thumbnail Halo,

Benny Sihotang bawa PSMS ke LPIS.


LIPUTAN  NINA RIALITA     DARI  MEDAN    
Dualisme PSMS Medan memasuki tahap akhir yang sudah diprediksi jauh hari. PT Liga akhirnya memilih PSMS versi ketua umum Indra Sakti Harahap untuk berlaga di kompetisi divisi utama 2012/2013. Dengan ini, maka pendaftaran yang juga dilakukan oleh kubu ketua umum Benny Sihotang ditolak dan Benny Sihotang cs berpaling ke kompetisi di bawah LPIS.

Hal ini ditandai dengan keluarnya surat bernomor 040/EXCO-PSSI/XI/2012 perihal Status Klub PSMS tertanggal Jakarta, 24 November 2012. Di dalam surat yang difaxkan dan diteken La Nyalla Mattalitti tersebut, menyampaikan setelah melakukan investigasi terkait permasalahan organisasi klub PSMS, maka PSSI (KPSI) memutuskan pengelolaan organisasi klub PSMS adalah di bawah kepengurusan Indra Sakti Harahap yang terpilih sebagai ketua umum 29 Juli 2012.

Selanjutnya surat kedua bernomor 01061/Liga/XI/2012, perihal status keikutsertaan PSMS diteken CE0 PT Liga Joko Driyono. Dalam surat ini merujuk surat PSSI, maka akan menindaklanjuti pendaftaraan klub PSMS di bawah Indra Sakti sebagai peserta kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2012/2013.

Sekretaris Klub PSMS versi ketum Indra Sakti Martius Latuperissa kepada media, Minggu sore mengatakan menerima surat via fax itu Sabtu malam sekira pukul 20.00 WIB. Fax tersebut sampai melalui Hinca Panjaitan yang sedang ada di Medan dalam proses verifikasi klub. "Yang benar menurut mereka (KPSI) adalah kami. Setelah melalui verifikasi dengan cara mereka sendiri. Dengan ini kami akan segera launching tim, sebelum kongres 12 Desember," ujarnya di sela-sela Turnamen SSB U-14 Sumut di Lapangan Sejati Pratama.

"Launching harus meriah, Hinca akan bawa Slank. Persiapan mereka sendiri terutama Hinca lebih maju daripada kita di sini. Mereka mau EO sendiri untuk launching. Karena mereka punya kepentingan untuk PSMS  ikut kompetisi," timpalnya.

Selama ini, lanjutnya, pihaknya selalu punya satu suara untuk main di PT Liga. "Kami menyerahkan berkas secara lengkap dan tebal, kronologis dan segala macamnya. Sementara kubu mereka (Benny Sihotang) hanya tiga lembar isinya susunan pengurus saja. Kami juga sudah diminta penjelasan soal kenapa terjadi dualisme," bebernya.

Dia menegaskan, dengan keputusan ini, maka sesuai hasil musyawarah Rapat Umum Luar Biasa (RULB) Juli lalu, PSMS harus satu. "Kami akan tetap tuntut bahwa PSMS  tidak boleh ada dua. Kalau musim lalu ada di dua kompetisi, tapi kepengurusan harus satu. Siapa yang bikin dua ya Rahudman (Walikota Medan) karena dia teken keduanya. Dari dulu  mana pernah kepengurusan dua," jelasnya.

"Kalau mereka (kubu Benny) mau main di LPIS ya terserah. Tapi PSMS harus satu. Kalau mau ikut (LPIS), jangan pakai nama PSMS. Kami harap masyarakat Medan bisa jadi pengadil yang baik," tegasnya.

Dengan keputusan ini, pihaknya juga sudah mempunyai alternatif untuk nyaman latihan, jika Stadion Kebun Bunga masih terkendala, karena kubu Benny Sihotang mengantongi surat pemakaian dari Walikota. "Kami bisa latihan di mana saja. Bisa di lapangan USU dan lainnya. Tapi, kami tetap minta Kebun Bunga. Kalau tetap terjadi pelarangan, itu kami pertanyakan. Kalau untuk pertandingan, kami juga sudah sounding ke PT Liga soal Stadion Baharoeddin Siregar, karena Teladan direnovasi," ungkapnya.

Sementara itu, Benny Sihotang mengaku belum menerima info soal PT Liga memutuskan kubu Indra Sakti untuk kompetisi musim depan. "Saya belum ada dikasih kabar soal itu. Jika memang iya dan benar, ya saya ucapkan selamat. Semoga PSMS di bawah PT Liga bisa membawa prestasi," ujarnya kepada GOAL.com Indonesia.

Benny menambahkan, keputusan tersebut sudah tidak mempengaruhi, lantaran pihaknya sudah memutuskan akan mengalihkan pendaftarkan ke LPIS. Ini merupakan hasil rapat pengurus, Sabtu sore.

 "Ini masih sebatas hasil rapat, kami sepakat untuk berada di bawah PSSI. Kami akan mendaftarkan secara administrasi segera. Yang jelas ini terjadi, lantaran kami butuh kepastian dari PT Liga, namun sangat sulit bagi kami untuk menembus jajaran Pak Joko Driyono (CEO PT Liga). Selama ini kami sudah menunjukkan keseriusan kami dengan mendaftarkan ke PT Liga. Tapi, kami butuh kejelasan karena kompetisi akan dimulai Januari. Akhirnya, kami membuat kesepakatan baru  dari rapat pengurus," tuturnya.

Pengalaman PSMS IPL musim lalu yang minim penonton, lanjutnya tidak akan sama dialami skuatnya musim ini. "Industri butuh penonton yang banyak untuk menambah kas. Dan tidak bisa kita ingkari musim lalu PSMS yang di LPIS sepi penonton, tapi tidak bisa memandang sesuatu dari sisi itu saja. Musim ini, Stadion Teladan hampir tidak bisa digunakan (renovasi). Jadi mainpun di Lubukpakam (Stadion Baharoeddin Siregar). Jadi pendapat saya pribadi, dengan main jauh dengan komposisi skuat yang ada dan bisa memberikan prestasi. Kami yakin penonton mau datang," bebernya.

Benny juga secara tegas membantah, jabatannya sebagai Dirut PD Pasar akan goyang, lantaran Walikota Medan yang sempat jadi ketua umum PSMS sangat pro kompetisi PT Liga. "Secara jujur saya katakan, saya jadi ketua umum PSMS dengan kesadaran pribadi bukan karena didorong Pak Wali. Saya meminta izin dengan beliau iya, karena nantinya akan ada pengaruh tugas saya di PSMS dan PD Pasar. Keputusan main di LPIS memang bertolak belakang, tapi saya tidak ada tekanan dari walikota," tuturnya.

Pria berusia 42 tahun ini menegaskan akan tetap menggunakan nama PSMS di LPIS. "Jika ada yang minta PSMS satu, maka saya sejak awal sudah mau PSMS satu. Saya minta Bang Indra jadi Ketum sebelum RALB dilakukan, tapi apa. Dan jika kami tidak boleh menggunakan nama PSMS di LPIS, maka itu hanya bisa dilakukan setelah keputusan pengadilan. Tidak bisa atas dasar personal. Biarkan kami fokus ke LPIS, karena Bang Indra sudah ke PT Liga," pungkasnya. (gk-38)

Terkait