thumbnail Halo,

Goal Indonesia berkesempatan mewawancarai Gonzales secara eksklusif, di sela-sela pemberian trofi pemain terbaik ISL periode Februari 2014.


GOALOLEH    MUHAMAD RAIS ADNAN     Ikuti di twitter

Cristian Gonzales. Ya, nama itu begitu fenomenal di kancah sepakbola nasional. Bagaimana tidak, dia satu-satunya pemain yang mampu menorehkan gelar pencetak gol terbanyak kompetisi kasta tertinggi di Indonesia empat kali beruntun. Itu terjadi ketika kompetisi kasta tertinggi masih bernama Divisi Utama (2005, 2006, 2007/08), serta era perdana Indonesia Super League (ISL) 2008/09.

Usianya memang sudah menginjak 37 tahun. Tapi, seperti kata pepatah, tua-tua keladi makin tua makin menjadi. Semangatnya untuk bermain masih belum pudar. Dia pun masih belum tahu kapan akan pensiun sebagai pesepakbola. Ya, itulah gambaran tentang Gonzales, pemain yang dijuluki El Loco (Si Gila) lantaran kegarangannya di depan gawang lawan.

Pemain berdarah Uruguay yang resmi menjadi Warga Negara Indonesia per 3 November 2010, itu masih menunjukkan tajinya di awal musim ini. Namanya sementara ini masih masuk dalam jajaran lima besar top skor ISL 2014 dengan lima gol. Dan, lantaran performa apiknya di awal musim, Goal Indonesia memberikan striker Arema Cronus itu penghargaan pemain terbaik periode Februari 2014.

Penyerahan trofi pun baru bisa tim redaksi berikan, Sabtu (3/5) lalu. Menyusul, adanya proses pembuatan trofi yang memakan waktu, serta penyesuaian jadwal dengan Gonzales sendiri. Di sela-sela pemberian trofi itu, kami banyak berbincang dengan suami dari Eva Siregar itu.

Redaksi Goal Indonesia memberikan trofi pemain terbaik ISL periode Februari 2014 kepada Cristian Gonzales.

Mulai dari cerita perjalanan kariernya, hingga orang yang paling berpengaruh baginya di sepakbola Indonesia. Belum lagi, banyak cerita menarik yang dilontarkannya kepada tim redaksi. Berikut petikan wawancaranya:

Ini memang bukan penghargaan pertama, tapi bagaimana perasaan Anda?

Saya bersyukur, alhamdulillah Goal Indonesia memilih saya menjadi pemain terbaik. Tentu saya senang sekali. Semua penghargaan yang diberikan kepada saya selalu menjadi motivasi tersendiri. Sebagai pemain saya hanya bisa mengucapkan terima kasih. Tapi, ini juga bukan karena saya sendiri. Karena saya bisa seperti ini juga karena keluarga yang selalu mendukung saya dan rekan-rekan di tim.

Apa gelar yang paling Anda inginkan saat ini, yang belum diraih sebelumnya?

Saya sekarang adalah pemain lokal, tapi muka saya masih asing. Saya tidak lupa dari mana saya dulu datang. Saya memulainya dari nol. Indonesia membuka pintu bagi saya untuk berkarier, dan semua yang saya dapatkan saat ini sudah luar biasa. Saya sangat berterima kasih kepada Indonesia.

Untuk musim ini, saya dan semua pemain ingin memberikan yang terbaik untuk tim di setiap pertandingan agar bisa juara. Soal top skor atau penghargaan lainnya itu seperti bonus saja. Sebagai pemain kami tidak bisa egois, itu tidak bagus.

Berbicara top skor, siapa pesaing terberat musim ini?

Sekarang sulit untuk menebak siapa yang akan menjadi top skor. Dulu saya bisa menjadi top skor secara beruntun selama empat kali. Saat ini, sulit memprediksinya dan bagus semua. Ada Pacho Kenmogne (Persebaya), Djibril Coulibaly (Persib Bandung), serta Boaz Solossa yang baru cetak tiga gol kemarin. Bisa jadi, ke depannya ada pemain lain yang bisa muncul.

Apa perbedaan kompetisi level Asia sekarang dengan yang dulu pernah Anda jalani?

Waktu masih membela PSM Makassar dan Persik Kediri, kami bermain di level Liga Champions Asia. Tim-tim yang dihadapi berat semua dan luar biasa. Sekarang di Piala AFC, bisa dibilang level timnya sama atau di bawah dengan di Indonesia. Kalau kami punya percaya diri untuk menang, saya yakin kami bisa berprestasi di Piala AFC.

Di usia 37 tahun Anda masih sanggup bermain di level tertinggi, Apa rahasianya?

Itu semua tergantung masing-masing pemain bagaimana menjaga kondisi mereka. Kalau memang mau main sepakbola harus disiplin jaga kondisi. Saya seharusnya bisa pensiun sudah lama, tapi keluarga selalu mendukung saya untuk tetap bermain. Dukungan keluarga sangat penting dan selalu menjadi motivasi buat saya.

Sampai umur berapa Anda ingin bermain?

Kondisi saya masih bagus. Ketika masih menjadi pemain junior di Uruguay, para pemain senior selalu mengingatkan untuk selalu berlatih dengan giat. Kalau saya malas untuk latihan itu, saya bisa berhenti dari sepakbola sejak lama. Tapi, saat ini saya masih semangat terus. Bukan hanya 100, tapi 200 persen.
 
Sepanjang perjalanan karier di sepakbola Indonesia, musim terberat untuk seorang Gonzales?

Mungkin paling berat ketika saya tidak bisa main karena sanksi satu tahun saat masih membela PSM Makassar. Karena ini kerja saya. Keluarga saya bisa makan jika saya bekerja. Waktu itu tidak bisa main lebih berat, karena tidak ada kontrak, tak ada apa-apa. Sebagai suami tentu akan sedih tidak bisa kasih makan untuk keluarga.

Lantas, bagaimana Anda bangkit dari keterpurukan itu?

Keluarga yang selalu mendukung saya untuk bangkit hingga saya akhirnya masuk Persik Kediri. Mungkin kalau tidak ada dukungan dari istri dan anak-anak, saya tidak bisa pulih.

Siapa orang yang paling berpengaruh terhadap karier Anda di sepakbola Indonesia?

Pak Iwan Budianto. Dia yang bawa saya pertama kali ke Indonesia. Saya sudah 12 tahun bersamanya. Dia orang pintar dan selalu mendukung saya dari belakang. Waktu main di Persib Badung, saya tidak mendapatkan sosok seperti Pak Iwan. Jadi, motivasinya berbeda. Kalau saya mau pindah ke klub lain pun saya harus berbicara dengan dia untuk meminta sarannya.

Siapa pelatih terhebat menurut Anda?

Setiap pelatih punya karakter masing-masing dan semuanya bagus. Ada sebenarnya, tapi dari pada nanti yang lainnya iri, ya lebih baik tidak saya sebutkan ha..ha..ha. Yang jelas, dari setiap pelatih saya bisa ambil pelajaran, siapa tahu nanti saya jadi pelatih.

Apakah memang serius ingin menjadi pelatih?

Memang sudah saya pikirkan itu, tapi saya belum mencoba untuk ambil lisensi kepelatihan seperti teman-teman yang lain. Karena saya masih ingin berkonsentrasi untuk jadi pemain. Kalau ambil lisensi kan tidak bisa bermain harus libur dari latihan. Namun, saya sudah mau daftar lisensi kepelatihan dari Arema.

Gonzales sudah merencanakan untuk menjadi pelatih, usai pensiun sebagai pemain.

Selain sepakbola, apa yang Anda gemari?

Sebenarnya, saya tidak terlalu tahu banyak tentang sepakbola. Kalau tinju saya tahu karena dulu pernah latihan di uruguay, dan sempat ikut turnamen-turnamen kecil. Namun karena papa saya meminta saya ke sepakbola, ya saya pilih sepakbola. Saya tidak ada klub favorit.

Namun kalau bicara klub saat ini, mungkin saya suka Liverpool karena ada Luis Suarez. Saya senang kalau orang marah sama dia. Karena itu karakternya dalam main bola. Kalau tidak seperti itu berarti bukan Suarez.

Bek paling tangguh yang pernah Anda temui di Indonesia?

Abanda herman.

Gol yang paling berkesan?

Alhamdulillah banyak gol yang sudah saya cetak. Tapi, yang paling berkesan karena saya dulu ingin masuk ke timnas Indonesia, jadi gol yang saya cetak ke gawang Filipina di semifinal Piala AFF 2010. Karena gol itu membuat kami lolos ke final.


Soal peluang Anda masuk skuat timnas Piala AFF 2014?

Saya berterima kasih dengan pelatih Alfred Riedl dan seluruh asisten pelatih timnas yang sudah memberikan saya kesempatan untuk masuk tim. Jadi, sekarang tergantung dari saya sendiri untuk menunjukkan yang terbaik dalam persaingan masuk tim. Apalagi, pelatih tidak lihat dari umur, tapi hanya melihat dari permainan kita seperti apa.

 



Sepakbola Indonesia - Garuda Di Dadaku >> Halaman Khusus Sepakbola Indonesia
>> Berita Sepakbola Indonesia Lainnya
>> Semua Klub ISL & Panduan 2014
>> Semua Berita Indonesia Super League
>> Klasemen Indonesia Super League
>> Jadwal & Hasil Indonesia Super League
>> Jadwal - Hasil - Klasemen Divisi Utama




Terkait