Fans Desak Perombakan Manajemen PSMS Medan

Suporter mendukung langkah pemain yang akan mengambil jalur hukum soal gaji.
Dualisme PSMS Medan musim 2011/12 cukup menjadi memori kelam persepakbolaan Sumatera Utara. Catatan yang juga diperparah dengan hasil kedua tim (ISL dan IPL) tanpa prestasi dan merosot degradasi ke divisi utama.

Suporter PSMS Medan dari berbagai bendera menyuarakan musim depan, PSMS harus satu dan berbenah manajemen serta wajib diisi dengan orang baru. Manajemen musim 2011/2012 baik itu ISL dan IPL dinilai gagal. Ketua Umum Kesatuan Anak Medan Pecinta Ayam Kinantan, KAMPAK FC, Naldi Siregar berharap kongres PSSI lewat join committee (JC) bisa melahirkan keputusan yang berujung pada berakhirnya dualisme klub, pengurus sepakbola di nusantara ini.

“Harapan kami, islah PSSI dan KPSI segera terwujud.  Semuanya harus bicara atas nama kepentingan sepakbola. Dengan ini, kami juga berharap PSMS hanya ada satu di Medan. Dan yang terpenting, PSMS hadir dengan kepengurusan yang baru,” ujarnya, Senin (23/7).

Dia menyebutkan minimnya prestasi Ayam Kinantan-julukan PSMS, dalam beberapa tahun terakhir, karena diisi oleh orang yang tidak punya kemampuan. “Masalahnya, selama ini manajemen berpenghuni orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak punya kemampuan. Seharusnya manajemen bertanggung jawab mengenai kebutuhan keuangan. Parahnya, manajemen selama ini bermental kere, asal bisa dapat makan recehan, yang berimbas pada kebutuhan tim dinomorduakan,” ungkapnya.

Naldi menjelaskan, agar musim depan fungsi pemilik 40 klub PSMS dijalankan dan harus bersikap tegas. Seperti diketahui, saat memulai kompetisi musim ini, pengurus 40 klub memberikan lampu hijau agar PSMS berada di dua kompetisi. Itu tertuang dalam pertemuan 40 klub pemilik PSMS dengan pengurus PSMS di Hotel Garuda Medan, Selasa malam (29/11) lalu. Dalam rapat yang dipimpin Idris, Sekum Pengurus Harian PSMS ini dan juga CEO PSMS ISL,  pemilik klub sepakat memutuskan bahwa PSMS dibiarkan menjalani kedua kompetisi ISL dan IPL.

“Kami sangat harapkan 40 klub bicara dengan hati nurani. Untuk membentuk manajemen dan memilih kepengurusan berdasarkan untuk prestasi dan pembinaan PSMS. Dalam waktu dekat ini katanya ada agenda untuk bertemu dengan Walikota Medan, Bapak Rahudman Harahap. Semoga ada jalan keluar terbaik,” bebernya. Naldi juga menyinggung soal kualitas pemain yang memperkuat PSMS musim ini baik di ISL dan IPL. “Pemain cukup bagus di tengah kondisi kompetisi dan pendanaan yang carut marut,” timpalnya.

Namun, perihal tunggakan gaji yang sedang dialami kedua tim, Naldi menegaskan semua pemain harus memperjuangkan haknya dan KAMPAK mendukung jika akhirnya dilanjutkan ke jalur hukum. “Manajemen harus bertannggung jawab soal penungggakan gaji, kita dukung upaya hukum,” tegasnya.

Sedangkan, PSMS Fans Club (PFC), melalui Media Officer, Roy Romero, menjelaskan bahwa pihaknya tetap mendukung PSMS di level apapun. “Ya intinya di manapun PSMS kastanya, tetap kami mendukunglah musim depan,” tegasnya.

Roy mengatakan soal perombakan manajemen memang harus. Dia menilai, perombakan manajemen wajib, mengingat kegagalan yang sudah ditorehkan. “Keberhasilan saja mesti ada evaluasi, apalagi yang gagal. Kalau perombakan manajemen wajib tapi bukan berarti harus diisi dengan orang-orang baru. Dan, jika melihat komposisi pemain musim yang baru berakhir ini, secara realistis paling memang kita (PSMS) cuma sanggup di papan tengah, tapi justru kita malah ikut degradasi,” tuturnya.

PFC menilai dualisme PSMS, yang pihaknya pahami PSMS adalah tim yang berhomeground di Kebun Bunga dan terbentuk 1950. “Dan menurut kami, dualisme PSMS ini tak mungkin disatukan. Kalau disatukan berarti macam orang nikah yang artinya dua jadi satu. Salah satu tim akan berstatus mendiang sesuai keputusan Joint Committee yang menetapkan. Dan faktanya selama satu musim ini, seburuk-buruknya manajemen PSMS ISL masih lebih baik dari yang IPL,” ungkapnya.

Perihal peran Forum 40 klub PSMS, Roy bilang unik.  Dia menyebutkan klub-klub 40 pemilik PSMS itu antara mengalah atau memang ditiadakan dengan sengaja. “Uniknya, biasanya orang yang merapat kalau ada keberhasilan dan biasanya menjauh kalau gagal. Ini 40 klub mulai semakin rapat setelah gagal. Lucu kan? Tapi memang lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali. Hanya kita kan enggak tahu pati ada apa di tingkat elit. Bola ini sangat berpengaruh dengan pencitraan seseorang yang mau maju ke pentas politik. Apalagi tahun depan ada pemilihan Gubernur Sumatera Utara,” bebernya.

“Kami ingin siapapun yang jadi CEO PSMS musim depan, manajemen meletakkan perwakilan setiap kelompok supporter di dalam. Selain bisa jadi controller secara langsung, bisa juga mengikis gesekan antarkelompok supporter,” tegasnya.

PFC juga menyinggung soal hak pemain PSMS yang urung dilunasi dengan mendukung keputusan pemain ke jalur hukum. “Yang kami dukung moral sajalah. Kalau sampai demo, kami tidak punya hak. Artinya secara manusiawi, kami mendukung setiap pekerja yang seharusnya mendapatkan hak. Sebenarnya di era yang katanya profesional sekarang itu urusan antara agen pemain dengan manajemen klub," ucap Roy.

Sementara itu, Saut F J Naibaho, Panglima Aksi Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) mengungkapkan, pihaknya juga tak ingin dualisme terus berjalan. “Sebaiknya PSMS disatukan biar nama PSMS itu tanpa embel-embel ISL dan IPL. Banyak masalah lantaran dualisme ini. Gaji pemain bermasalah, karena sponsor berpikir panjang mau memberikan dukungan dan memilih tarik diri,” bebernya.

Pembentukan tim PSMS dengan hanya satu nama untuk musim depan, lanjut pria yang akrab disapa Pakbaho ini harus sejalan dengan manajemen yang baru. “Manajemen  memang harus dievaluasi, musim depan sebaiknya ada figur baru. Siapa orangnya, saya belum bisa katakan. Karena semua orang bilang aku cinta bola, aku cinta PSMS. Tapi hasilnya tak ada, kebanyakan orang hanya mencari keuntungan pribadi saja. Kalau mengurus sepakbola tanpa prestasi, mungkin kita-kita juga bisa mengurusnya. Toh, juga enggak ada yang marah,” tukasnya.

“Baiknya PSMS dipegang swasta, agar bisa lebih baik mengelola keuangan dan gaji pemain bisa lancar,” tegasnya.

Hasil musim ini dengan tim terdegradasi, Pakbaho mengungkapkan itu hasil yang wajar. Dengan segala persoalan dan kualitas, PSMS lanjutnya harus berbenah meski dimulai kembali dari divisi utama.

Dia juga mengatakan, manajemen tidak harus bingung mencari sosok pelatih untuk divisi utama. “Siapapun nanti manajemennya, baiknya pelatihnya lokal. Coach Suharto adalah pilihan yang terbaik, itu menurut saya pribadi.  Dan ada beberapa nama pemain yang sepatutnya dipertahankan. Seperti Nico Malau dan Nastja Ceh,” pungkasnya. (gk-38)