thumbnail Halo,

Ikon The Reds ini memperlihatkan performa yang kurang memuaskan di awal musim ini. Akankah pelatih Brendan Rodgers berani membuat kebijakan tegas terhadap sang ikon?

GOAL.com Indonesia   OLEH
MT RIZKY


Bayangkanlah situasi ini. Anda bertanggungjawab terhadap salah satu klub sepakbola terbesar di sebuah negara. Tim yang Anda bela itu telah membuat penampilan awal kompetisi terburuk dalam 100 tahun terakhir. Dari tujuh laga, hanya sekali saja kemenangan yang dikantungi.

Lalu sebagai pelengkap keterpurukan itu, kemampuan Anda, favoritisme yang melekat serta Anda sebagai salah satu pemain terhebat yang pernah ada, justru penampilannya sama buruknya seperti performa klub itu sendiri.  

Inilah situasi tak ideal yang kini dihadapi pelatih Brendan Rodgers di Liverpool. Ada rasa kecewa yang kini menggelembung. Terutama setelah menyaksikan penampilan The Reds yang jauh di bawah harapan pendukungnya saat menjamu Stoke City di Anfield akhir pekan kemarin.

Dari seabrek masalah yang sedang melilit klub ini, salah satu masalah utamanya adalah penampilan dari sang kapten mereka, Steven Gerrard. Jika dalam sepekan ini sorotan kritik mengarah kepada performa Rio Ferdinand di Manchester United maka hal yang sama sekarang ini bisa juga mengarah pada sosok Gerrard.

Ibarat roda pedati, roda perjalanan karir Gerrard sekarang ini seperti tengah berada di satu sisi lain dari kegemilangan yang pernah ia torehkan di masa-masa awal kemunculannya pada 1998.

Pemain berusia 32 tahun ini pernah menjadi kunci keberhasilan atas sukses Liverpool merebut gelar. Sebut saja sukses mengangkat trofi Liga Champions hingga penampilan mengesankannya saat melawan West Ham pada final Piala FA 2006. Bagi suporter Liverpool, kontribusi Gerrard tentunya menjadi hal sangat berharga. Namun jika melihat keadaan terkini Liverpool, sentimen sejarah itu harusnya bisa dikesampingkan sejenak.

Apalagi jika menyitir sebuah pepatah lawas di Inggris,'Penampilan itu hanyalah sementara saja tetapi sosok berkelas adalah selamanya'. Jika hal itu yang digunakan, ini bisa menjadi pijakan arif. Setidaknya pepatah tadi bisa digunakan untuk mengurai keruwetan masalah yang tengah melilit antara Gerrard dan Liverpool.

Melihat hasil imbang tanpa gol melawan Stoke, laga seperti itu sudah menjadi tipikal penampilan Liverpool saat sekarang. Banyak membuat peluang, tampil dominan, tapi sulit meraih gol. Itu juga yang dialami ketika Gerrard cs tidak kunjung mampu membongkar kokohnya barisan pertahanan anak asuh Tony Pulis.

Di saat Liverpool membutuhkan asupan dari penampilan inspiratif semacam Gerrard, ia justru tak mampu menunjukkannya. Bahkan kontribusi Gerrard ini justru jauh di bawah juniornya, Joe Allen. Dalam hal akurasi umpan, Gerrard ternyata masih buruk dibandingkan Allen.

Dari data statistik penampilan terlihat bagaimana Allen, pemain yang didatangkan Liverpool pada musim panas kemarin itu, memiliki akurasi umpan mencapai 91 persen dari 69 kali menyodorkan bola kepada rekan setimnya. Sebaliknya Gerrard hanya bisa memiliki akurasi tak lebih dari 73 persen.

Jika catatan-catatan statistik itu hendak dikesampingkan namun secara filosofi Rodgers secara perlahan tapi pasti, juga ingin mengintegrasikan adanya kesesuaian di dalam timnya. Ia membutuhkan kemampuan pemain yang bisa memonopoli dan mengontrol alur pergerakan bola. Inilah yang sekarang dihadapinya bersama Liverpool.

Jadi haruskah Gerrard pergi dari sini? Rasanya ini akan menjadi pertanyaaan yang bisa saja mengokohkan atau justru menghancurkan musim Liverpool itu sendiri. Namun yang pasti, Rodgers harus bisa segera memecahkan kerusakan ini sebelum semuanya berlanjut menjadi besar.

Ia kini seperti berada di simpang jalan. Mantan pelatih Swansea ini sekarang dihadapkan pada kenyataan untuk tetap mempertahankan ikon Gerrard di dalam tim atau memilih mendepak Gerrard dengan memilih pemain yang masih minim pengalaman.

Nah jika melihat tanda-tanda yang ada dengan pengaruh Gerrard yang kian memudar, Rodgers tentunya harus bisa menatap ke depan secara bijak. Sosok-sosok seperti Jonjo Shelvey, Lucas Leiva, Nuri Sahin dan Joe Allen merupakan pilihan yang ada di depan mata. Semua itu tentunya harus bisa berkolaborasi menjadi sebuah paket bernama soliditas, fluiditas dan juga kreatifitas. Ketiganya merupakan aspek penting yang sekarang terlihat menghilang di Liverpool.

Inilah tantangan utama Rodgers. Kini ia dihadapkan pada dua pilihan. Apakah ia bersedia mengambil resiko terhadap popularitasnya atau justru ia berani untuk mengorbankan segala sentimen yang ada untuk meraih kondisi Liverpool menjadi lebih baik.

Ikuti perkembangan terkini sepakbola Inggris di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Liga Primer Inggris lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Inggris.

Terkait