan Blanc meraih hasil imbang dalam empat laga melawan empat besar klasemen dan menjelang Liga Champions, laga kemarin Minggu semakin membebani PSG dengan keraguan.

Pergantian taktik Ranieri dikombinasikan dengan keputusan fatal Blanc adalah contoh yang menunjukkan pentingnya campur tangan dari pinggir lapangan.


Sihir Mourinho | Mou sukses mengarsiteki kemenangan penting 1-0 atas Manchester City.


Sementara itu pekan sebelumnya, tangan magis Jose Mourinho membuat perburuan gelar Liga Primer semakin ramai dengan kemenangan 1-0 di kandang Manchester City. Tuan rumah telah mencatatkan rekor 100% menang di kandang sebelum menjamu Mourinho, tapi Manuel Pellegrini dipaksa untuk menelan pil pahit kekalahan oleh lawannya.

Mourinho beralih ke sistem 4-3-3, mengorbankan Oscar, dan memainkan tiga gelandang dengan fisik kuat dan permainan defensif: Ramires, Nemanja Matic dan David Luiz. Mereka yang bermain di sayap Eden Hazard dan Willian juga turun ke pertahanan dan memenuhi lini tengah dengan lima gelandang saat City menyerang. Kemudian, saat lawan memasuki jarak tembak, Chelsea menekan dengan buas dan meluncurkan serangan balik nan cepat. Pola ini sungguh menghancurkan City, terutama di babak pertama.

Pilihan Pellegrini memang terbatas karena cedera, tapi keputusannya untuk memainkan empat gelandang sejajar – dengan Martin Demichelis yang minim pergerakan dan Yaya Toure yang tak disiplin di lapangan tengah – malah jadi mainan di hadapan Mourinho. Terlalu mudah bagi Chelsea untuk bertransisi dan mematahkan City lewat serangan balik. Keunggulan 1-0 itu pantas mereka dapatkan, seiring percobaan Blues membentur mistar empat kali.

Akhir pekan lalu, Arsene Wenger mengalami 20 menit paling memalukan sepanjang karirnya di Arsenal seiring Liverpool memimpin 4-0 di Anfield. Bukan untuk pertama kalinya, pria Prancis itu dikelabui oleh lawannya.

Brendan Rodgers mendeskripsikan pesta 5-1 itu “brilian secara taktik” – dan memang begitulah adanya. Empat peluru Liverpool, Raheem Sterling, Philippe Coutinho, Daniel Sturridge, dan Luis Suarez bertukar posisi secara konstan, berkombinasi dengan Jordan Henderson dalam penyerangan sisi yang dijaga Nacho Monreal dan menyerang semua kelemahan Arsenal. Per Mertesacker yang lambat dan kaku ditarik dari posisinya, sementara gaya main Laurent Koscielny yang memberikan tekanan tinggi malah jadi bunuh diri karena Steven Gerrard dkk memanfaatkannya dengan umpan terobosan.

Rodgers telah mempelajari Arsenal dengan cermat sebelum kick-off dan menerapkannya pada taktik Liverpool. Wenger yang tak pernah mengganti gaya mainnya, mengirim pasukan Gunners dengan strategi yang biasa ia lakukan. Manajer Manchester United David Moyes juga bisa dikritik karena menolak untuk mengganti gaya mainnya saat United meraih hasil imbang 2-2 dengan klub dasar klasemen Fulham, di Old Trafford. Saat itu United ngotot memborbardir lawan dengan umpan silang, terlalu keras kepala dan memaksakan karena hasilnya begitu minim.

Untuk meraih kesuksesan di sepakbola era ini, seorang pelatih harus cerdik dan fleksibel untuk mengubah taktiknya sesuai dengan keadaan lawan dan skenario. Dalam tiga laga besar pekan-pekan lalu, Blanc, Wenger, dan Pellegrini keluar sebagai pecundang dalam konteks ini. Mourinho, Rodgers, dan Ranieri jadi pemenangnya.

Liga Primer Inggris >> Halaman Khusus Sepakbola Inggris
>> Berita Sepakbola Inggris Lainnya
>> Semua Klub EPL & Panduan 2013/14
>> Klasemen Liga Primer Inggris
>> Jadwal & Hasil Liga Primer Inggris
>> Daftar Transfer Liga Primer Inggris
>> Rapor Pemain Liga Primer Inggris


Terkait