thumbnail Halo,

Manajemen Persebaya mengirim sinyal tidak akan menuruti kontrak selangit untuk Andik.


LIPUTAN  FAHRI RAYYANA     DARI  SURABAYA    
Masa depan Andik Vermansyah di Persebaya terus mengundang spekulasi. Kendati Manajemen Bajul Ijo sudah memagari, pemain ini tak akan dijual, namun tak menghentikan spekulasi akan masa depan pemain ini. Apalagi setelah dikabarkan antara Persebaya dan Andik tak menemui kata sepakat soal nilai kontrak.

Pangkal persoalannya adalah permintaan kontrak Andik yang naik sampai seratus persen lebih. Padahal, kondisi keuangan Persebaya saat ini tak terlalu bagus.

"Untuk Andik masih by progress. Kami sepakat akan memulai pembicaraan lagi setelah Piala AFF nanti. Andik biar konsentrasi di timnas dulu. Yang pasti, Andik nyatakan akan bersama Persebaya musim depan," tandas Ram Surahman, media officer Persebaya, yang ikut menemui Andik di Jakarta.

Sementara itu, CEO Persebaya Gede Widiade tak mau berkomentar banyak soal masa depan Andik. Hanya saja, pengusaha properti ini mengakui adanya kenaikan permintaan kontrak Andik musim depan.

"Kita lihat saja nanti," tukasnya pendek kepada GOAL.com Indonesia.

Meski begitu, bos Persebaya ini mengirim sinyal tak akan menuruti kontrak pemain yang nilainya selangit. Gede tak membantah, dirinya berusaha berhemat sebisa mungkin dalam belanja pemain. Menurutnya, hal itu dilakukannya agar Persebaya punya neraca keuangan yang sehat. Ia mengaku kapok saat musim lalu membawa Persebaya dalam kondisi finansial yang berantakan.

“Saya berharap pemain rasional dan bijak. Apa yang saya lakukan ini demi membuat Persebaya tumbuh menjadi tim yang sehat secara finansial. Buat apa punya pemain dengan kontrak mahal, tapi hanya mampu membayar gaji pemain tersebut sampai tiga bulan saja?,” ujar Gede, mengingatkan soal masalah klasik yang dialami hampir semua klub di Indonesia.

Menurut Gede, kebijakan belanja yang diterapkannya, merupakan rencana untuk membuat Persebaya bisa melaju mulus sampai akhir musim. Ia mengatakan, salah satu penyebab insiden telat bayaran yang dialami Persebaya musim lalu, adalah banyaknya pemain yang punya nilai kontrak tak rasional.

“Saya mengerti kalau ada pendukung yang marah, andai kami tak bisa belanja pemain mahal. Tapi, mereka juga ingat, Persebaya itu kini tidak lagi pakai uang pemerintah. Artinya, hidup mati klub ini, tergantung dengan bagaimana cara mengelola keuangan yang ada. Kalau kita terlalu boros di belanja pemain, keuangan jelas tidak akan sehat,” tandasnya. (gk-31)

Ikuti perkembangan terkini sepakbola nasional di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita sepakbola Indonesia serta informasi terbaru timnas, klub-klub IPL, ISL, dan Divisi Utama, dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Indonesia.



Terkait