thumbnail Halo,
Benny Sihotang mundur sebagai ketua umum PSMS PT LPIS

Benny Sihotang Mengundurkan Diri

Benny Sihotang mundur sebagai ketua umum PSMS PT LPIS

Nina Rialita

Benny bersikeras, AD/ART PSMS harus diubah terutama soal tidak perlunya lagi sosok ketua umum dalam klub profesional melainkan direktur klub.


LIPUTAN  NINA RIALITA     DARI  MEDAN    

Ketua umum PSMS Divisi Utama LPIS, Benny Sihotang, mengundurkan diri dari pucuk pimpinan di PSMS Medan. Hal ini dilakukannya secara lisan di hadapan pengurus, perwakilan pemain, pelatih dan klub-klub PSMS di
sekretariat PSMS, Sabtu (1/6).

Benny menegaskan keputusannya menyerah adalah murni karena kegagalannya selama menjadi ketua umum PSMS, di antaranya faktor krisis finansial yang tak kunjung usai dan berimbas pada tunggakan gaji, serta sulitnya mengupayakan dana operasional laga kandang.

“Saya mundur karena kegagalan saya. Karena secara finansial harus diakui, di bawah kepemimpinan saya gagal. Itulah yang membuat saya mengembalikan mandat kepada pengurus dan pemilik PSMS, 40 klub. Namun,
secara lisan yang saya sampaikan saya sudah mundur, tapi secara aturan, saya akan membuat itu tertulis,” ujarnya kepada GOAL.com Indonesia

Selanjutnya, finansial tim akan ditangani manajer tim Syukri Wardi, seorang pengusaha minyak mentah yang selama ini memilih tidak begitu mau tampil di publik. Syukri Wardi kelak akan berdiri sendiri tanpa CEO,
Wimvi Tri Hardi yang menghilang sejak nyaris digelandang ke kantor polisi karena tidak bisa bertanggung jawab atas semua janjinya termasuk penggunaan dana manajer untuk gaji. Syukri juga secara tidak langsung akan diplot menjadi direktur PSMS, pasca wacana pengubahan AD/ART PSMS yang dianggap kuno dan masih mengadopsi jaman perserikatan.

“Tim mau main, tim ini butuh duit. Kalau ada yang mau membiayai, kenapa enggak didukung,” timpal Benny merujuk Syukri.

“Soal CEO, sejak awal saya katakan bubarkan saja tim ini sebelum nanti dikejar-kejar pemain. Tapi dia [CEO] menyatakan sanggup. Saya akan minta pertanggungjawaban CEO karena dia yang teken kontrak dengan
pemain. Ini sedang kami kaji, kalau kami lepaskan pun jabatan dia di sini, dia tetap harus tanggung jawab,” lanjut Benny.

Benny bersikeras dalam rapat pengurus tersebut, AD/ART PSMS harus diubah terutama soal tidak perlunya lagi sosok ketua umum dalam klub profesional melainkan direktur klub. Konsep inilah yang memicu Syukri
Wardi ditengarai mau menjadi pemodal.

“Sepakbola modern tidak ada ketua umum, yang ada itu pemiliknya. Misalnya PSMS pemiliknya 40 klub, ditaruh di mana dia. Dan, beliau [Syukri] meminta itu dilakukan perubahan. Saya sudah katakan, saya sudah stop sampai di situ. 40 klub nanti didudukkan dan bentuk AD/ART baru. Untuk mengubah AD/ART itu kuncinya ada di 40 Klub,” ujarnya.

Dari hasil rapat ini juga akan menuju usaha penyatuan kembali PSMS untuk kesekian kali, tepatnya pengurus. Sayangnya, tidak satu pun pengurus PSMS PT Liga yang hadir, meski klaim pihak Benny Sihotang
undangan secara lisan sudah disampaikan untuk hadir dalam rapat tersebut.

“Sebenarnya kalau mau menyatu gampang. Itu kerjaan klub-klub PSMS. Benang merahnya, yang mengangkat saya itu 40 klub dan yang mengangkat Indra Sakti Harahap (ketua umum PSMS PT Liga) itu juga 40 klub. Jadi ini penyatuan PSMS Medannya bukan timnya. Kalau tim 2014 memang harus menyatu. Itu hukum alam yang akan menyeleksi, satu harus mati. Jangka pendeknya tim ini harus main dan biarkan masing-masing berjalan. Kalau ketua umum ini kayak air dan api [dirinya dan Indra Sakti]. Jadi serahkan saja kembali kepada pemberi mandat 40 klub,” tuturnya.

Untuk itu, dalam rapat tersebut Julius Raja, ditunjuk sebagai ketua Komite PSMS Satu. Pria yang akrab disapa King ini nantinya akan menemui klub-klub dan menyampaikan perihal ini, dan segera dalam dua minggu ke depan diharapkan sudah bisa menggelar semacam kongres yang dihadiri 40 klub untuk klub-klub PSMS mengubah AD/ART tersebut.

Sementara itu, Syukri Wardi menambahkan keterlibatannya ke PSMS, sejatinya ingin di belakang layar. Dia sudah terlibat dalam tim saat pemain melakoni laga tandang di PSSB Bireuen, di mana pemain nyaris menolak berangkat karena tidak ada kejelasan finansial.

“Mengurus PSMS ini ternyata enggak cukup rasa cinta saja. Ada Rp380 juta yang harus dibayar untuk gaji pemain per bulan. Saat itu saya kasih pinjaman untuk melunasi gaji April. Dengan catatan CEO menjanjikan sponsor Rp6
miliar, satu di antaranya dari CILO. Saya lihat orang semua positif, makanya saat itu saya kasih pinjaman uang. Ternyata gaji belum selesai untuk April, karena digunakan CEO untuk biaya transportasi ke Pontianak [lawan Persipon]. Karena janjinya gaji saya bayar, transport itu tanggung jawab CEO. Saya merasa dibohongi mentah-mentah oleh CEO. Makanya saya enggak mau CEO diberhentikan, saya masih ada urusan sama dia. Saya tunggu sampai Senin ini. Tapi sepertinya dia sudah tidak bisa dihubungi, saya pun dihapusnya dari pertemanan  di BBM,” ungkap Syukri yang mengaku juga sempat dimintai tolong untuk membantu pendanaan laga away PSMS PT Liga ini.

Dia mengamini soal permintaannya dalam mengubah AD/ART PSMS.

“Saya mau PSMS profesional. Tapi kalau tidak terlaksana saya enggak mau meluncurukan uang untuk PSMS. Kalau mau profesional ya jadinya direktur PSMS. Saya enggak mau jadi ketua umum. Makanya, saya minta
bentuk komite untuk mengubah AD/Art. Karena ini sudah dibentuk, tinggal saya butuh suratnya dan diteken oleh ketua umum, jadi saya jalan dengan PSMS LPIS untuk pendanaanya. Hanya PSMS yang begini-begini saja di Indonesia. Nantinya kalau sudah jelas semua, billboard yang di pinggir lapangan harus jelas, jangan kayak sekarang duitnya enggak jelas. Saya kasian sama pemain, makanya nanti malam [Sabtu malam] akan saya kasih ke pemain (dana),” pungkas Syukri sembari mengungkapkan fakta bahwa akte PSMS 2010 sudah digadaikan oleh oknum pengurus PSMS.  (gk-38)

Terkait