thumbnail Halo,

The Catalans mengukir rekor melaju ke semi-final Liga Champions lima musim berurutan, dan mereka pantas mencapainya terlepas dari kontroversi soal penalti kedua kontra Milan.

Pada Selasa (3/4) malam di Camp Nou, Barcelona mengukuhkan diri sebagai tim pertama yang mampu melangkah ke semi-final Liga Champions lima musim berurutan. Tapi bukan ukiran tinta emas itu yang diperbincangkan publik sepakbola usai The Catalans menundukkan AC Milan 3-1 pada leg II perempat-final.

Topik yang banyak diangkat adalah kontroversi terkait penalti kedua yang dianggap terlalu mudah diberikan wasit Bjorn Kuipers bagi tuan rumah saat Alessandro Nesta menarik kaus Sergio Busquets.

Geram dengan keputusan itu, Zlatan Ibrahimovic ogah mengerem komentarnya sesudah laga. Bomber Swedia itu menuduh adanya konspirasi UEFA di balik sukses Barcelona, dan mengaku mengerti bagaimana perasaan Jose Mourinho setiap kali mengunjungi Camp Nou.

Berbeda dengan sang striker, pelatih Massimiliano Allegri serta gelandang Clarence Seedorf lebih bijak dalam melontarkan pendapat. Ya, mereka juga turut mempertanyakan penalti kedua, tapi sama-sama menyimpulkan bahwa Blaugrana memang pantas keluar sebagai pemenang, dan menurut Ben Hayward dari GOAL.com Internasional, penilaian itu sulit diperdebatkan.

Tudingan Ibra pastinya membuat kalangan yang skeptis dengan kedigdayaan Barca dan penyuka teori konspirasi merasa memperoleh dukungan dalam argumen mereka meragukan dominasi El Pep's Team. Rentetan insiden kontroversial yang menguntungkan Los Cules dalam beberapa tahun terakhir pun kembali dikemukakan.

Namun, mungkin banyak yang lupa bahwa Ibra memiliki agenda tersendiri untuk memojokkan Barcelona, klub di mana ia sempat menjalani karier yang mengecewakan plus perselisihan dengan entrenador Pep Guardiola.

Guardiola pun tentu sama sekali tak terkesan dengan tudingan mantan anak asuhnya itu. "Tn. Ibrahimovic dapat mengatakan apa yang ia mau," demikian respons Pep. "Sekarang ia mencoba berteman dengan Mourinho. Tapi di lapangan, dalam momen kebenaran, di situlah ia seharusnya berbicara. Dua penalti itu patut diberikan."

Pelatih 41 tahun itu kemudian menyinggung leg pertama, ketika timnya tak mendapatkan dua penalti yang sepatutnya diberikan (salah satunya adalah pelanggaran kentara oleh kiper Christian Abbiati pada Alexis Sanchez). Selain itu, Pep pun mengapungkan statistik mencolok berupa 21 tembakan Barca berbanding 3 milik Milan. Sangat timpang.


Melampaui batas | Komentar Ibrahimovic muncul karena frustrasi

Dua penalti yang diperoleh Barca di Camp Nou tak pelak memang krusial, namun secara kasat mata tampak jelas bahwa The Catalans sepenuhnya mendominasi sang kampiun Italia dalam pertandingan dan nyaris pasti bakal tetap lolos ke semi-final -- sekalipun tanpa "bantuan" wasit.

Barca sejak sebelum partai menjamu Milan telah diterpa kritik bertubi-tubi karena diuntungkan oleh sejumlah keputusan ofisial laga, tapi itu umumnya terjadi karena tekanan dan positivitas performa yang mereka tampilkan, dan sesuai kata pepatah, keberuntungan menghampiri mereka yang berani.

Mustahil ada tim yang mampu melaju ke empat besar ajang paling prestisius antarklub Eropa -- bahkan mungkin dunia -- lima tahun berturut-turut hanya karena dewi fortuna. Catatan ini mengantar Los Cules memecahkan rekor yang sebelumnya mereka bagi bersama Juventus dan Real Madrid. Terakhir kali mereka terlempar sebelum semi-final adalah ketika dikalahkan Liverpool pada fase 16 besar edisi 2006/07... dan itu terasa sudah sangat, sangat lama.

Tn. Ibrahimovic dapat mengatakan apa yang ia mau. Sekarang ia mencoba berteman dengan Mourinho. Tapi di lapangan, dalam momen kebenaran, di situlah ia seharusnya berbicara. Dua penalti itu patut diberikan.

- Guardiola membalas tudingan Ibra

Semusim setelah itu, El Barca -- yang ketika itu masih ditukangi Frank Rijkaard -- takluk oleh Manchester United di semi-final, sebelum lawan yang sama dibekuk pada final tahun berikutnya alias musim perdana Pep Guardiola di bangku pelatih, untuk membawa klub merengkuh trofi La Orejona.

Mereka lantas dipaksa menyerah oleh Inter Milan arahan Jose Mourinho di fase empat besar 2009/10, sebelum kembali ke tangga juara untuk kali kedua dalam tiga tahun seturut keberhasilan mengalahkan lagi The Red Devils pada laga puncak edisi 2011 di Wembley, tempat serupa di mana Barca pertama kali mereguk nikmatnya status raja Eropa pada 1992 -- waktu itu masih bernama European Cup.

Itulah trofi terakhir yang diperebutkan sebelum kejuaraan dirombak ulang dan dinamai Liga Champions, label yang kita kenal hingga saat ini. Nyaris 20 tahun setelahnya, tak satu pun tim yang mampu mempertahankan titel dua musim beruntun.

AC Milan adalah klub terakhir yang mampu melakukannya pada 1989 dan 1990 (European Cup), tapi tim Barca saat ini tampak kapabel menyamai atau bahkan melewati torehan spektakuler skuad besutan Arrigo Sacchi. Sementara rekor lain Il Diavoli, berupa pencetak gol terbanyak dalam semusim oleh striker legendaris mereka, Jose Altafini, sudah disetarakan Lionel Messi dengan sepasang konversi penaltinya kontra Milan.

Jadi lupakanlah teori-teori konspirasi, karena sesungguhnya justru mungkin alam semesta yang berkonspirasi untuk membuat tim Barca ini menjadi kekuatan sepakbola terbaik di era modern, tapi hanya karena mereka memang layak mendapatkannya. Bagaimana menurut Anda?


http://u.goal.com/177000/177089hp2.jpg
>> Halaman Khusus Liga Champions
>> Semua Berita Liga Champions
>> Jadwal - Hasil - Klasemen Liga Champions

GOAL.com hadir via ponsel melalui m.goal.com,
Unduh juga aplikasi untuk BlackBerry, Nokia, iPhone, iPad, Android, dll.

Terkait