thumbnail Halo,

Di Matteo pergi, Benitez datang, dan Torres seakan-akan berada di antaranya. Dapatkah duo Spanyol ini kembali menemukan chemistry-nya? Lalu, ada cerita dari lini kedua Real Madrid


OLEH  SANDY MARIATNA     Ikuti Sandy Mariatna di twitter

Dipecatnya Roberto Di Matteo tentu mengagetkan beberapa pihak. Pemecatannya tentu tidak sesuai dengan apa yang diraihnya musim lalu. Namun, inilah sepakbola. Kejam, namun tetap memabukkan jutaan penggemarnya. Bola tetap harus berputar dan Chelsea telah menunjuk salah satu pelatih yang disebut-sebut mampu membawa kembali ketajaman seorang Fernando Torres. Benarkah?

Romantisme ala Rafa-Torres

Praduga (tak) bersalah itu bernama Fernando Torres. Sebelum bergabung ke Stamford Bridge, El Nino adalah striker yang paling ditakuti di Inggris dan Eropa. Insting dan ketajamannya mampu membuat para bek Liga Primer Inggris harap-harap cemas setiap kali Torres menggiring bola. Namun, ceritanya berbeda sejak berseragam The Blues pada Januari 2011 silam yang dibeli dengan banderol £50 juta.

Penyebabnya? Mungkin karena tekanan berlebih yang dibebankan kepadanya atau justru karena tiadanya figur bapak seperti yang ia dapatkan di Liverpool. Kini, sang bapak itu telah kembali. Di Anfield, Rafael Benitez dianggap sebagai pelatih yang mampu membawa Torres mencapai titik puncaknya, sampai ia dipecat pada Juni 2010. Inilah cerita yang ingin diulangi oleh Roman Abramovich.

TORRES LIVERPOOL vs. TORRES CHELSEA

2007-2011 TAHUN
2011-...
142 PENAMPILAN 88
81 GOL
19
0,57 RATAAN GOL PER PERTANDINGAN 0,21

Bersama Benitez, penyerang berusia 28 tahun ini menorehkan catatan 56 gol dalam 79 pertandingan. Tentunya, Rafa sudah pasti mengenal kekuatan dan kelemahannya lebih baik dari siapapun. Namun dua pertandingan terakhir melawan Manchester City (25/11) dan Fulham (29/11), perpaduan Torres-Rafa hanya menghasilkan dua poin dan tanpa gol. Masih belum muncul tanda-tanda romantisme itu.

Pasca pertandingan pertamnya melawan City akhir pekan lalu, Rafa pun berujar soal Torres, “Anda bisa lihat sendiri ia [Torres] berusaha dengan sangat keras. Tapi, saya pikir tim perlu membantu Fernando dan menciptakan lebih banyak peluang sehingga ia bisa mencetak banyak gol. Anda tidak bisa hanya berharap striker mencetak gol dengan caranya sendiri.”

Tak ada jaminan bagi Torres untuk terus mendapatkan tempat utama, meski Benitez telah ada. Bahkan Opta mencatat, persentase kemenangan Chelsea di EPL hanya sebesar 44 persen ketika mereka memasang Torres. Sebaliknya tanpa Torres, The Blues justru memiliki persentase 63 persen. What do you think, Rafa?

GAGAL DI ITALIA
Kompetisi
M S K % Menang
Serie A Italia 6 5 4 40%
Liga Champions 3 1 2 50%
Piala Dunia Antarklub 2 0 0 100%
Supercoppa Italia 1 0 0 100%
Uefa Supercup 0 0 1 0%
TOTAL 12 6 7 48%

Benitez di FC Internazionale

Meski mampu membawa sang juara Eropa menjadi juara dunia plus raihan Supercoppa Italia Super pada 2010 silam, Benitez tidak memiliki konsistensi kemenangan ketika melatih FC Internazionale. Keraguan itu sudah muncul saat Benitez ditunjuk manajemen Nerrazurri setelah tujuh hari yang lalu dipecat dari Liverpool. Ia hadir di saat yang tak tepat: di bawah bayang-bayang Jose Mourinho.

Sekembalinya juara Piala Dunia Antarklub di Abu Dhabi, Inter mengalami penurunan drastis. Mereka tertinggal 13 poin dari pemimpin klasmen sementara, AC Milan, dan bercokol di posisi 8. La Beneamata mulai kecolongan poin dari tim-tim seperti Lecce, Brescia, Parma, dan Chievo.

Massimo Morrati yang terkenal ‘ringan tangan’ dalam urusan pemecatan pelatih, tentu tak segan untuk memecat Rafa. Moratti juga pasti telah melihat catatan yang diraih oleh Benitez selama kurang dari tujuh bulan melatih Inter.

 

Lemahnya lini kedua El Real

Sementara itu, terdapat salah satu faktor penyebab performa Real Madrid tak sebaik musim lalu. Apa yang terjadi jika bomber-bomber papan atas El Real semacam Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, Gonzalo Higuain, dan Angel Di Maria tidak mampu membuka rekening golnya? Tentunya, mereka harus dibantu oleh lini kedua yang muncul dari lapangan tengah.

TUMPULNYA LINI KEDUA MADRID
Pemain

Xabi Alonso
Michael Essien
Sami Khedira
Luka Modric
Mesut Ozil
Jumlah Pertandingan

19
11
13
16
20
Gol

0
1
1
1
2

Kekalahan 1-0 atas Real Betis akhir pekan lalu sekali lagi menandakan lemahnya para gelandang Real Madrid untuk membantu para penyerang dalam urusan mencetak gol. Hal yang sama terjadi saat Los Blancos bermain imbang 1-1 melawan Manchester City di Liga Champions tengah pekan lalu.

Xabi Alonso belum mencatatkan golnya di musim ini dan pekan lalu gagal mengekseskusi penalti melawan Levante. Mesut Ozil memang sudah mencetak 19 gol dari 123 penampilannya bersama Madrid, namun playmaker Jerman itu baru mencatatkan dua gol di musim ini. Sami Khedira yang bermain sedikit ke dalam, baru mencatatkan satu gol. Sang pemain baru, Luka Modric dan Michael Essien juga masih belum bisa diandalkan sebagai second role.

Jose Mourinho harus memutar otak agar bisa terus bersaing dengan Barcelona yang superior di La Liga. Iker Casillas dkk kini sudah tertinggal 11 poin dari sang rival abadinya itu. Hanya mengandalkan penyerang belum cukup untuk mencetak gol jika lini kedua mereka masih belum mampu menjukkan tajinya seperti pada musim lalu.



Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait