thumbnail Halo,

Campur tangan pemerintah saat ini, menurut Gurning adalah yang terbaik.


LIPUTAN  NINA RIALITA     DARI  MEDAN    
Pelatih Kepala PSMS Medan yang akan berkompetisi di divisi utama LPIS, Abdul Rahman Gurning masih menyimpan asa bahwa sepakbola Indonesia jauh dari sanksi FIFA.

"Kalau saya, janganlah sampai disanksi. Kalau bisa ya bersatu (PSSI dan KPSI)," ujarnya usai memimpin latihan Saktiawan Sinaga dkk di Stadion Kebun Bunga.

"Jikapun memang disanksi. Itu kesalahan yang kita semua harus merasakannya. Tapi ya kalau bisa jangan," timpal mantan pelatih Gresik United ini.

Pun dia mengatakan, sanksi nantinya tidak hanya akan mempengaruhi bakat pesepakbola Indonesia yang ingin berkarya di kancah internasional, tapi kemungkinan  kompetisi tanpa pemain asing.

"Kalau itu (tanpa pemain asing) saya rasa tidak masalah. Karena tidak semua pemain asing di tanah air ini profesional. Masih banyak yang mengaco. Kita bisa lihat Marcio Souza, Along. Bahkan, Cristian Gonzales awal-awal berkarir di Indonesia sempat begitu," lanjutnya.

"Kalau main yang lokal-lokal saja enggak masalah. Mudah-mudahan, jika sanksi FIFA terjadi menjadi pelajaran. Bukan hanya PSSI, KPSI. Tapi semua pelaku sepakbola termasuk beberapa klub-klub karena belum tuntas juga soal hak dan kewajiban kepada pemain," bebernya.

Campur tangan pemerintah saat ini, menurut Gurning adalah yang terbaik. "Inilah yang terbaik. Baiknya pemilihan figur-figur baru untuk organisasi sepakbola kita dan semua ditata kembali," tukasnya.

Apa yang sedang terjadi, kata Gurning adalah karena rasa tidak puas kedua belah pihak PSSI dan KPSI.

"Saya tidak pro sana sini ya, saya pernah melatih klub ISL dan IPL. Kepada PSSI kenapa harus mengubah statuta Bali dan kompetisi diubah. Udah bagus ISL ngapain dibentuk yang baru. Kalau ditinjau ulang lagi, begitu juga KPSI awalnya berangkat dari rasa tidak puas karena keputusan setelah PSSI baru. Namanya, komite penyelamat, niatnya bagus. Tapi sekarang apa yang diselamatkannya, jadi kesannya penghancur. Itu pendapat saya, dua-duanya salah," tuturnya.

Gurning juga mengungkapkan, secara jujur agar pemerintah masih bisa memperbolehkan APBD. Dia ogah menggunakan kata profesional, lantaran sepakbola Indonesia masih belum siap untuk profesional.

"Sumber pendanaan belum bisa diandalkan. Profesional? Belum. Hanya beberapa klub yang bisa. Cuma ya itu, enggak mau jujur mengakui kalau belum mampu profesional. Kalau profesional harus punya stadion sendiri dan lainnya. Di mana di Indonesia yang punya stadion, mess dan fasilitas lainnya sendiri. Rata-rata masih makai aset pemerintah daerah," ucapnya.

"Sekarang ini memang harus diambil alih pemerintah. Dibilang mundur, apa boleh buat, sambil menyiapkan ke depan, mundur selangkah enggak apa, tapi bisa maju dua langkah. Daripada kompetisi jalan, tapi berantem terus enggak akan ada habisnya," bebernya. Bahkan, dia menambahkan jika perlu kembali ke jaman Galatama dan Perserikatan.

Soal penyatuan kompetisi yang jika nanti diputuskan, Gurning pun rela kehilangan pekerjaan sebagai pelatih PSMS.

"Rela demi kemajuan PSMS satu Tapi siapa tahu dipilih lagi (jadi pelatih). Kalaupun enggak dipilih apa boleh buat. Karena kita enggak selamanya di PSMS. Soal dualisme PSMS, saya salahkan klub-klub PSMS karena mendukung kanan kiri. Bukan salah Indra Sakti atau Benny Sihotang," pungkasnya. (gk-38)
 
Ikuti perkembangan terkini sepakbola nasional di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita sepakbola Indonesia serta informasi terbaru timnas, klub-klub IPL, ISL, dan Divisi Utama, dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Indonesia.

Terkait