thumbnail Halo,

Penulis tamu Bagus Priambodo membahas program naturalisasi pemain yang kini tidak lagi diterapkan oleh PSSI.

BAGUS PRIAMBODO
*Penulis adalah jurnalis televisi dan insan sepakbola nasional.
Seluruh peserta Indonesia Super League (ISL) musim 2014, yang juga dikenal sebagai liga unifikasi, telah menguji diri dalam turnamen pemanasan Inter Island Cup sepanjang pertengahan bulan ini. Arema Cronus dan Persib Bandung menjadi dua tim terbaik meski laga final terpaksa ditunda sehingga turnamen tak pernah mencapai klimaks.

Arema menjadi tim yang menarik perhatian karena terus meraih hasil positif selama mengikuti serangaian uji coba. Perpaduan pemain yang diracik pelatih Suharno menghasilkan formula yang sangat pas. Salah satu pemain yang bermain konsisten adalah Cristian Gonzales.

Memasuki usia 38 tahun, alih-alih memasuki masa pra-pensiun, Gonzales malah memperlihatkan permainan terbaiknya. Dia bahkan mencetak satu-satunya gol Arema ke gawang Sriwijaya FC sekaligus memastikan tiket Singo Edan ke final IIC. Suharno selalu memainkannya sejak awal dan sangat jarang mengganti. Gerakannya mungkin tak lincah, tapi liat mematikan.

Dengan status sebagai warga negara Indonesia (WNI), bisa dikatakan Gonzales menjadi striker Indonesia yang paling subur yang pernah ada. Tentu saja hal ini masih bisa diperdebatkan karena Gonzaels menjalani sebagian kiprahnya di Indonesia sebagai pemain asing.

Gonzales baru secara resmi mengganti kewarganegaraan pada 2010 menjelang berlangsungnya AFF Suzuki Cup. Tapi, upayanya menjadi WNI sudah dilakukan jauh hari sebelumnya. Mungkin tepatnya bisa dibilang dalam hitungan tahun. Sejak berjaya bersama Persik Kediri dan kemudian menikah dengan wanita Indonesia bernama Eva, El Loco sudah ingin menjadi WNI. Setelah melalui proses birokrasi yang panjang akhirnya paspor Indonesia berhasil dikantungi Gonzales ketika momen sepenting AFF Suzuki Cup tiba.

Jika boleh disandingkan, El Loco setara seperti Thiago Motta, Mauro Camoranesi, Kevin Boateng, atau Alfredo di Stefano yang mengganti status warga negara dan kemudian berbakti untuk negeri barunya dengan sepenuh hati.

Saat ini, PSSI telah memasuki babak baru dengan menghentikan program naturalisasi pemain. Sebuah keputusan yang konon disambut gembira oleh hampir semua pecinta sepakbola negeri ini termasuk Pemerintah. Mungkin hanya sedikit yang menyesalinya, seperti saya secara pribadi.

Setidaknya sudah ada sepuluh pemain asing yang telah berpindah kewarganegaraan menjadi WNI dan sebagian di antaranya merupakan pemain keturunan. Kehadiran para pemain "asing" dianggap menghambat proses pembinaan pemain muda, sebuah anggapan yang serta merta diamini banyak pihak. Pertanyaannya, bagaimana bisa sepuluh orang itu secara tiba-tiba menyingkirkan ratusan bahkan hingga ribuan pemain asli Indonesia? Lagipula mereka tidak mewakili setiap posisi yang dibutuhkan dalam tim.

Pembinaan dan program naturalisasi adalah dua hal yang berbeda. Indonesia belum tentu mampu menjadi juara dunia meski menaturalisasi seluruh penggawa Barcelona sekali pun dan pada saat bersamaan tim Merah-Putih juga tidak meraih prestasi apa pun sepanjang dua dasawarsa terakhir.

Jika melihat catatan sejarah, Indonesia tak lagi berprestasi sejak 1991 usai meraih medali emas SEA Games Manila. Prestasi terbaik berikutnya adalah menjadi runner-up SEA Games 1997 dan beberapa kali menempati posisi serupa di ajang Kejuaraan AFF. Saat itu, Indonesia sama sekali tidak menggunakan jasa pemain "asing". Artinya, masalah pembinaan pemain Indonesia tidak ada kaitannya dengan para pemain naturalisasi.

Pembinaan usia dini (youth development) kita sudah bermasalah sebelum para pemain "asing" menjadi anggota Timnas. Apakah saya terdengar tidak nasionalis? Ini hanya masalah sudut pandang.

Bagaimana cara menyajikan soto yang paling benar? Kendati ada perbedaan selera, sejauh ini makan soto dari mangkuk terasa paling pas. Jika harus makan dari piring datar atau pinggan panas, rasanya akan sulit mendapatkan kenikmatan kuah soto.

Seperti halnya soto dalam mangkuk, program pemain naturalisasi juga hendaknya ditempatkan sebagaimana mestinya. Dibumbui yang pas saja dan disajikan dalam wadah yang cocok. Konon, pemain-pemain "asing" ini memperkecil kesempatan pemain lokal menembus skuat Garuda. Jika benar demikian, bukan pemain yang bermasalah, melainkan pengelolaan Timnas itu sendiri. PSSI dan BTN harus memastikan perlakuan kepada seluruh calon anggota tim nasional adalah sama. Hanya yang terbaik dan sesuai kebutuhan pelatih yang bisa bermain dengan kostum merah putih. Tidak ada yang diprioritakan, apakah itu pemain lokal maupun naturalisasi.

Kompetisi dan masa pelatnas merupakan ajang persaingan mereka sekaligus menunjukkan kepantasan diri bermain untuk Garuda. Di sisi lain, program naturalisasi membuka kesempatan bagi pemain yang memiliki darah Indonesia untuk berbakti pada tanah air. Sistem kewarganegaraan kita memang lebih rumit dibandingkan dengan negara-negara Eropa, tapi jika mereka ingin membuktikan diri kenapa tidak. Tetap saja mereka harus melalui proses yang sama seperti pemain lain, yaitu bermain bagus dan lolos seleksi.

Lalu, bagaimana dengan pemain yang tidak memiliki darah Indonesia? Asalkan mengikuti prosedur dan tidak mendapat perlakuan khusus rasanya bukan masalah. Buktinya Gonzales tidak merengek-rengek ketika beberapa kali ditinggalkan oleh Timnas dan dia baik-baik saja.

Memang dibutuhkan kebijakan dan kebijaksanaan untuk menjalankan program naturalisasi pemain, misalkan dengan tidak melakukan "nasionalisasi" pada pemain di bawah usia 20 tahun. Jika dilaksanakan dengan tepat dan porsinya pas, program naturalisasi pemain sebenarnya tak lebih hanya merupakan salah satu penopang untuk memperbanyak amunisi Timnas dan tidak akan bisa menggantikan peran pembinaan usia dini yang merupakan pondasi utama.

Satu lagi, pemain naturalisasi ini dapat dijadikan sebagai "alat penguji" bagi para pemain muda asli lokal. Mereka harus dijadikan pemicu semangat, bukan kemudian menjadi alasan untuk lari dari medan perang.

Masalah sepakbola negeri ini jauh lebih besar, antara lain seperti sistem pembinaan yang belum terarah dan tak terpadu, menaikkan level kompetisi, suporter yang ketinggalan zaman, pemerintah yang acuh tak acuh, politisasi, alat pencitraan, dan masih banyak lagi.

Jika melihat deretan masalah di atas, isu pemain naturalisasi tidak ada apa-apanya, kawan. Niat baik sesungguhnya tersirat di balik penghentikan program naturalisasi ini. Semoga bukan sekadar pencitraan semata.


Sepakbola Indonesia - Garuda Di Dadaku >> Halaman Khusus Sepakbola Indonesia
>> Berita Sepakbola Indonesia Lainnya
>> Semua Klub ISL & Panduan 2013
>> Semua Berita Indonesia Super League
>> Klasemen Indonesia Super League
>> Jadwal & Hasil Indonesia Super League
>> Jadwal - Hasil - Klasemen Divisi Utama
>> Semua Berita Indonesian Premier League
>> Jadwal - Hasil - Klasemen Indonesian Premier League

Terkait