thumbnail Halo,

Kado ulang tahum PSSI yang diperoleh satu bulan sebelumnya harus bisa dijadikan sebagai momen kebangkitan dari keterpurukan.


CATATAN    DONNY AFRONI


Peringatan hari ulang tahun (HUT) PSSI ke-83 hari ini bakal berbeda dibandingkan sebelumnya. Karut-marut selama tiga tahun terakhir yang melanda induk organisasi sepakbola nasional itu mulai menemukan secercah cahaya.

Kongres luar biasa (KLB) di Jakarta pada 17 Maret 2013 seakan-akan menjadi kado bernilai besar bagi PSSI di usianya yang kian mendekati satu abad. Hasil KLB itu telah melepaskan Indonesia dari ancaman sanksi FIFA terkait berbagai dualisme, baik di organisasi mau pun kompetisi.

Setidaknya hal itu cukup melegakan, karena kini PSSI bisa berkonsentrasi untuk memperbaiki segala kekacauan dan kerusakan yang tercipta selama lebih dari dua tahun.

Kendati demikian, hal itu tidak berarti Indonesia benar-benar terlepas dari sanksi. Komite eksekutif (Exco) FIFA dalam sidangnya pada 20 Maret 2013 juga memberikan catatan kepada PSSI: mereka akan terus mengawasi perkembangan dan situasi sepakbola di negeri ini.

Setidaknya, pernyataan FIFA itu mengindikasikan adanya sedikit keraguan penyelesaian konflik akan berakhir dengan mulus, mengingat KLB diwarnai aksi walk-out enam anggota Exco, yakni Farid Rahman, Sihar Sitorus, Bob Hippy, Mawardi Noerdin, Widodo Santoso, dan Tuti Dau.



Riak-riak yang berpotensi menjadi gelombang di masa mendatang masih mengancam PSSI. Banyaknya permasalahan yang belum terselesaikan secara tuntas dapat menghancurkan perjalanan rekonsiliasi selama 365 hari ke depan.

“Kami berharap kesepakatan yang diraih di kongres PSSI membuka jalan bagi persatuan di persepakbolaan Indonesia, dan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangannya,” demikian tulis sekjen FIFA Jerome Valcke dalam suratnya kepada Farid Rahman.

Memang banyak yang harus dibenahi PSSI pada tahun ini. Peningkatan kualitas klub di berbagai aspek menjadi salah satu yang harus dilakukan. Hasil buruk yang diraih Persibo Bojonegoro di Piala AFC 2013, yang diiringi dengan berbagai insiden memalukan, menjadi contoh tersendiri.

Begitu juga dengan permasalahan pembayaran gaji pemain. Pertarungan elit PSSI selama ini telah mengabaikan nasib para pemain yang menjadi salah satu unsur penyangga sepakbola nasional. Tak ketinggalan adanya tudingan mafia dan pengaturan skor yang berhembus makin kencang belakangan ini.

Tak kalah pentingnya penyatuan liga yang bakal terjadi pada akhir tahun ini. Penyatuan liga berpotensi menciptakan polemik bila tidak ditangani dengan bijak dan tegas. Ketimpangan pembagian jumlah klub yang mengikuti liga musim depan: 18 klub dari Indonesia super League (ISL), dan empat tim dari Indonesian Premier League (IPL), membuka ruang terjadinya konflik.

Namun pembenahan dualisme itu tidak hanya terjadi di kompetisi elit, karena hal itu juga melanda hingga ke kompetisi amatir. Padahal, kompetisi amatir perlu juga mendapat perhatian, karena banyak pemain muda yang beraksi di ajang ini. Pembinaan pemain muda tidak bisa diabaikan begitu saja.

Belum lagi konflik badan tim nasional (BTN). Bisa dibilang, badan ini masih menyisakan dualisme yang sepertinya dipandang sebelah mata. Bila tidak ditemukan jalan keluar penyelesaiannya, bakal memunculkan problema baru, tak hanya di dalam, tapi juga di luar, mengingat tim nasional berhubungan langsung dengan dunia internasional.



Tidak mudah untuk membangun ulang gedung yang sudah runtuh. Selama keakuan masih menghinggapi para stakeholder sepakbola Indonesia, sangat sulit membangun kembali puing-puing yang berserakan.

Peranan ketua umum PSSI Djohar Arifin Husein sangat besar untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang membelengu sepakbola Indonesia. Djohar tidak hanya cukup mengatakan: “Kalau mau ada yang ribut-ribut lagi, saya minta duduk manis saja. Sudah seharusnya kita bicara mengenai prestasi sepak bola di Asia”.

Djohar harus bisa merangkul semua stakeholder sepakbola nasional, dan tidak meminta mereka duduk manis seperti yang diucapkannya saat nyekar ke makam Soeratin satu hari menjelang perayaan HUT. Sikap proaktif diperlukan untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh pihak-pihak yang disebut 'kalau mau ada yang ribut-ribut lagi'.

“Semua stakeholders di sepakbola perlu menyadari, jika mereka ingin melayani masyarakat mereka, maka mereka harus menyelesaikan perbedaan. Sejujurnya, satu-satunya yang paling menderita dari situasi [kisruh] ini adalah orang-orang yang mencintai olahraga ini,” ucap wakil presiden FIFA Prince Ali bin Al Hussein pada akhir tahun lalu merespon kekisruhan di PSSI.

Jadikan momen HUT ke-83 PSSI sebagai ajang kebangkitan menuju ke arah lebih baik. Kembalikan kegembiraan penggila sepakbola di Indonesia, dan hilangkan kerutan di dahi mereka yang selalu muncul selama lebih dari dua tahun. Kegembiraan dari sepakbola setidaknya bisa mengurangi berbagai beban dalam kehidupan masyarakat di negeri ini.

Voting 20 Karya Terbaik Kontes Desain T-Shirt GOAL.com Indonesia
Tentukan desain favorit Anda melalui halaman polling kami.
Klik di sini untuk mengikuti jajak pendapatnya.


Terkait