thumbnail Halo,

Liam Twomey dari GOAL.com Internasional menyorot beberapa faktor penyebab merosotnya performa Ramsey pada musim ini.

Satu dari sedikit hal yang lebih mengejutkan dari kebangkitan mencengangkan Arsenal dalam tiga bulan terakhir ini adalah minimalnya peran Aaron Ramsey dalam catatan impresif tim.

Kalau 2011 adalah tahun ketika dunia sepakbola mulai menyadari talenta eksepsional Jack Wilshere, 2012 tampak bakal menjadi momen serupa bagi Ramsey untuk merekah.

Kepergian Cesc Fabregas dan Samir Nasri musim panas silam meninggalkan lubang menganga di lini tengah The Gunners, dan, seperti biasanya, Arsene Wenger cenderung mencari pengganti di internal klub ketimbang menggaet dari luar.

Akhir yang menjanjikan pada musim lalu, termasuk gol tunggal kontra Manchester United yang tercipta dengan apik, menguatkan keyakinan bahwa Ramsey telah siap menjadi figur utama di masa kini dan masa depan.

Cedera memaksa Wilshere kehilangan kans untuk mengklaim posisi itu, yang berarti beban harapan makin kuat diletakkan pada pundak Ramsey. Banyak yang mengira itu akan membantu mematangkannya.

Akan tetapi, kenyataannya berbeda. Bukannya menjadi bintang utama di sektor tengah, Ramsey justru harus melihat tempatnya direbut “pemeran pembantu” yang lebih bersinar ketimbang dirinya.

Wenger kini berpaling pada nama-nama seperti Mikel Arteta, Yossi Benayoun, dan Tomas Rosicky dalam keadaan genting, dan Arsenal sukses membangkitkan diri tanpa kontribusi besar sang playmaker muda.

Memang benar, kendati mengecewakan, kesulitan Ramsey bukannya tanpa penyebab signifikan.

Pemain muda ini -- bersama seantero jagat sepabola -- terguncang oleh kematian mendadak dan tragis Gary Speed pada November, seorang figur yang kontribusinya bagi perkembangan personal dan profesional Ramsey  jauh lebih dari sekadar memberinya ban kapten timnas Wales.

RAPOR RAMSEY DI EMPAT LAGA TERAKHIR
QPR 2-1 ARSENAL
4,5  Kaku memainkan peran di sisi kiri sebagai bagian trio penyokong Van Persie bersama Rosicky dan Walcott. Jarang terlibat dalam permainan, dan ketika mampu, dengan peran yang kurang familiar ia cenderung memilih opsi aman. Ditarik keluar pada 22 menit tersisa.
 ARSENAL 1-0 MAN. CITY
6,0 Rapi dan cermat setelah masuk menggantikan Benayoun dan menjaga dominasi Arsenal untuk membantu mendapatkan tiga poin, tapi menyia-nyiakan peluang emas di pengujung laga.
 WOLVES 0-3 ARSENAL
6,0  Terlihat seperti pemain yang kekurangan match practice setelah absen beberapa minggu. Rapi dalam penguasaan bola tapi kurang dari segi kecepatan.
ARSENAL 1-2 WIGAN
5,0 Tampak tidak siap turun dini di menit ke-9 untuk menggantikan Arteta yang cedera, dan amat jauh dari performa terbaiknya.

Namun, kalaupun Ramsey tak mengalami pukulan seberat itu, semua pesepakbola tetap rentan menerima segala macam deraan nasib buruk, dan tak ada bentuk yang tahan lama bagi seseorang. Dengan kata lain, Ramsey mungkin memang belum kapabel menanganinya saat ini.

Selain itu, tentu terdapat pula fakta bahwa krisis cedera sebelum pergantian tahun memaksa Wenger untuk terus-menerus bersandar pada amunisi tersisa, sesuatu yang pasti bukan menjadi preferensinya.

Selama periode ini Ramsey selalu dimainkan, bersama para pemain lain yang available, dan sang manajer pun sebelum Natal mengakui bahwa keterlibatan konstan pemuda 21 tahun itu dapat berisiko cedera.

Menilik hal ini, amatlah mungkin faktor keletihan kembali menjadi kekuatan misterius yang membuat sebuah kampanye penuh harapan sontak merosot, dan masa rehat di musim panas mutlak diperlukan untuk mengembalikan kebugarannya secara penuh.

Semoga saja bukan ini kasus yang berlaku, karena kemungkinan lainnya sungguh lebih mengkhawatirkan, sebuah skenario yang amat ditakuti fans Arsenal karena terlalu familiar bagi mereka.

Ketika Ramsey mengalami cedera patah kaki yang mengerikan di Britannia Stadium dua tahun silam, tak sedikit Gooners yang cemas masa depan salah satu bintang muda mereka yang paling bersinar akan menjadi suram.

Ketakutan itu didasarkan pada pengalaman masa lalu -- memori kelam ketika Eduardo juga mengalami patah kaki usai diterjang Martin Taylor pada Februari 2008, dan kemerosotan seorang talenta yang awalnya diharapkan dapat menjadi suksesor Thierry Henry.

Meski begitu, seperti diketahui, striker Kroasia itu akhirnya mampu pulih, dan kini kembali menikmati karier yang sukses bersama klub raksasa Ukraina yang tampil reguler di Liga Champions, Shakhtar Donetsk.

Tetapi, yang patut diperhatikan adalah karier Eduardo di Arsenal terganjal pukulan telak, tepat di saat dia tampak siap untuk lepas landas. Entah secara fisik, mental, atau bahkan kombinasi keduanya, dia tak pernah sama seperti sebelumnya.

Bagaimanapun, akan berlebihan jika menganggap Ramsey pada saat ini ditakdirkan menerima nasib serupa. Dia tetap terlihat berpotensi, dan dengan usia baru 21 tahun, waktu masih menjadi kawan baginya.

Menimbang hal itu, rasanya kegagalan orang Wales itu untuk menjadi sosok kunci dalam “mesin” Arsenal pada musim ini patut dimaklumi fans Gunners.

Mengenai apakah kesulitan Ramsey hanya sekadar sebuah blip mengecewakan atau justru problem yang perlu diperhatikan dengan serius, kita perlu mengamati sedikit lebih lama lagi.

Yang jelas, setelah kembali tampil jelek ketika turun menggantikan Mikel Arteta yang cedera di menit-menit awal dalam kekalahan Arsenal 2-1 oleh tamunya, Wigan, Senin (16/4) malam, Ramsey wajib membuktikan kapasitasnya saat Gunners menghadapi Chelsea dalam derbi London di Emirates akhir pekan ini.

 

GOAL.com hadir via ponsel melalui m.goal.com,
Unduh juga aplikasi untuk BlackBerry, Nokia, iPhone, iPad, Android, dll.

Terkait