thumbnail Halo,

Setelah sempat vakum dari dunia kepelatihan sepakbola, Nil Maizar akhirnya kembali menjadi arsitek tepi lapangan bersama Putra Samarinda.


GOALOLEH    FARABI FIRDAUSY     Ikuti di twitter

14 November 2012, terbentang sebuah bendera Merah-Putih yang cukup besar dan dipegang oleh sekelompok pria yang dirundung ketegangan. Terdengar juga suara seorang lelaki yang menggebu-gebu memberikan motivasi untuk para penggenggam bendera.

Hal itu terjadi di ruang ganti tim nasional Indonesia, tepat sebelum laga persahabatan Indonesia kontra Timor Leste. Para pria yang memegang erat bendera merupakan pasukan timnas Garuda, dan sang motivator yang berteriak menggebu tak lain adalah pelatih Nil Maizar.

Sosok Nil menjadi pelatih bak motivator kala harus mendampingi Indonesia di ajang Piala AFF 2012. Sadar tim asuhannya tak dihuni para pemain terbaik, Nil coba membangun konfidensi tersendiri kepada para pemain. Namun Nil bukan pesulap, karena ia pun percaya akan proses, dan Indonesia tersingkir di fase grup Piala AFF 2012 dengan kesan tersendiri.

Usai kisahnya mendampingi timnas di Piala AFF 2012, pada 27 Februari 2013 Nil pun diberhentikan sebagai pelatih kepala timnas Indonesia dengan gaji yang tertunggak, PSSI pun menunjuk pelatih asal Argentina Luis Manuel Blanco. Sejak itu, tak lama perjalanan Nil di dunia kepelatihan pun terhenti sejenak, ia memilih terjun ke politik untuk menjadi calon legislatif. Namun takdir Nil sepertinya memang di dunia sepakbola, pada 10 Mei 2014, Putra Samarinda resmi menunjuk eks pelatih Semen Padang itu sebagai suksesor Mundari Karya.

Kembali mendampingi sebuah tim di pinggir lapangan setelah sempat vakum tak membuat gaya Nil berubah. Pria asal Sumatera Barat itu percaya akan proses, penuh motivasi dan tentu realistis. Ia meyakini Pusam punya kelebihan dengan materi pemain muda, dan tak ada niatan merombak habis tim seperti layaknya pelatih kebanyakan bila baru menangani tim.

Debut bagi Nil bersama Pusam bukan tugas mudah, ia harus melawan Persela Lamongan di Stadion Surajaya, 19 Mei 2014, yang mana Persela sendiri belum pernah diimbangi apalagi kalah dirumahnya sendiri selama Indonesia Super League (ISL) 2014 paruh pertama lalu. Namun Nil mematahkan rekor itu dengan cara yang brilian.

Pesut Mahakam berhasil mengakhiri skor 2-2 di Surajaya, padahal sebelumnya Pusam digedor habis dan kebobolan dua gol lebih dahulu lewat striker Persela, Addison Alves.


Dalam laga tersebut sosok Nil yang dulu tetap tak pudar, ia modis di pinggir lapangan, tatapannya was-was mengamati permainan lawan dan timnya, ia sesekali berteriak dan memotivasi sembari memberi arahan. Dan yang paling khas, mungkin ia satu-satunya pelatih ISL (setidaknya saat ini) yang berdiri selama 90 menit penuh di pinggir lapangan. Pemandangan yang jarang, karena umumnya pelatih hanya duduk dan membiarkan sang asisten jadi lebih sibuk memberi arahan.

“Semua tidak bisa instan, butuh proses. Saya sudah melihat proses itu sudah berjalan ke arah positif, dan itu sudah dimulai dari laga kali ini,” kata Nil usai laga, tak lepas dari sebuah proses, seperti halnya yang ia dapat saat menjalani pelatihan di Jerman. Ia mengungkapkan bahwa setiap detail butuh perhatian, setiap hal harus melalui proses.


"Inilah kelebihan dunia sepakbola di Barat, Jerman khususnya yang sudah sangat maju. Semuanya sangat detail dan hal-hal sekecil apa pun harus dipelajari. Artinya, kalau mau jadi pelatih yang baik dan berhasil, jangan sesekali mengabaikan hal-hal yang detail dan kecil seperti itu," ungkap Nil kala itu.

Pusam beruntung mendapat sentuhan Nil, dengan materi skuat muda seperti Lerby Elyandry, Bayu Gatra, Lodry Setiawan dan Aldeier Makatindu. Suksesor dari Mundari tak ingin banyak merubah skuat, ia menekankan untuk memoles, dan memompa daya juang tim untuk lebih keras lagi. Dan hal tersebut terbukti dari perlawanan balik Pusam kepada Persela.

“Kami sudah memiliki materi pemain yang bagus. Mereka sudah bekerja keras di kandang Persela kali ini. Tak banyak perubahan, hanya beberapa pemain saja yang masuk. Tapi saya tekankan kepada para pemain, semua bisa main bagus, asal mau kerja keras,” jelas Nil.

Selain mengharapkan polesan Nil kepada tim, suporter dari Pusam rasanya akan bersahabat dengan sosok Nil. Pria 44 tahun itu pribadi yang apresiatif kepada pendukung, terdapat beberapa momen emosional Nil dengan suporter. Contohnya ketika ia menangis di Stadion Gelora Bung Tomo, 15 September 2012, saat Indonesia menjamu Vietnam. Nil tertangkap kamera menangis mendengar nyanyian pendukung saat itu.

Yang lain, Nil juga menangis saat menyampaikan salam perpisahan kepada Semen Padang, momen istimewa lain adalah kala ia menerima bendera merah-putih dari suporter untuk dibawa ke Malaysia menjalani Piala AFF 2012, dan aksinya menghampiri penonton away yang datang untuk mendukung timnas di stadion Bukit Jalil. Kala itu Nil menghampiri pendukung usai Indonesia tersingkir, ia berterima kasih akan dukungan yang tetap datang meski Indonesia tak sedang dalam kondisi terbaik.

Hal tersebut rasanya bisa jadi aura positif bagi sisa pendukung Pusam yang sudah terpecah belah, sebagaimana diketahui, basis suporter memilih untuk mendukung klub yang dibangun oleh kelompok fans bernama Pusamania FC. Tak ayal kini Pusam seakan sedang surut dukungan dan tak sesolid dahulu.

Meski target Nil dengan Pesut Mahakam hanya menghindari degradasi, namun patut ditunggu sentuhan apa yang akan diberikan oleh Nil. Walau sosok Nil tidak serancak Indra Sjafri yang sedang jadi sorotan kini, tapi kembalinya salah satu pelatih terbaik Indonesia ke tepi lapangan adalah hal yang tentu baik. Terlebih tak banyak nahkoda tim di Indonesia dengan gaya berpakaian modis dan rapih seperti Nil.

Yang jelas, selamat (datang) kembali, Nil Maizar! 

Sepakbola Indonesia - Garuda Di Dadaku >> Halaman Khusus Sepakbola Indonesia
>> Berita Sepakbola Indonesia Lainnya
>> Semua Klub ISL & Panduan 2014
>> Semua Berita Indonesia Super League
>> Klasemen Indonesia Super League
>> Jadwal & Hasil Indonesia Super League
>> Jadwal - Hasil - Klasemen Divisi Utama




Terkait