thumbnail Halo,

Fardy menuding Persema kerap melakukan kebohongan terkait kepindahan Irfan ke klub TPL tersebut.


EKSKLUSIF   BIMA SAID     PENYUSUN   DONNY AFRONI    
Striker tim nasional Indonesia Irfan Bachdim harus melalui jalan terjal untuk meninggalkan klub Indonesian Premier League (IPL) Persema Malang, dan bergabung dengan tim Thailand Premier League (TPL) Chonburi FC.

Kepada pemimpin redaksi GOAL.com Indonesia Bima Said, Fardy mengungkapkan, keputusan Irfan bergabung dengan Chonburi didasari keinginan untuk melanjutkan karir sepakbola di tempat yang lebih baik, dipicu dengan keterlambatan gaji, dan pengelolaan manajemen klub yang tidak beres.

Berikut penuturan Fardy mengenai lika-liku perjalanan Irfan melanjutkan karir sepakbola di Thailand:

“Sejak hari pertama pembayaran gajinya sudah salah. Kadang dia menerima sepenuhnya, kadang lebih rendah, kadang lebih tinggi, tapi beberapa bulan terakhir dia sama sekali tidak menerima gaji."

“Saya berikan tanggal-tanggal pastinya supaya Anda tahu. Kontraknya dimulai November 2011. Pada bulan pertama gaji yang dia terima sudah kekurangan Rp4 juta, di bulan kedua kekurangan Rp5 juta, kemudian di bulan ketiga dia menerima kelebihan Rp300,000. Selanjutnya di bulan keempat sudah tepat. Kemudian di bulan kelima dia hanya menerima Rp15 juta. Tiga bulan berikutnya Rp17 juta, dan pada Juni 2012, Juli 2012 dan seterusnya mereka tidak membayar gajinya sama sekali. Gaji bulan Maret baru dibayar pada 10 Mei.”

“Akhirnya, pada bulan November, tiba-tiba dia menerima dua bulan gaji, kemudian di bulan Desember mereka tidak membayar gajinya. Lalu pada 9 Januari 2013 out of the blue mereka membayar 70 persen gajinya. Secara total, kami kehilangan 7,3 bulan gaji dari keseluruhan kontrak.”

“Sejak 26 Maret tahun lalu, saya sudah mengirim email ke Pak Didiet [CEO Persema Didiet Poernawan Affandy] supaya minta tolong agar gajinya Irfan dibayar. Jadi sudah hampir setahun saya memperjuangkan hak Irfan. Pada November, Pak Didiet menyampaikan kepada media, kalau sebuah klub menginginkan Irfan, mereka harus membayar biaya transfernya. Saya kecewa karena Irfan belum digaji lebih dari enam bulan. Jadi saya kirim email ke Pak Didiet, mengatakan kalau dia minta biaya transfer untuk Irfan yang belum digaji enam bulan adalah hal yang tidak masuk akal. Padahal saat itu, Irfan tidak sibuk mencari klub lain, tapi berita negatif tersebut membuat saya terganggu.”

“Di tengah-tengah itu, dikabarkan ada investor yang tertarik untuk membeli Persema. Jadi kami merasa ada harapan, karena Irfan mencintai Persema, mencintai Malang, mengingat ayah saya dari daerah sana. Jadi kami menunggu sejak investor itu masuk sekitar bulan September atau November. Banyak yang dibicarakan tapi tak ada yang terjadi. Akhir Desember, kami memutuskan untuk mencari klub lain, karena tidak ada kepastian dan Irfan ingin bermain bola, ingin latihan lagi dan lain-lain.”

“Jadi kami memutuskan untuk terbang ke Thailand, dengan biaya sendiri untuk tiket pesawat dan akomodasi, supaya Irfan bisa pindah ke klub lain di Thailand. Pekan pertama Januari, kami trial di BEC Tero. Kami ke sana dua hari. Setelah dua hari nenek saya meninggal, lalu pada hari ketiga Irfan harus bermain. Dia tidak fit, karena sudah tiga minggu sejak Piala AFF dia tidak ada latihan. Jadi dua hari training ditambah satu pertandingan, selain itu nenek kami meninggal membuat Irfan tidak bisa maksimal. Tetap saja Irfan bermain baik, yang jelas tidak buruk. Saya memaksa BEC Tero mengambil keputusan, lalu mereka memutuskan tidak bisa mengambil Irfan karena mereka belum cukup melihat penampilan dia.”



“Pada 7 Januari, Persema mengirim surat resmi ke BEC Tero, dan mengatakan bahwa mereka tidak akan merilis Irfan apabila mereka tidak membayar biaya transfernya. Saya mengirim email dengan marah-marah ke Pak Didiet. Anda tidak membayar gaji Irfan selama delapan bulan, Anda tidak berhak mengatakan hal seperti itu. Mustinya dia lebih baik diam dan bersikap lebih profesional, tanpa harus berkonflik dengan saya dan BEC Tero. Pada 10 Januari saya kembali mengirim email untuk menanyakan gaji.”

“Peraturan FIFA menyebutkan, apabila Anda ingin menghentikan kontrak, Anda harus mengirim surat resmi [ke manajemen klub]. Pada saat itu, kami tidak mengirim surat ke Persema, alasannya karena kalau Anda berhenti lalu tidak menemukan klub, Anda tidak akan dapat gaji lagi, mengingat kontrak Irfan masih berlaku hingga 2014.”

“Tapi pada saat yang sama, saya sudah menyiapkan peluang lain buat Irfan di Chonburi. Meskipun BEC Tero mengundang untuk kesempatan di masa mendatang, kami ingin melihat peluang di Chonburi. Jadi kami kembali ke Thailand seminggu kemudian sesudah pemakaman nenek saya.”

“Kami ke Chonburi selama seminggu. Pada 26 Januari, Chonburi ingin mengontrak Irfan. Pada 24 Januari, pengacara saya mengirim surat ke Persema, untuk menghentikan kontrak Irfan. Semuanya dilakukan dengan bantuan FIFA dan FIFPro. Lalu pada 26 Januari 2013, Irfan meneken kontrak barunya. Pada hari yang sama, Persema membalas email pengacara saya, dan mengatakan bahwa mereka masih negosiasi dengan Irfan. Karena saya mendapat tembusan email tersebut [Cc], saya membalas bahwa kami tidak akan negosiasi lagi, kami akan memutuskan kontrak. It's over.”

“Jadi kami mengatakan ke Chonburi agar mendapatkan ITC [international transfer certifcate] untuk Irfan di Indonesia. Mereka meminta kepada FIFA melalui TMS [transfer management system] untuk mendapatkan ITC-nya. PSSI ingin membantu kami, tapi Persema tidak mau merilis ITC Irfan. Pada saat yang sama, mereka masih mengomentari hal-hal negatif tentang Irfan dan Chonburi di media. Mereka mengatakan hal-hal seperti Chonburi tidak bersikap etis, tidak berhubungan dengan Persema. Jadi saya mengatakan, Chonburi tidak perlu berurusan dengan Persema, mengingat Persema tidak membayar gaji pemainnya selama delapan bulan. Kemudian Persema masih menyampaikan berita bohong tentang Irfan, bahwa dia sudah menerima gaji.”

“Chonburi mulai frustrasi karena mereka tidak ingin mendengar ada berita buruk tentang mereka di Indonesia. Mereka juga tidak menginginkan berita buruk tentang Irfan di klub mereka. Saya frustrasi, sekaligus takut karena kami khawatir deal sama Chonburi ini batal. Akhirnya setelah pertandingan melawan Irak, Irfan bertemu dengan Pak Didiet di kantor LPI di Gedung The Energy [Medco Tower]. Kami bertanya, jadi Persema mau apa? Mereka bilang mereka menginginkan biaya transfer atas Irfan. Saya mengatakan bahwa Anda tidak bisa mendapatkannya karena Irfan tidak digaji selama delapan bulan. Peraturan FIFA sudah jelas.”

“Pada 5 Februari, saya sudah mengirimkan kasus ini sepenuhnya kepada FIFA. Jadi dengan Persema kami sempat meminta supaya gajinya tidak perlu dibayar, tapi Persema merilis Irfan dan membiarkannya sebagai pemain resmi Chonburi. Mereka bilang oke, bisa. Lalu di draft kontraknya, saya menyebutkan Persema tidak perlu membayar gajinya, dan sebaliknya Persema merilis Irfan ke Chonburi. Mereka setuju. Tapi mereka mengirim email dengan kontrak final, di situ mereka sebut Persema telah menyelesaikan gaji Irfan, dan Irfan akan dirilis ke Chonburi. Saya minta ke Pak Didiet, agar menyebutkan apa yang tidak dilakukannya, lalu memberikan hak kami, dan kami akan bahagia. Kami tidak menginginkan uangnya, ini bukan persoalan uang lagi. Kami hanya menginginkan yang sebenarnya, berdasarkan bukti, dokumen, yang mengatakan bahwa kami bukan pihak yang meminta uang. Kalau saya meneken kontrak yang menyebutkan bahwa Persema telah menuntaskan semuanya, Persema bisa ke media dan bilang bahwa mereka telah membayar gaji Irfan, padahal itu tidak jujur.”

“Jadi saya membalas email tersebut dan mengatakan ke Persema bahwa kami tidak akan menandatangani dokumen ini. Karena isinya tidak benar. Tapi permintaan saya tidak disetujui. Lalu saya bilang, biarlah FIFA yang memutuskan. Itu lebih adil. Kalau ke TMS, Persema atau PSSI dalam waktu 14 hari tidak memberikan jawaban atau dokumen resmi dengan alasan yang jelas kenapa Irfan tetap di Indonesia, sistem akan otomatis memberikan ITC Irfan ke Chonburi. Itulah yang terjadi. Sistem dan FIFA memberikan keputusan. Saya tidak perlu melakukan apa-apa lagi, FIFA yang melakukannya.”

“Hal baik lainnya, kami masih berhak atas gaji yang belum dilunasi Persema. Saya sudah mengajukan kasus baru untuk mendapatkan gajinya. Sebenarnya bukan persoalan uang lagi bagi kami, tapi ini menjadi kasus karena mereka berbohong, menyampaikan hal-hal buruk tentang kami. Selama ini kami diam. Selama tidak digaji, apakah Anda pernah mendengar Irfan membeberkannya ke media? Tidak pernah. Bahkan dia selalu ada di pertandingan Persema.”

“FIFA sudah memiliki semua dokumen, termasuk email-email antara saya dan Pak Didiet. Mereka punya semua bukti 100-200 halaman, termasuk kontrak lama Irfan dan kontrak barunya di Chonburi. Tidak ada peluang lagi deal Irfan sama Chonburi gagal. Secara resmi, Irfan sudah dikontrak dua tahun bersama Chonburi.”



“Irfan sekarang mengalami cedera ringan, tapi dia akan bermain. Di Thailand ada aturan 3+1 [tiga pemain asing ditambah satu pemain Asia], dan sekarang ada satu pemain Jepang di Chonburi. Jadi Irfan harus bersaing dengan pemain Jepang ini untuk mendapatkan tempat di tim inti. Ini tantangan bagus bagi Irfan, dia harus membuktikan bahwa dia lebih baik dibanding pemain Jepang ini. Dia akan tumbuh menjadi pemain yang jauh lebih bagus dari sekarang, karena level di Thailand saat ini lebih tinggi dari Indonesia. Chonburi adalah tim yang bagus dan tangguh. Fasilitas mereka sudah bagus, stadion bagus, lapangan bagus, semua di klub sangat profesional. Irfan mengakui, setelah Ajax, Chonburi adalah klub paling profesional yang saya perkuat, dan yakin dia akan menjadi pemain yang jauh lebih baik dari sekarang.”

“Itulah sebabnya kami rela mengorbankan gaij 7,3 bulan demi bermain di Chonburi. Fokus ke masa depan dan yang penting Irfan bisa bermain bola lagi. Seandainya Persema cerdas, mereka akan menyetujui draft kontrak sesuai permintaan kami di mana mereka diminta jujur. Karena mereka tidak setuju, sekarang mereka malah diwajibkan membayar gaji Irfan. FIFA akan mengejar Persema, kami tidak perlu melakukan apa-apa lagi dengan Persema.”

“Kami hanya menginginkan keadilan. Kami tidak ingin menyalahkan pihak manapun, tidak ingin mengatakan hal-hal buruk tentang Persema, tapi kami tidak punya pilihan lagi. Kami harus melindungi diri. Kami ke media untuk menyampaikan hal yang sesungguhnya.”

“Pak Didiet juga menyampaikan ke media bahwa saya ingin membawa Kim [Jeffrey Kurniawan] ke Thailand. Bukan saya yang meminta Kim untuk ikut ke Thailand. Kalau dia mau, saya akan berusaha mencari klub buat dia di Thailand. Dia tidak mau pindah, dia tidak mau membawa situasinya ke FIFA. Saya menghargai dan mendukung keputusan dia. Di Indonesia dia ada peluang untuk pindah ke klub lain, tapi dia ingin tetap di Persema. Oke, no problem.”

“Kami membuktikan, kalau ada pemain yang ingin ke luar negeri karena gajinya tidak dibayar, segalanya memungkinkan. Saya berharap pemain-pemain lain tidak mengalami keterpurukan. Kami bangga, kami bersyukur Indonesia memberikan Irfan kesempatan dan memungkinkan segalanya terjadi.”

Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait