thumbnail Halo,

Musim lalu Persik defisit anggaran sebesar Rp2 miliar lebih.

Satu per satu klub sepakbola Tanah Air dilanda krisis finansial. Kali ini, badai keuangan tersebut menerpa Persik Kediri. Di mana klub dengan julukan Macan Putih ini dikabarkan tengah dililit hutang sebesar Rp2 miliar lebih.

Kepastian itu didapat dari jajaran manajemen Persik, melalui asisten manajernya. Menurut Arya Wisnuadhi, yang menjabat sebagai asisten manajer Persik Kediri, timnya mengalami defisit anggaran selama menjalani musim kompetisi 2011/12.

"Kompetisi 2011/12 kemarin, Persik mengalami defisit anggaran sebesar Rp2 miliar lebih. Tunggakan itu berasal dari pihak ketiga, baik internal maupun pihak luar," ungkap asisten manajer Persik Kediri Arya Wisnuadhi kepada GOAL.com Indonesia.

Manajemen Persik sampai saat ini sedang mencari solusi penyelesaian persoalan itu. Salah satunya dengan meminta komitmen perusahaan konsorsium yang mendanai tim mereka, dalam hal ini PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS). Hal itu dikarenakan, pada musim sebelumnya Persik tergabung dalam kasta Divisi Utama (DU) Indonesia Primer League (IPL), yang bernaung di bawah LPIS.

"Konsorsium sudah datang kemari. Kita melakukan rapat koordinasi mengenai penyelesaian masalah ini. Mereka memiliki komitmen untuk ikut membantu mengatasi masalah ini," sambung mantan Abang Jakarta tersebut.

Sebagai konsekuensinya, pihak konsorsium meminta keuangan Persik dilakukan audit. Langkah itu akan segera ditempuh demi menyelamatkan tim sepakbola yang pernah meraih juara, pada 2003 silam.

Tunggakan utang itu terjadi, karena Persik kesulitan mencari dana, selama kompetisi berjalan. Sedangkan dari dana yang dijanjikan oleh pihak konsorsium sebesar Rp7 sampai Rp8 miliar, hanya cair Rp2 miliar. Akibatnya, Persik terpaksa berutang untuk membiayai kebutuhan tim selama kompetisi berlangsung.

"Sistem marketing kami memang bermasalah. Itu terjadi karena dualisme kepemimpinan PSSI. Kisruh di pusat berdampak pada sistem kompetisi dan acara pertandingan. Akibatnya, sponsor tidak ada yang mau bekerjasama," terang Arya.

Ia lantas memberikan gambaran, kebutuhan dana dalam menjalani kompetisi di liga profesional memang sangat besar. Arya menyebut, biaya untuk melakoni laga home and away saja, mereka harus menyediakan dana sekurang-kurangnya Rp1 miliar.

"Biaya operasional pertandingan home and away saja butuh dana minimal Rp 1 miliar. Belum lagi untuk kebutuhan belanja pemain. Sedangkan dana yang kita dapat konsorsium relatif sedikit, dari yang dijanjikan semula. Akhirnya, kita harus mencari dana pinjaman untuk menalangi. Laporan keuangan kami bisa diperiksa. Semuanya ada bukti-buktinya. Jika audit dipandang perlu, kami sangat siap," pungkasnya. (gk-43)

Ikuti perkembangan terkini sepakbola nasional di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita sepakbola Indonesia serta informasi terbaru timnas, klub-klub IPL, ISL, dan Divisi Utama, dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Indonesia.

Terkait