thumbnail Halo,

Disisi lain dirinya dan beberapa pemain timnas Indonesia PSSI-KLB juga ingin adanya timnas yang satu.

Skuat timnas Indonesia PSSI-KLB susah lima hari ini menjalani latihan fisik yang keras di bawah kaki gunung Panderman kota Batu. Dalam serangkaian latihan yang difungsikan untuk mengembalikan kondisi fisik yang drop, pemain nampak bersemangat mengikuti intruksi yang diberikan oleh Riedl.

Usai latihan, pemain yang dianggap senior yang juga menjadi panutan, Ponaryo Astaman berujar jika dirinya sangat yakin bisa tampil di piala AFF grub B yang dihelat di Kuala Lumpur, Malaysia November mendatang. Meski saat ini ada dualisme timnas, dirinya tetap yakin timnas yang dia bela saat inilah yang bakal mewakili Indonesia.

Ponaryo yang sudah berpengalaman di level Asia menuturkan jika para pesaingnya di kawasan ASEAN tidak bisa diremehkan. Sebab saat ini kekuatan negara-negara ASEAN semakain merata. "Semua lawan kita anggap berat. Dulu kita bisa menganggap remeh Myanmar, Laos atau Filipina. Namun saat ini kekuatan mereka tidak bisa dipandang sebelah mata," urainya.

Ditanya tentang komentar Alfred Riedl yang menginginkan persatuan, Ponaryo yang juga Presiden Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) tetap ingin timnas yang satu, "Saya disini bicara mewakili pribadi mas, bukan atas nama organisasi. Jadi menurut saya semua pemain terbaik berhak membela timnas Indonesia tanpa melihat darimana kompetisi mereka berasal," ungkap pemain asal Balikpapan itu.

Ponaryo sebagai pemain merasakan kerugian dengan timnas yang dua ini, "Sebaiknya semua elemen mulai PSSI, KPSI, pemain, pelatih, duduk bersama mencari solusi yang terbaik," usulnya sembari mengatakan jika keberadaanya di Batu adalah sebagai buah profesionalisme memenuhi panggilan timnas Indonesia. Termasuk perintah dari klubnya untuk bergabung di skuat Alfred Riedl.

Tidak hanya ponaryo, hampir seluruh pemain di timnas Indonesia PSSI-KLB menginginkan timnas yang satu, yang terbaik untuk mewakili negara. Meski mereka juga sangat yakin bakal mewakili Indonesia seandainya timnas tetap dua. "Saya dulu mengajukan diri sebagai WNI untuk bisa membela timnas Indonesia dan ingin membawa Indonesia maju. Ada dua timnas tentu tidak enak," ungkap Cristian Gonzales. (gk-48)

Terkait