thumbnail Halo,

Hingga detik ini tidak ada yang bisa menyamai prestasi Persib menjadi yang terbaik di kasta tertinggi sepakbola Indonesia dengan materi 100 persen pemain lokal.


GOALOLEH    GUNAWAN WIDYANTARA     Ikuti di twitter

Salah satu titik penting dalam sejarah sepakbola di Indonesia adalah peleburan dua kompetisi Perserikatan dan Galatama menjadi satu Liga Indonesia yang dalam perjalanannya berganti nama menjadi Indonesia Super League hingga sekarang.

Peleburan kompetisi tersebut terjadi pada 1994 dengan format dua wilayah. Pada era ini, Maung Bandung begitu berkibar, bergelimang prestasi dan memasuki kompetisi anyar dengan status jawara Perserikatan 1994 usai menghajar PSM Makassar.

Persib memasuki Liga Indonesia I dengan status jawara Perserikatan(Foto: Fokus Jabar.com)

Perjalanan Persib menjadi yang terbaik di Indonesia cukup unik karena tim kebanggaan Jawa Barat ini membuka kompetisi dengan kekalahan 1-0 dari Pelita Jaya namun di akhir fase grup pertama, Persib berhasil mengamankan peringkat kedua dengan poin 69 sekaligus menyegel satu tiket ke Jakarta, melakoni fase kedua kompetisi bersama tujuh tim lainnya.

Di babak delapan besar yang berlangsung di Jakarta, Persib bergabung di Grup B bersama Medan Jaya, Petrokimia Putra dan Assyabaab SGS. Dari tiga duel, skuat Biru-Putih sukses menjadi juara grup tak terkalahkan dan langsung dihadapkan pada duel keras melawan tim kuat Kalimantan Barito Putera di babak semi-final.

Duel antara Persib dan Barito berjalan sengit, permainan indah bola-bola pendek Persib diladeni permainan keras ngotot khas Barito. Persib yang menguasai jalannya pertandingan, pada akhirnya sukses melaju ke partai puncak dengan kemenangan tipis 1-0 untuk kemudian merancang duel melawan Petrokimia Putra di partai puncak.

Victory lap Persib Bandung (Foto: PersibHistory.com)

Sedikit terselip cerita unik berbau mistik di balik kemenangan Pangeran Biru di empat besar. Persib yang mendominasi pertandingan tak kunjung mencetak gol meski peluang demi peluang sanggup diciptakan hingga pada satu saat striker andalan Sutiono menemukan sebuah telur di dalam gawang Barito. Melihat telur tersebut, Sutiono mengambil dan membuangnya ke luar lapangan. Entah berkaitan atau tidak, tidak lama setelah episode tersebut gawang Barito yang dikawal Abdillah dibobol Kekey Zakaria.

Sebelum partai puncak bergulir, ribuan bobotoh dari berbagai sudut kota di Jawa Barat membanjiri Jakarta. Puluhan ribu di antara mereka bahkan tertahan di luar stadion Utama Senayan karena tidak kebagian tiket. Dominasi warna biru kebanggaan Bobotoh begitu terasa di dalam stadion mengingat fans Petrokimia hanya menguasai satu sektor di Senayan.

Skuat Persib 1995 (Foto: PersibHistory.com)

Petrokimia sejatinya sempat membungkam seisi Senayan ketika striker Jacksen F Tiago menjebol gawang Anwar Sanusi namun wasit menganulir gol tersebut karena salah satu pemain Petro terjebak off-side.

Pertandingan kedua tim semakin menegangkan, namun pada akhirnya di menit 76 Persib berhasil memecah kebuntuan melalui tendangan mendatar Sutiono. Kedudukan 1-0 ini bertahan hingga bubaran yang langsung disambut sorak sorai Bobotoh hingga memasuki lapangan.

Kisah pesta kemenangan Persib di Bandung tidak kalah meriah, Bobotoh memadati sepanjang jalan parade juara Persib dan mengelu-elukan para pemain bak pahlawan perang.

Momen emas Persib menuju tangga juara


Goal hadir via ponsel dengan alamat m.goal.com.
Unduh juga aplikasi Goal secara langsung untuk OS ponsel Anda:
Apple iTunes
Apple iOS
Blackberry App World
Blackberry
Google Play
Android
Nokia OVI Store
Nokia
Windows Phone
Windows Phone

Terkait