thumbnail Halo,

FOKUS: Michael Owen, Pertama Dipuja Kini Disia-Sia

Kisah seorang pencetak gol yang dahulu hebat ini pantas mendapatkan akhir lebih baik.


OPINI   BEN HAYWARD     PENYUSUN   DEDE SUGITA    

Mungkin tak salah jika mengatakan dia telah menjadi pria terlupakan di sepakbola. Michael Owen mengumumkan pensiun dari permainan profesional pada Selasa, menutup tirai karier yang mencapai level tinggi pada tahun-tahun awal, tapi menurun drastis sejak dia meninggalkan Liverpool pada 2004.

Pilihan karier bisa melambungkan atau mengempaskan pesepakbola, dan ketika Owen memilih meninggalkan Anfield untuk bergabung dengan Real Madrid pada 2004, itu menandai awal dari kemerosotannya, dan pada akhirnya, ia tak pernah mampu bangkit.

Sang striker menikmati delapan musim gemilang di Anfield, mengemas 158 gol dalam 297 laga dan membintangi tim yang memenangi treble piala pada 2001, kejayaan yang secara mengejutkan membawanya menyabet Ballon d'Or. Namun ketika Gerard Houllier dipecat sebagai pelatih pada 2004, dia memutuskan untuk pindah ke Madrid, antusias dengan prospek mengikuti jejak mantan rekan setim di Reds, Steve McManaman, yang memenangi dua medali Liga Champions semasa berkarier dengan raksasa Spanyol itu.

Tapi tak ada trofi Liga Champions untuk Owen di Madrid. Justru Liverpool yang memenanginya dengan comeback epik melawan AC Milan pada 2005, ketika mereka berjuang dari ketertinggalan 3-0 untuk menang lewat adu penalti. Sang striker bisa saja dan mungkin seharusnya menjadi bagian dari sukses itu. Malang, ia malah mengalami stagnasi di bangku cadangan Bernabeu.

KARIER KLUB MICHAEL OWEN
 LIVERPOOL (1996-2004)

Membuat debut di usia 17 tahun untuk The Reds, Owen secara total mengemas 158 gol dalam 297 partai, mengumpulkan lima trofi, termasuk treble piala pada 2001.
 REAL MADRID (2004-05)

Musim tunggal sang striker di Spanyol menghadirkan 16 gol dari 41 laga, termasuk satu gol clasico, tapi ia menghabiskan mayoritas waktunya di bangku cadangan Bernabeu.
 NEWCASTLE UNITED (2005-2009)

Newcastle mendatangkan kembali Owen ke Inggris, tapi empat musimnya dengan klub diganggu oleh dua cedera serius. Dia mencetak 30 gol dalam 79 partai buat Magpies.
 MANCHESTER UNITED (2009-2012)

Kepindahan Owen ke United mengesalkan fans Liverpool dan mengejutkan kalangan lainnya. Dia mengoleksi tiga trofi, tapi hanya mencetak 17 gol dalam tiga musim yang dipenuhi cedera.
 STOKE CITY (2012-13)

Pemain 33 tahun ini hanya mencetak satu gol dalam tujuh penampilan dengan tim besutan Tony Pulis dan impaknya sekali lagi terbatasi oleh cedera hamstring.
Owen berusaha merebut hati fans Real dan media Madrid dengan membicarakan legenda klub, Paco Gento, pada presentasinya dan rasio gol per laganya di La Liga lebih tinggi dari pemain lain mana pun di musim tersebut. Akan tetapi, seperti Fernando Morientes sebelum dirinya, ia tak mampu menggeser duet Raul-Ronaldo dari starting line-up.

Owen juga dikritik di Spanyol karena permainan all-round-nya, dan pers lokal memandangnya tak lebih dari sekadar poacher cepat. Dalam satu laporan pertandingan, Marca mengambil langkah tak biasa dengan tak memberinya nilai rapor pemain. "Mustahil untuk menilai performa Michael Owen," demikian menurut koran olahraga tersebut. "Antara dia mencetak gol, atau tidak mencetak gol."

Serangkaian cedera hamstring di Liverpool telah menghambat sang penyerang dan dia telah kehilangan kecepatan eksplosif yang mengantarnya menyeruak di panggung internasional dengan gol spesialnya kontra Argentina di Piala Dunia 1998.

Ada momen-momen positif pula buatnya di Madrid, dan dia diingat sebagai pemain bagus oleh kebanyakan Madridistas. Namun, sayangnya dia bergabung dengan tim yang tengah dalam penurunan dan tak ayal diperbandingkan dengan generasi Galactico yang bergabung lebih dulu. Dan sebagus apa pun dirinya sebagai pemain, jika menyangkut Galactico Owen tak bisa dikomparasikan dengan Luis Figo, Zinedine Zidane, Ronaldo, atau bahkan David Beckham.

Kecewa dengan kehidupan di bangku cadangan, Owen bergabung dengan Newcastle pada musim panas 2005, hanya untuk menghabiskan periode panjang di ruang perawatan selama bertahun-tahun berikutnya. Setelah start yang amat menjanjikan dalam kariernya di St. James' Park, sang striker menderita patah metatarsal menghadapi Tottenham pada Desember dan kembali pada akhir musim, tepat waktu untuk Piala Dunia 2006.

Sang pemain bekerja amat keras untuk memperoleh kebugaran penuh demi tampil di Jerman, tapi setelahnya berkata ia semestinya tinggal di rumah saja. Ia memproduksi dua performa mengecewakan kontra Paraguay dan Trinidad & Tobago, sebelum mengalami cedera anterior cruciate ligament hanya 51 detik pascasepak mula dalam laga pamungkas grup, versus Swedia.

Cedera itu memaksanya absen beraksi selama nyaris setahun dan dua musim terakhirnya di Newcastle diwarnai problem konstan yang kemudian diungkapkannya berhubungan dengan cedera di Piala Dunia, termasuk robekan otot paha dan betis dan dobel hernia yang membutuhkan operasi.

Dia membiarkan kontraknya habis di Newcastle, yang terelegasi, dan perusahaan manajemennya mengirim berkas 34 halaman kepada klub-klub Liga Primer pada musim panas 2009, dengan harapan salah satu di antara mereka bersedia merekrutnya. Dan pada akhirnya, Owen bergabung dengan klub tersukses di antara mereka semua seiring langkahnya merapat ke Manchester United dalam kesepakatan mengejutkan yang membuat kesal fans Liverpool, di mana banyak dari mereka melupakan sang mantan pujaan.

Di Old Trafford, Owen menikmati sejumlah performa apik, contohnya hat-trick pertama sejak 2005 dan gol kemenangan dramatis dalam derby Manchester kontra City yang berkesudahan 4-3 untuk United. Pada titik ini, sang striker tampak bakal menemukan lagi kegemilangannya di Inggris, tapi cedera hamstring di final Piala Liga menghadang upayanya kembali ke puncak performa dan dua musim berikut berjalan tak berbeda, dihiasi oleh rentetan problem kunci paha dan paha.

Bagi United, dia sekadar pemain berandil kecil dan berada di belakang pemain-pemain lainnya dalam susunan tim dan hanya sedikit fans yang sedih melihatnya pergi musim panas tahun lalu. Bagaimanapun, kepindahannya telah menodai statusnya dengan suporter Liverpool, yang tak pernah begitu mengenangnya dalam hati seperti beberapa pemain lain, contohnya Steven Gerrard dan Robbie Fowler. Sementara buat Madrid, dia tak lebih dari seorang Galactico tingkat dua dengan kemampuan mencetak gol, sedangkan Newcastle tak pernah banyak melihatnya dalam empat tahun kariernya di klub dan dibuat kesal oleh proses kepergian dan keengganannya untuk berkomitmen dengan klub.

Akan tetapi, rekornya bersama timnas Inggris tetap mengilap, dengan 40 gol dalam 89 penampilan, ia menghuni peringkat keempat dalam daftar pencetak gol sepanjang masa Three Lions. Owen mencetak gol dalam empat turnamen mayor untuk Inggris tapi ketika negaranya tersebut amat membutuhkannya, ia tak mampu mereplika performa awalnya yang eksplosif pada 1998. Dan penampilan terakhirnya dengan Inggris didapat pada 2008. Sekarang tak akan ada lagi kesempatan buatnya.

Jadi, saat ia menggantung sepatu pada musim panas nanti, hanya sedikit fans yang akan merindukan Michael Owen. Banyak yang bahkan tak akan menyadari dia telah pergi. Lagipula, dia memang relatif jarang terlihat dalam beberapa tahun terakhir, dan jika gagal kembali untuk Stoke menghadapi Everton minggu depan, itu akan menjadi laga tingkat klub ke-250 yang dilewatkannya sejak bergabung dengan Newcastle pada Agustus 2005. Ini akhir sedih bagi sebuah karier hebat karena kesalahan penanganan masalah cedera terus merusak tubuh rapuh sang penyerang. Kisah seorang pencetak gol yang dahulu hebat ini pantas mendapatkan akhir lebih baik.



GOAL.com hadir via ponsel di alamat m.goal.com.
Unduh juga aplikasi GOAL.com secara langsung untuk OS ponsel Anda:


Terkait