thumbnail Halo,

Benarkah penggemar sepakbola di Indonesia sering melantunkan lagu rasis?

Rasisme hingga detik ini memang menjadi isu besar yang menjangkiti dunia sepakbola. Beragam upaya dilakukan oleh FIFA untuk meredam aksi rasisme baik yang dilakukan oleh pemain maupun oleh para pendukung tim dan percaya atau tidak, rasisme di sepakbola bagai penyakit menular yang sudah menjalar hampir di seluruh kompetisi di dunia.

Sebelum melangkah ke dalam negeri, Goal.com Indonesia ingin mengajak pembaca melanglang buana dengan beragam peristiwa rasisme yang terjadi dalam sepakbola.

Hampir semua tim di seluruh dunia bermasalah dengan isu rasis termasuk tim-tim besar Eropa, sebut saja Juventus, Lazio, Inter, Liverpool, Chelsea, Real Madrid dan tim raksasa lainnya pernah berurusan dengan tindakan tidak terpuji yang dilakukan baik itu oleh para aktor di tengah lapangan atau pendukung yang berdiri setia di tribun stadion.

Pemain legendaris Liverpool John Barnes pernah menjadi korban tindakan rasis saat bermain tandang bersama Liverpool di kandang Arsenal pada musim 1987/88. Saat itu sekelompok penggemar yang diidentifikasi sebagai pendukung The Reds melemparkan pisang dan kacang ke arah lapangan.

Avram Grant yang berasal dari Israel pernah menerima ejekan berbau anti-Semitic dari penggemar Chelsea. Grant bahkan mendapat ancaman pembunuhan.

Sikap rasis bahkan terjadi di saat kampanye anti rasis bergulir. Peristiwa ini terjadi pada bulan Januari 2005 di Prancis. Untuk menekan rasisme di kompetisi Ligue 1, para pemain Paris Saint-Germain mengenakan seragam serba putih, sebaliknya Lens yang menjadi lawannya menanggalkan seragam kebesaran dengan memakai jersey serba hitam. Yang terjadi di lapangan jauh dari harapan. Grup pendukung PSG Kop of Bolougne tidak henti-hentinya melantukan lagu 'Come on the Whites' yang disusul dengan teriakan bersuara monyet setiap kali pemain Lens menyentuh bola.

Cara lain berbau rasis diperlihatkan oleh para suporter di Jerman dengan menggunakan simbol. Mereka kerap memasang simbol angka 88 yang berarti HH atau Hail Hitler (H adalah huruf kedelapan dalam susunan abjad) di dalam stadion. Beberapa tim Jerman, seperti Hannover 96 melarang simbol tersebut terpampang di stadion.

Juventus pernah meradang karena aksi para pendukungnya sendiri yang menendangkan nyanyian bernada rasis terhadap bintang muda Inter, Mario Balotelli. Alhasil raksasa Turin itu sempat menjalani hukuman menggelar satu pertandingan kandang tanpa dihadiri penonton.

Peristiwa rasisme juga terjadi di Afrika, sebuah laporan menyebutkan Hanif Adams, pemilik klub Lusaka Dynamos sering menjadi objek pelecehan saat mencoba mencalonkan diri menjadi presiden Asosiasi Sepakbola Zambia hanya karena berdarah India.

Kemampuan seseorang tidak bisa diukur dari asal usul biologisnya. Apakah sesesorang dengan kulit putih bisa dipastikan memiliki kemampuan yang lebih baik atau superioritas ketimbang yang berkulit hitam? Apakah seseorang dengan mata sipit dipastikan lebih piawai dalam mengolah bola ketimbang yang bermata besar? Jawabannya tentu saja tidak! Oleh karenanya banyak tokoh-tokoh sepakbola dunia yang mengutuk hal ini dengan menyebut rasisme sesuatu yang menggelikan, bodoh bahkan menjijikan.

Lalu bagaimana dengan kiprah rasisme di pentas sepakbola nasional? Kabar terakhir menyebutkan Komdis PSSI telah menjatuhkan hukuman percobaan denda sebesar 250 juta kepada beberapa tim, sebut saja Persela, Persebaya dan Persib karena para pendukung tim tersebut dinilai telah bertindak rasis.

Hinca Panjaitan, ketua Komdis PSSI mengatakan tim-tim tersebut telah melanggar pasal 59 kode disiplin tentang tingkah laku buruk melakukan tindakan rasis melalui nyanyian.

Tidak seorangpun ingin mendapat predikat rasis, maka tak heran kabar ini sontak mendapat sambutan miring dari para pendukung setia tim yang berpendapat nyanyian mereka hanyalah sebatas ejekan dan tidak bisa digolongkan dalam sebuah tindakan rasis.

Kepada beritajatim.com salah seorang pentolan Bonek Nur Hasyim, mengatakan Komdis harus belajar tata bahasa dan dia menilai terdapat perbedaan besar antara hujatan dan rasis. Hasyim juga menambahkan jika PSSI harus memberi hukuman, seharusnya yang bersifat mendidik.

Hal senada diungkapkan oleh salah satu pentolan web Viking Persib, grup suporter terbesar Persib Bandung, Ukung, yang mengaku tidak terima jika bobotoh disebut rasis.

"Kami tidak terima jika bobotoh diberi label rasis, tuduhan itu terlalu keji. Rasis sebelah mana? Silakan cari referensi tindakan rasis suporter di Eropa sana dan bandingkan dengan perilaku suporter di Indonesia, saya rasa yel-yel yang diperdengarkan hanyalah sebatas ejekan tidak menyinggung SARA," ujar Ukung bersemangat.

"Jika PSSI menghukum kami dan teman-teman suporter yang lain karena melantunkan lagu yang kurang terpuji di dalam stadion, silakan saja tetapi jangan sebut kami rasis, bagi kami langkah itu terlalu jauh."

"Kami juga meminta PSSI untuk memperjelas mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak, jangan seperti ini tiba-tiba ada sanksi tanpa ada kejelasan letak kesalahan yang telah diperbuat. Belum lagi konsistensi dan keadilan yang tidak terlihat karena yel-yel ejekan dilakukan oleh hampir semua suporter," tandasnya.


Kami ajak pembaca Goal.com Indonesia untuk berkomentar terkait hukuman rasisme yang dijatuhkan oleh PSSI. Sudah tepatkah tindakan yang dilakukan oleh otoritas tertinggi sepakbola nasional itu? Atau Anda memiliki pendapat lain mengenai perilaku suporter sepakbola di Indonesia? Sampaikan melalui formulir yang telah kami sediakan.


Gabunglah bersama GOAL.com Indonesia di Facebook dan Twitter

Terkait