thumbnail Halo,

Musim depan, tiada lagi pria tua yang berdiri tegang di pinggir lapangan hijau sambil mengunyah permen karet. Jurnalis Gerry Cox menceritakan pengalamannya dengan Ferguson.


OLEH   GERRY COX            PENYUSUN   SANDY MARIATNA    

Setiap orang punya pandangannya masing-masing tentang Sir Alex Ferguson. Sebagai contoh, The Sun menampilkan gambar hairdryer yang digantung di cover depannya. Tapi, ada sisi lain yang bisa dikulik dari pria yang sudah berjibaku bersama Manchester United selama lebih dari 26 tahun ini.

Sepakbola memang membagi opini para fansnya dengan sangat tajam. Fans biasanya melihat hitam atau putih suatu isu. Bagi penggemar United, mereka melihat pesona Fergie seperti perwujudan Tuhan. Sebaliknya, orang lain menganggapnya sebagai jelmaan monster. Tapi sebenarnya, dia punya karakter yang lebih kompleks. Hanya sedikit orang yang mampu melihat karakter lain yang dipunyainya.

Merekalah para pemain dan stafnya, orang-orang yang bekerja dengannya selama bertahun-tahun dan selalu memanggilnya dengan sebutan ‘Bos’. Ada juga jurnalis yang juga dipercayainya dan saya merasa beruntung menjadi salah satu di antaranya. Saya tidak mengklaim sebagai teman dekatnya dan saya tidak bermaksud untuk menganalisis psikologinya, karena ada orang lain yang lebih pantas melakukannya.

Begini ceritanya. Saya pernah dua tahun menjadi ‘ghost writer’-nya, membantu dia menulis kolom mingguan bagi surat kabar lokal di Inggris pada awal tahun 1990-an, tahun-tahun sebelum United bertransformasi secara luar biasa.

Pekerjaan ini cukup mudah. Meneleponnya pada hari Minggu (setelah pertandingan hari Sabtu), menuliskan buah pemikirannya, lalu mengirimkannya lewat fax ke sekretariat kantor klub untuk persetujuan, sebelum akhirnya mempublikasikannya ke pers.

Ia hampir tidak pernah mengubah tulisan itu dan hanya sesekali mengoreksi fakta-fakta yang saya salah artikan. Kami memiliki hubungan yang baik. Terbantu dari fakta bahwa kami memiliki latar belakang sama: seorang pekerja dan pembelajar.

Akan tetapi, hal terbesar yang mempersatukan kami adalah kecintaan kami terhadap sepakbola. Ketika berbicara dengannya, Anda tidak mungkin mengelak bahwa dia punya rasa cinta akan sepakbola yang mengakar di dalam dirinya dan punya pengetahuan yang komprehesif tentang sepakbola. Kami juga tidak hanya membicarakan United. Dia berbicara banyak mengenai topik-topik hangat tentang tim dan pemain hebat yang mempengaruhi pemikirannya. Dia pernah menyaksikan final Piala Champions ketika Real Madrid mengalahkan Eintracht Frankfurt di Hampden Park, dan berbicara tentang dampak yang dilakukan Alfredo Di Stefano dkk.

Idola pertamanya adalah Dave Mackay, pemain legendaris Skotlandia yang membawa Tottenham Hotspur meraih double pada tahun 1960-an. Ferguson muda terkesan dengan kombinasi yang dipunyai Mackay:  kekuatan fisik, teknik brilian, keberanian, dan mampu mengatasi cedera untuk meraih performa puncak. Ferguson selalu membandingkan Mackay dengan Roy Keane. Ketika Ferguson masih bermain, dia pernah berhadapan dengan Mackay. Fergie mengatakan, dialah lawan terkuat yang pernah ia temui.

Beberapa tahun kemudian, Ferguson menuliskan kata pengantar dalam biografi Mackay. Di ruang kerjanya, Fergie juga memiliki gambar Mackay yang sedang menarik kaus Billly Bremner. Ia juga masih menjalin kontak dengan keluarga Mackay. Kemarin, saya berbicara kepada Dave dan istrinya Isobel. Mackay bercerita bahwa Fergie sudah berbicara dengannya setahun yang lalu perihal rencana pensiunnya di musim panas ini.

Di sanalah tedapat rasa saling percaya dan saling respek. Itulah kunci bagi siapapun yang ingin mengenal Ferguson lebih dekat. Anda harus memenangkan kepercayaanya. Saya membutuhkan beberapa bulan sebelum akhirnya mendapatkan rasa hormat darinya.

Pada awal tahun 1990, ia sudah empat tahun di Old Trafford dan belum memenangkan apapun. Saat itu, ia hampir dipecat. Kemenangan di final Piala FA pada tahun itu lalu menjadi titik baliknya. Tetapi, kejayaan yang sesungguhnya terbentang di tahun-tahun berikutnya. Memang sulit bagi kebanyakan orang untuk memahami cara yang dilakukan Ferguson untuk mengubah peruntungan United menjadi salah satu klub terkuat dan tersukses di dunia selama 26 tahun terakhir ini.

Ketika menggantikan Ron Atkinson pada 1 November 1986, langkah pertama yang ia lakukan adalah merombak seluruh sistem di klub. Dia tak suka adanya pemain yang berkelompok sendiri. Jadi Fergie menyingkirkan mereka. Agen pemain dan jurnalis juga wajib menjauhi kamp latihan, pemain seperti Norman Whiteside dan Paul McGrath dijual, dan ia membawa pemain muda.

Pada waktu itu, dia mengatakan kepada saya bahwa sistem akademi di klub sangat kacau. Anak-anak lokal terbaik Manchester lebih memilih Oldham Athletic atau Manchester City ketimbang United. Dia pun langsung membuat jaringan pemandu bakat yang komprehensif di seluruh Inggris Raya. Hasilnya, kita bisa melihat dekade kesuksesan dari generasi emas semacam Scholes, Giggs, Beckham, Butt, dan Neville bersaudara.

Dia lalu bercerita kepada saya tentang pengalamannya menjadi pemandu bakat. Ketika mengamati Lee Sharpe di Torquay, dia menggunakan penutup muka balaclava dan mengenakan kacamata hitam. Jika seseorang mengetahui Fergie sedang mengamati pemain muda, maka harga Sharpe akan membumbung tinggi. Pada akhirnya, dia berhasil mendapatkan Sharpe dan menjadikannya sebagai supserstar pertama dalam era Liga Primer Inggris.

Dia tak punya banyak waktu dengan pers besar yang selalu mengikuti United, namun ia mengaku senang dengan wartawan muda seperti saya. Saat itu Euro 1992 di Swedia, dia tiba-tiba mengadakan konferensi pers di Denmark ketika kiper anyarnya Peter Schmeichel bermain. Ketika kami  sedang mengobrol, seorang komentator Radio 5 Alan Green ingin meminta maaf atas kesalahannya karena pernah berselisih paham dengan Fergie. Fergie tak menggubrisnya dan hanya berkata, “Maaf, saya sedang mengobrol dengan sobatku.” Lalu ia berbalik kepada saya sambil mengedipkan mata!

Sisi kemanusiaanya hadir ketika dia berbicara tentang orang muda, terkhusus para pemain atau manajer muda yang sedang meniti kariernya. Bahkan, setiap manajer muda mengaku mendapat telepon pertama dari Fergie yang mengucapkan good luck dan siap memberikan bantuan dan nasihat. Dia juga bangga dengan anaknya, Darren Ferguson, yang saat itu pemain United dan melakukan kegiatan amal di panti asuhan Rumania. Dia selalu meyakinan pemainnya untuk menjadi seorang family men, dan terkenal kerap menasihati para pemain yang masih single.  Dia pekerja keras, menjadi orang yang pertama kali hadir di kamp latihan. Dia juga pribadi yang jujur dan loyal.

Sekarang, saya sudah jarang bertemu dengannya. Namun ketika bertemu, dia selalu berujar, “Senang bertemu denganmu, anakku.”  Saya berharap bertemu dengannya lagi di League Manager Association Awards 2013. Saya yakin dia menjadi pemenangnya.

Dia telah berubah banyak, seperti halnya kita semua, dan terutama sepakbola yang kita cintai ini. Tetapi satu hal yang tetap tidak berubah: Alex Ferguson adalah pria luar biasa dan kita tidak akan pernah melihatnya lagi.

Ikuti perkembangan terkini sepakbola Inggris di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Liga Primer Inggris lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Inggris.

Terkait