thumbnail Halo,
Persid Jember Terancam Dilego

Persid Jember Terancam Dilego

Liga Indonesia

Selama musim kompetisi 2011/12, Persid Jember terseok-seok dalam pendanaan karena tidak memiliki sponsor kuat.


LIPUTAN  HAMZAH ARFAH     DARI  JEMBER    
Kesulitan mendapatkan dana untuk mengarungi kompetisi Divisi Utama (DU) musim 2012/13 di bawah naungan PT Liga Indonesia, membuat Persid Jember terancam dijual. Itu terjadi, bila jajaran pengurus dan manajemen Persid gagal memperoleh dana yang cukup, untuk mengarungi kompetisi selama satu musim.

Menurut ketua umum (ketum) Persid Jember Sunardi, saat ini pilihan realistis bagi Persid hanya ada dua, yakni tidak mengikuti kompetisi ataukah dijual pada pihak lain. Ia menjelaskan, Persid setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp2 miliar, untuk dapat mengikuti kompetisi Divisi Utama musim 2012/13.

“Tidak mengikuti kompetisi berarti degradasi. Sementara untuk dapat berlaga di ajang Divisi Utama mendatang, dibutuhkan dana sekitar Rp2 miliar. Dana ini sebenarnya tak sebesar musim lalu, karena Persid akan lebih banyak bermain di Jawa Timur. Tapi tentu saja, kontrak pemain akan lebih rendah dibanding dengan musim sebelumnya,” ujar Sunardi kepada GOAL.com Indonesia.

Dengan sudah tak lagi didanai oleh Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) kabupaten Jember, karena berstatus sebagai klub sepakbola profesional, maka praktis Persid Jember harus mencari sponsor untuk menutupi kebutuhannya. Selama musim kompetisi 2011/12, klub berjuluk Macan Raung ini bahkan terseok-seok dalam pendanaan, karena tidak memiliki sponsor kuat.

Jika nantinya PT Liga Indonesia selaku operator kompetisi bakal memberikan subsidi sekitar Rp500 juta, kepada setiap klub peserta Divisi Utama musim 2012/13. "Maka, kami tinggal mencari tambahan sekitar Rp1,5 miliar. Tapi kalau dibebankan kepada saya sebagai ketua umum dan manajer sementara, kan bisa jadi persoalan," jelasnya.

Karena itu, Sunardi masih perlu membicarakan hal ini dengan Bupati Jember MZA Djalal. Ia sangat paham, jika Persid dilarang menerima dana negara dari APBD. Namun Sunardi yakin, sebagai kepala daerah, Djalal diyakini bisa memberikan solusi dan diharapkan mampu membangkitkan gairah pengusaha di Jember untuk ikut mendanai Persid bersama-sama.

"Tapi kalau nanti dengan hitung-hitungan yang ada, tidak ada yang mau membiayai dan tidak peduli dengan Persid, ya mau bagaimana lagi? Ya sudah dijual saja, siapa yang mau beli Persid silahkan," papar Sunardi.

Ia pun tak mempermasalahkan, jika nantinya Persid pindah home base di luar kabupaten Jember, gara-gara dijual atau dimerger dengan klub lain. Namun, Sunardi belum bisa memastikan apakah Persid akan betul-betul dijual atau tidak, sebab semuanya tergantung dari pertemuan dirinya dengan bupati Jember nantinya.

"Ya tidak apa-apa, andaikata nanti Persid dijual dan mengharuskannya pindah ke luar Jember. Sebab kalau tidak ada dana, ya lebih baik dijual saja. Kalau dijual ya paling tidak harganya antara Rp5 sampai 10 miliar. Tapi keputusan dijual atau tidaknya masih belum final, masih menunggu arahan lebih lanjut dari Pak Bupati," paparnya.

Sunardi juga menjelaskan, bila sebelumnya ada pengusaha dari Jakarta yang siap memberikan sponsor bagi Persid. Namun pengusaha itu mengurungkan niatnya, karena melihat sepakbola di Jember masih belum kondusif. Salah satu indikasi ketidakkondusifan itu adalah, saat dilaporkannya manajemen Persid ke polisi gara-gara berutang Rp1 miliar kepada Perusahaan Daerah Perkebunan, beberapa waktu lalu. (gk-43)

Ikuti perkembangan terkini sepakbola nasional di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita sepakbola Indonesia serta informasi terbaru timnas, klub-klub IPL, ISL, dan Divisi Utama, dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Indonesia.

Terkait