thumbnail Halo,

Semen Padang sama sekali tak ada tekanan dari pihak manapun untuk menyampaikan rasa keprihatinan dan ketidakpuasan.

Pernyataan Semen Padang FC yang telah menghebohkan jagat sepakbola Indonesia, dengan ancaman menarik pemainnya dari timnas PSSI, bukanlah sesuatu yang tanpa dasar. Itu adalah klimaks keprihatinan pihak manajemen "Kabau Sirah" terhadap kisruh sepakbola nasional yang terus berlarut-larut, termasuk timnas.

Sekaligus ini gambaran ketidakpuasan SP sebagai anggota PSSI terhadap kinerja komite bersama, yang semula sangat diharapkan menyelesaikan kisruh sepakbola Indonesia, tapi sejauh ini belum menghasilkan perubahan apa-apa.

Hal itu dikatakan Direktur Utama PT Kabau Sirah Semen Padang (KSSP), Erizal Anwar dalam jumpa pers di Padang, Sabtu (13/10) siang. Dalam hal ini, Erizal ingin meluruskan pernyataan Komisaris Utama PT KSSP, Toto Sudibyo yang disampaikan di Jakarta sehari sebelumnya, seputar berita menghebohkan itu.

"Kita prihatin dan tak puas, karena komite bersama atu Joint Comitte (JC) yang dibentuk AFC menyelesaikan masalah PSSI tak berjalan baik. Empat poin yang harus diselesaikan JC sama sekali tak bergerak."kata Erizal.

Disebutkannya, Semen Padang sama sekali tak ada tekanan dari pihak manapun untuk menyampaikan rasa keprihatinan dan ketidakpuasan ini. Juga bukan karena musim 2012/13 SP akan bermain di kompetisi ISL."Kami klub independen, tak ada tekanan atau pengaruh dari pihak manapun. Semata-mata karena prihatin kondisi persepakbolaan kita, khususnya soal kompetisi dan timnas. Tidak lebih dan tak kurang."ucap lelaki berpenampilan tenang itu.

Diungkapkan Erizal, sejak awal SP sudah banyak memberikan usulan kepada JC dan PSSI untuk penyelesaian permasalahan PSSI. Misalnya mempercepat pengembalian empat anggota Exco, peleburan IPL dan ISL lebih cepat dari yang dianjurkan AFC. Bahkan, secara khusus SP  juga meminta hanya ada satu timnas Indonesia yang legal dan diakui AFC dan FIFA.

"Namun semua usulan SP tak satupun yang ditanggapi kedua belah pihak. Baik PSSI dan PSSI KLB Ancol saling bersikukuh dengan ego masing-masing. Kondisi ini tentu memperlemah timnas yang akan segera bertanding di Piala AFF. Ini yang membuat kita benar-benar prihatin dan kecewa,"ujarnya.

Kondisi sekarang adalah puncak dari keprihatinan dan ketidakpuasan SP, sehingga merasa perlu memberi tenggat waktu pada PSSI dan "mengancam" menarik sembilan pemainnya dari timnas, agar PSSI dan pihak yang berseberangan segera berbesar hati untuk menyatukan timnas.    

"Kami sudah jenuh dengan kondisi ini. Pelatih timnas adalah pelatih Semen Padang. Sembilan pemain kami juga disana. Hal ini tentu juga menjadi beban fikiran dan kekhawatiran kami, kalau masalah timnas yang tak kondusif ini tak juga selesai dan belum juga terbentuk satu timnas yang terbaik."tegas Erizal, yang didampingi Media Officer SP, Ronny Suhatril.

Dijelaskan Erizal, bagaimanapun SP tetap hanya mengakui satu timnas di bawah PSSI. Dalam hal ini, SP bersedia jadi "tumbal" atau berjuang sebagai "single fighter" agar PSSI ke depan lebih baik dan tercipta satu timnas yang bagus.

"Artinya, kalau tak ada langkah kongkrit penyelesaian PSSI dan penyatuan timnas. Kami mungkin akan lakukan. Tapi kalau ada tindakan nyata, atau minimal ada niat baik untuk menyatukan timnas, kami juga tak semudah itu menarik pemain kami dari timnas."katanya.

Menyinggung soal pelatih, SP tidak mempermasalahkan siapapun pelatih kalau sudah ada satu timnas nantinya. Tidak ada SP terang-terangan mengusulkan Alfred Riedl jadi pelatih kepala. "Kami menyerahkan sepenuhnya pada PSSI, Alfred Riedl boleh jadi pelatih kepala, Nil Maizar Direktur Teknis atau sebaliknya, semuanya terserah PSSI yang memutuskan. Itu redaksionalnya yang disampaikan Pak Toto kemarin. Yang penting timnas bersatu,"ujar Erizal meluruskan.(GK-33)

Ikuti perkembangan terkini sepakbola nasional di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita sepakbola Indonesia serta informasi terbaru timnas, klub-klub IPL, ISL, dan Divisi Utama, dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Indonesia.

Terkait