thumbnail Halo,

Menurut Thuram, pendidikan merupakan kunci untuk mengatasi rasisme di lapangan hijau.


OLEH  SANDY MARIATNA      Ikuti @fasandym di twitter

Mantan bek Juventus dan Barcelona Lilian Thuram kurang setuju dengan anggapan jika rasisme adalah masalah yang tidak dapat disembuhkan di sepakbola.

Baru-baru ini, isu rasisme kembali mencuat setelah striker AC Milan Mario Balotelli mendapati ejekan monyet dari suporter saat melawan AS Roma. Di Turki, bomber Galatasaray Didier Drogba yang mendapati perlakuan serupa dari fans Fenerbahce.

“Menurut opini saya, rasisme di Italia sama buruknya dengan daerah lain. Saya pernah tinggal di sana dengan tenang. Saya punya banyak teman di Parma dan Turin dan selalu senang setiap kali kembali ke sana,” ujar Thuram yang saat ini sedang mendirikan yayasan untuk mengatasi rasisme.

“Saya tidak takut akan mereka, sebab jumlah mereka hanya sedikit. Terlebih, ada isu lain yang lebih mengkhawatirkan saya. Contohnya, ketika ada seorang pelatih Prancis berbicara dengan jatah tertentu kepada pemain berkulit hitam dan pemain asal Arab. Ide semacam itu lebih buruk dari ejekan rasisme,” jelasnya.

Menurut Thuram, isu rasisme ini dapat berubah dengan cepat. Ia mencontohkan politik apartheid di Afrika Selatan. Sejak Nelson Mandela menjad presiden pada 1994, isu rasisme secara cepat bisa hilang dan politik apartheid pun dihapuskan.

“Rasisme bukanlah penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Pendidikan adalah kuncinya [untuk menghilangkan rasisme]. Itulah mengapa saya berkomitmen [untuk mendirikan yayasan anti rasisme]. Cepat atau lambat, bahkan Prancis pun akan memiliki seorang ‘Barack Obama’,” pungkasnya.


Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait