thumbnail Halo,

Kekacauan sepakbola Indonesia belum mereda.


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter
Adakah yang lebih kacau daripada kondisi sepakbola Indonesia sekarang ini?

Begitu ditunjuk menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo langsung unjuk gigi dengan berinisiatif meredakan konflik internal PSSI serta dualisme liga dan masalah boikot di timnas Indonesia. Rekonsiliasi PSSI memang menjadi salah satu pesan khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Roy. Hingga awal Februari, publik menanti hasil dari upaya bapak Menteri. Kepada PSSI, Roy melontarkan "tantangan" (atau bisa juga dilihat "ancaman") untuk meraih hasil memuaskan saat menghadapi Irak di laga perdana kualifikasi Piala Asia 2015. Pertandingan digelar Rabu (6/2) di Dubai karena keamanan Irak belum memungkinkan. Pada hari yang sama digelar pula seluruh pertandingan kualifikasi Piala Asia.

Sebelum pertandingan itu, Indonesia dilanda ketidakpastian uji coba melawan Yordania di Amman. Keberangkatan baru bisa dipastikan dua hari sebelum pertandingan(!) sehingga tim praktis cuma punya waktu pemulihan sehari. Ditambah cuaca dingin, pasukan Nil Maizar menyerah 5-0 dari tuan rumah.

Hasil itu membuat fans tak banyak berharap. Namun, menghadapi lawan yang menurunkan sejumlah pemain muda, Indonesia mampu bertahan dengan sempurna dan Endra Prasetya tampil luar biasa  - kecuali sebuah insiden pada awal babak kedua. Handi Ramdhan salah memberikan operan yang dimanfaatkan kapten Irak Younis Mahmoud untuk mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan. Hasil itu secara obyektif bisa diterima oleh fans dan media meski tetap saja kekalahan adalah kekalahan.

Nil sendiri optimistis bisa membalas kekalahan ketika laga digelar di Jakarta, November mendatang. "Kami melakukan satu kesalahan dan kebobolan satu gol. Sekarang saya kembali ke Indonesia untuk mulai memikirkan bagaimana cara mengalahkan Irak di kandang sendiri," janjinya.

Nil mungkin tidak bisa menepati janjinya karena jalan cerita ini menemui akhir berpilin dan menghebohkan. Hanya satu malam setelah kekalahan di Dubai, ketika tim baru menyelesaikan sarapan untuk kemudian bersiap-siap pulang, di Jakarta digelar sebuah konferensi pers penting. Ketua umum PSSI Djohar Arifin Husein mengumumkan Luis Manuel Blanco sebagai pelatih baru untuk menangani timnas senior dan U-23. Media, fans, dan bahkan anggota komisi eksekutif PSSI terhenyak. Selain menyisakan pertanyaan tentang nasib Nil dan Aji Santoso, keputusan penunjukan dinilai melangkahi karena tidak melalui pertemuan serta kesepakatan komisi eksekutif. "Itu urusan nanti," jawab Djohar untuk dua pertanyaan itu. Seakan tidak memberi kesempatan fans untuk mencerna penunjukan Blanco dan nasib Nil, pada hari yang sama komisi eksekutif mengumumkan calon direktur teknik timnas Lionel Charbonnier dan pelatih tim U-14 Paolo Camargo.

Dari analisis umum yang berkembang sehari terakhir, tampaknya penunjukan Blanco merupakan salah satu "solusi" dari Pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan sepakbola tanah air. Rekomendasi Blanco diduga merupakan hasil pertemuan Presiden SBY dengan Presiden Argentina Cristina Fernandez de Kirchner pertengahan Januari lalu. Jika itu benar, berarti setelah adanya PSSI, terbentuknya organisasi "breakaway" KPSI, kini Pemerintah mengambil peranan sebagai pihak ketiga yang mencampuri urusan sepakbola.

Adakah negara lain yang memiliki situasi seburuk di Indonesia saat ini?

Ikuti perkembangan terkini sepakbola nasional di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita sepakbola Indonesia serta informasi terbaru timnas, klub-klub IPL, ISL, dan Divisi Utama, dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Indonesia.

Terkait