thumbnail Halo,

Kehadiran lima pemain ISL saat laga uji coba melawan Valencia justru menambah runyam konflik sepakbola nasional.

Itikad baik Bambang Pamungkas menyatukan sepakbola nasional dengan bergabung ke timnas senior Indonesia untuk laga eksebisi melawan Valencia pekan lalu rupanya hanya membuahkan sanksi semata.

Di tengah situasi dualisme organisasi sepakbola tanah air yang belum menemui solusi, Bambang mengaku "datang untuk Indonesia bukan karena PSSI". Kebetulan kompetisi Indonesia Super League (ISL) berakhir sehingga ada waktu luang bagi Bambang untuk memenuhi panggilan timnas. Laga melawan Valencia sekaligus menjadi uji coba bagi Indonesia dalam rangka persiapan AFF Suzuki Cup 2012 November mendatang.

Selain Bambang, bergabung pula sejumlah pemain langganan timnas lain, seperti Firman Utina, Ponaryo Astaman, Muhammad Ridwan, dan Ahmad Bustomi. Lima pemain ISL ini menjadi bagian dari skuat Nil Maizar yang dimainkan menghadapi Valencia. Sebenarnya masih ada sejumlah pemain ISL Lain yang dipanggil Nil, antara lain seperti Ricardo Salampessy dan Zulkifly Syukur, tapi klub tempat mereka bernaung menolak melepas.

Perbedaan sikap antara PSSI dan KPSI kian dipertajam dengan jatuhnya sanksi bagi lima pemain yang ikut serta dalam laga eksebisi melawan Valencia. Salah satu hasil pertemuan klub-klub ISL di Jakarta awal pekan ini adalah menjatuhkan sanksi berupa denda kepada para pemain tersebut. Kemudian, Bambang dan kawan-kawan pamit dari pelatnas karena "alasan keluarga". Mereka beralasan harus menenangkan keluarga masing-masing akibat kemungkinan sanksi dari klub. Keinginan Bambang dkk menyatukan sepakbola nasional rupanya hanya menjadikan mereka sebagai korban.

Namun, bagi sebagian fans Persija Jakarta, keputusan Bambang bergabung ke timnas melukai perasaan mereka karena masalah pengakuan legalitas klub yang tidak pernah diberikan PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin Husin. Bagaimana mungkin seorang ikon klub seperti Bambang setuju bermain di bawah timnas yang dikelola PSSI rezim Djohar padahal klub tempatnya bermain saja tidak diakui?

Dari sudut pandang klub, para pemain harus memperoleh izin untuk memperkuat timnas, sekali pun pemain itu seorang Lionel Messi. Barcelona pernah berdebat dengan timnas Argentina karena menganggap terlalu sering memanggil Messi dalam laga uji coba. Jalan tengah akhirnya ditempuh semua pihak, Messi dapat dipanggil Argentina untuk laga-laga resmi dan uji coba yang digelar tidak di tengah padatnya jadwal pertandingan Barcelona.

Klub juga berhak memberikan sanksi kepada pemain yang bersikukuh membela timnasnya. Ambil contoh kasus Rafinha yang sangat ingin tampil untuk Brasil di Olimpiade 2008. Peraturan FIFA memang meminta agar klub melepas pemain yang dipanggil ke timnas. Namun, peraturan ini ditentang Schalke 04. Werder Bremen dan Barcelona juga menolak melepas Diego dan Messi ke ajang yang sama. Sikap ketiga klub ini dimenangkan CAS yang menilai mereka tidak wajib melepas para pemainnya karena Olimpiade tidak berada dalam kalender kegiatan FIFA.

Rafinha tidak menghadiri panggilan Schalke untuk menjalani pramusim dan malah tampil hingga Brasil akhirnya merebut medali perunggu. Sepulangnya dari Beijing, Rafinha dijatuhi denda sebesar €700 ribu atas dasar "pelanggaran kontrak serius". Sejak saat itu, hubungan Rafinha dan Schalke tak pernah membaik sampai akhirnya sang pemain pindah ke Genoa dan kini memperkuat Bayern Munich.

Tidak pula mudah berada dalam posisi Nil Maizar saat ini. Dia dituntut mengembalikan kejayaan Indonesia di AFF Cup, tetapi tidak dilengkapi dengan senjata terbaik. Harus segera dicapai solusi yang bisa menengahi konflik sepakbola tanah air. Tidak hanya supaya tim dapat berkonsentrasi tampil di AFF Cup, tetapi juga atas keberlangsungan sepakbola di negara ini.

Bagaimana menurut Anda, sudah tepatkah sanksi dijatuhkan kepada Bambang Pamungkas dkk? Sampaikan pendapat Anda melalui kolom komentar berikut ini!


SIAPA TERATAS DALAM DAFTAR
50 PEMAIN TERBAIK 2012
VERSI GOAL.COM?

Terkait