thumbnail Halo,

Bayern Munich berpeluang menjadi satu-satunya tim dalam sejarah Liga Champions yang mampu juara di tanah sendiri. Yah, sekarang atau tidak sama sekali!

"Di musim 2012 ini, final Liga Champions akan diselenggarakan di Allianz Arena. Dan kami ingin berada di sana!"

Kalimat tersebut keluar dari mulut presiden Uli Hoeness jauh sebelum klub lolos ke final. Dan terbukti, ucapannya itu memang benar adanya kalau klub benar-benar sanggup melaju sampai partai puncak. Luar biasa!

Yah, Sabtu ini, atau Minggu (20/5) WIB, adalah hari di mana kota Munich, selaku tuan rumah, akan menjadi panggung pertaruhan gelar juara yang mementaskan dua tim tersohor di Eropa, Bayern Munich dan Chelsea. Bagi kedua tim, kemenangan adalah sebuah pencapaian yang tak ternilai harganya, apalagi bagi Bayern, yang sudah bertahun-tahun tak lagi menambah koleksi gelar Eropa, sekarang atau tidak sama sekali mereka mencap tanda prestasi terbaru dalam sejarah. Sementara Chelsea bisa menjadikan edisi sekarang sebagai debut titel mereka di ajang terbaik Seantero Benua Biru ini.

Penuh lika-liku

Bila mengulang musim panas 2009, ada keyakinan di kubu Bayern: klub memiliki skuad yang tangguh, dan ditangani oleh pelatih kelas dunia di diri Louis van Gaal. Mentor asal Belanda ini diyakini dapat memberi klub rencana yang jelas serta keberhasilan yang telah lama sirna di level internasional. Setelah menjalani periode percobaan bersama Jurgen Klinsmann, klub memtusukan untuk memakai seorang profesional yang berpengalaman.

Namun apa hasilnya, hal yang telah diekspektasikan tidak berjalan sesuai harapan. Bayern terbilang beramain amburadul di awal musim. Lalu masuklah Arjen Robben, emergensi transfer dari Real Madrid, dan van Gaal perlahan bisa menstabilkan kondisi tim. Bayern ketika itu amat sangat membutuhkan kemenangan di Turin untuk meloloskan mereka ke fase knockout, dengan kemenangan 4-1 atas Juventus, akhirnya Bayern pun seperti telah membuka lembaran baru. Robben dan Ivica Olic mampu tampil menggebrak dan sang breakout star, Thomas Muller, berkembang di setiap pekannya seraya mengantar the Bavarian merangsek ke final Liga Champions. Meski pada akhirnya menyerah dari Inter, namun dobel gelar domestik berhasil diklaim.

KETIDAKBERUNTUNGAN CHELSEA

 SKORSING
Branislav Ivanovic
Raul Meireles
Ramires
John Terry
DF
MF
MF
DF
DIPERKIRAKAN FIT DI FINAL
Gary Cahill
David Luiz
DF
DF
Dalam kampanye musim ini, petualangan Bayern dipenuhi rintangan. Setelah tampil di kualifikasi melawan Zurich, Bayern memastikan lolos ke putaran final, namun tergabung ke dalam "grup neraka", bersama Manchester City, Napoli dan Villarreal. Setelah itu, mereka dites oleh tim-tim seperti Basel, Marseille dan Madrid sebelum akhirnya tiket final mereka rengkuh dengan dramatis.

Butuh dua tahun setelah takluk dari Inter, FCB pun akhirnya kembali ke fase ini, yakni grand final. Meskipun pada 2010 lalu mereka tampil sebagai outsider dan kerap bergantung pada aksi-aksi heroik Robben, raksasa Jerman kini berada dalam situasi yang jauh berbeda. Mereka bisa bermain fantastis kala menyingkirkan Madrid di semi-final untuk mengamankan slot final menghadapi Chelsea musim ini. Motivasi anak-anak Bavarian tidak pernah muluk: mereka ingin menahbiskan diri sebagai tim pertama yang memenangkan Liga Champions di kampung halaman sendiri.

Di tahun 2007 silam, saat perekrutan Franck Ribery, genderang era baru sejatinya sudah ditabuhkan. Saat itu, Bayern memang membutuhkan injeksi permainan menyerang. Lalu kedatangan Robben dua tahun setelahnya semakin memberi sinyal terobosan baru berkelanjutan. Tak berlebihan bila kini Bayern disebut tim yang hampir mendekati garis finis maraton yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Legenda Karl-Heinz Rummenigge bahkan bertutur: "Kemenangan atas Chelsea akan menjadi pencapaian terbesar dalam sejarah klub." Jika Sabtu besok Philipp Lahm sah mengangkat trofi Liga Champions, maka raihan itu akan membayar proyek jangka panjang klub. Nama sang bek pun akan masuk ke dalam bingkai kenangan publik Munich seperti yang sudah pernah digoreskan Stefan Effenberg, Elber, dan Oliver Kahn.

Tidak pernah mudah

Tanda-tanda kemenangan sepertinya memihak pada Bayern, sebab mereka bermain di kandang sendiri. Tetapi juga Bayern perlu mewaspadai hal-hal tak terduga dalam upaya mereka mengejar mimpi yang hanya tersedia di dalam 90 menit waktu normal pertandingan, sekali membuat blunder, sejarah itu tak akan pernah lahir. Mungkin kedua tim bisa menggerutu soal absennya sejumlah pilar. Namun orientasi permainan bertahan Chelsea, di mana beberapa pemain belakang terkena suspensi, sepertinya jauh lebih menyakitkan bila membandingkan dengan attacking-minded ala Bayern. Di 2010, Ribery pernah terkena skorsing laga, namun untuk lini serang FCB masih punya banyak stok, apalagi statistik mencatat, barisan penggedor Bayern selalu bisa tampil mengancam apabila bermain di rumah sendiri. Chelsea boleh saja melupakan kampanye memalukan di Liga Primer Inggris, namun berdiri di podium juara Liga Champions menjadi harga mutlak bila mereka ingin tetap tampil di kompetisi ini musim depan, mengingat posisi the Blues di domestik yang menempati urutan keenam.

Belum lagi mengenai fakta kalau Chelsea di panggung Eropa belum pernah merasakan puncak kejayaan, meski pernah satu kali mencapai final. Laju tim London Barat ini memang tak dinyana, mereka yang bisa dikategorikan salah satu yang lemah, malah mampu menembus babak final. Menghadapi Napoli, mereka seperti sudah tereliminasi di leg pertama. Hal sama saat melawan Benfica, sempat mengalami tekanan hebat sebelum menuju 50 menit terakhir pertandingan mereka unggul pemain dan akhirnya sukses lolos. Lalu kontra Barcelona. Tak bisa dimungkiri, faktor keberuntungan sedikit banyak menaungi keberhasilan besar mereka mengalahkan sang jawara bertahan.

Sang Jawara | Schweinsteiger & Co. klub bisa bergabung di masa emas klub dalam buku sejarah

Chelsea tak lagi seperti mereka pada 2008, 2009, atau bahkan 2010. Dibandingkan dengan tim di era sebelumnya itu, armada Roberto Di Matteo tergolong inferior. Hal ini yang membuat nuansa dramatis lebih terasa ketika mereka masuk final. Dan harus diakui Chelsea terjustifikasi sebagai finalis terlemah, dan di sisi lain inilah kans terbaik Bayern memenangkan titel pada akhirnya. Pertimbangannya seperti yang sudah dijelaskan di awal, mereka bermain di kandang sendiri, dan FCB bukannya menghadapi lawan seperti Barcelona atau seorang Jose Mourinho.

Sekarang atau tidak sama sekali

Chelsea kehilangan figur penting seperti John Terry dan Branislav Ivanovic, dua pilar tak tergantikan di musim ini. Sementara David Luiz dan Gary Cahill, sejatinya sudah kembali dalam sesi pelatihan tim dan diharapkan dapat bermain di final, namun keduanya belum banyak terlibat di pemanasan laga.

Kehilangan Ramires dan Raul Meireles, dua sosok krusial di lini tengah, tentu juga akan sangat merugikan bagi Chelsea. Kedua pemain ini dapat meng-cover sektor-sektor penting tim, dan Ramires punya keahlian dalam memainkan tempo permainan dan piawai saat menekan lawan dalam skema serangan balik. Tapi mereka punya satu senjata ampuh, yakni Didier Drogba, the Blues mungkin bisa menyuplainya dengan bola-bola jauh. Adapun di kubu seberang, Mario Gomez, bomber haus gol milik Bayern, sewaktu-waktu bisa jadi juru pahlawan tim untuk memborbardir kelemahan lini belakang Chelsea. Lalu Ribery tampaknya akan banyak berduel dengan pilihan kedua di sisi kanan, Jose Bosingwa. Jika FCB menampilkan performa persis seperti di Santiago Bernabeu, maka trofi Liga Champions untuk kali kelima akan jadi milik mereka.

Kehilangan gelar DFB-Pokal dan Bundesliga Jerman telah menjadi tamparan keras bagi Bayern, jadi torehan gelar tersisa, Liga Champions, adalah harga mati demi dedikasi bersejarah mereka bagi publik Munich. Yah, sekarang atau tidak sama sekali!


Ikuti perkembangan terkini Liga Champions di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Liga Champions, lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen Liga Champions.



Twitter Ikuti Anugerah Pamuji di twitter.

Terkait