thumbnail Halo,
FOKUS: Asa PSMS Medan Di Pundak Pemain Muda

FOKUS: Asa PSMS Medan Di Pundak Pemain Muda

GOAL.com/Antara

Nico Malau bisa disebut mampu menyedot perhatian.

Di tengah keterpurukkan prestasi, PSMS Medan (ISL) masih menyimpan asa regenerasi. Meski hanya hitungan jari, namun ada beberapa pemain muda yang sudah menancapkan kuku dalam perjalanan Ayam Kinantan-julukan PSMS Medan, musim 2011/12. Sebut saja, Yoseph Ostanika Malau (21 tahun), Muhammad Anthony (22 tahun) dan Wiganda Pradika (20 tahun).

Muhammad Antony dan Wiganda adalah jebolan PSMS U-21. Sedangkan, Nico Malau-sapaan akrab Yoseph Ostanika dari Akademi Sepakbola Medan United (ASMU).  Nico dan Wiganda meski terdaftar dalam skuat senior, namun juga masuk dalam skuat PSMS U-21 dalam ajang Kompetisi Liga Indonesia U-21 musim 2011/2012. Nico dan Antony sudah masuk dalam daftar pemain senior sejak putaran pertama, sedangkan Wiganda dialih status pada putaran kedua.

Ketiganya mampu tampil bersanding dengan para pemain senior di lapangan hijau. Selain itu, pada putaran kedua musim ini, skuat PSMS banyak mengalih status pemain amatir ke profesional. Bukan hanya Wiganda Pradika, ada Ary Pratama Akong, Luis Irsandi dan Fatriskan juga jebolan PSMS U-21 masuk skuat senior. Dari nama-nama tersebut, Nico Malau bisa disebut mampu menyedot perhatian. Musim ini, namanya menjadi pencetak gol terbanyak kedua dengan lima gol, setelah Osas Marvelous Saha dengan 19 gol.

Namanya menyentak publik pada saat putaran pertama sukses melesakkan dua gol ke gawang lawan, yakni Persiba di Stadion Teladan dan Persija di Stadion Baharoeddin Siregar. Penampilannya di putaran pertama memang tidak begitu dominan. Nico harus bersaing mendapatkan tempat utama dengan Choi Dong Soo dan Arie Supriatna sebagai tandem Osas Marvelous Saha. Pada putaran pertama, Nico hanya bermain sebanyak sembilan partai dengan total durasi bermain 264 menit, dan hanya sekali tampil fulltime saat PSMS bertandang ke Persidafon (7/3).  Pun demikian, Nico menjadi pemain muda yang paling banyak mendapatkan kesempatan bermain. Diikuti Muhammad Antony  yang mengisi lini tengah dengan durasi 249 menit dalam delapan laga.

Pada putaran kedua, dengan banyaknya pemain yang dicoret, pemain muda memiliki banyak kesempatan bermain. Nico Malau, Antony, Wiganda Pradika Ary Pratama Akong turut merasakan aura pertandingan melawan klub-klub besar. Antony bermain dalam sepuluh partai dengan 344 menit, Wiganda bermain dalam enam partai dengan 220 menit, Ary Pratama 1 menit. Hanya Luis Irsandi, Fatriskan yang belum mendapatkan kesempatan bertanding bersama PSMS di level senior hingga akhir musim dan hanya menjadi cadangan.

Sedangkan bagi Nico putaran kedua adalah berkah tak terkira, di balik terbuangnya Choi Dong Soo, dan hengkangnya Arie Supriatna, kesempatan tampil terbuka lebar. Nicopun menjadi starter dan duet sejati Osas Saha, tepat pasca-Arie Supriatna meninggalkan tim usai PSMS menjalani away lawan Sriwijaya (28/4). Pemain yang punya kecepatan dan tipikal pekerja keras ini mencetak tambahan tiga gol pada putaran kedua ke gawang Persela di Stadion Teladan (dua gol) dan satu gol lainnya ke gawang Persisam di laga pamungkas ISL musim ini di Stadion Segiri, Samarinda. Dia bermain sebanyak 13 partai dari 17 partai dengan durasi 749 menit.

Pemain muda ini digadang bakal menjadi pesepakbola andalan Sumatera Utara. "Saya merasa bangga diberikan kepercayaan dan kesempatan khususnya dari Coach Harto (Suharto AD). Selama bermain, saya banyak mendapatkan pelajaran dan pengalaman, terutama saat berhadapan dengan klub-klub besar. Selama ini, saya masih merasa kurang dalam hal teknik apalagi mental. Tapi saya merasa bisa memaksimalkan pengalaman itu untuk musim depan," ungkap, Rabu (18/7).

Pemain kelahiran 19 Maret 1991 ini mengungkapkan, bersama PSMS di ISL merasakan nuansa berbeda. Mengingat, musim 2010/2011, Nico hanya memperkuat Bintang Medan, kompetisi Liga Prima Indonesia. "Dengan Bintang Medan musim lalu tentu ada yang beda. Musim ini lebih kompetitif dan baru musim ini juga bertanding di stadion yang penuh dengan penonton dan dukungan masyarakat total. Ini yang membuat mental saya ditempa," beber pesepakbola bernomor punggung 19 di PSMS ini.

Pemain yang pernah membela PSKB Binjai selama tahun 2007-2009 ini mengaku sedih dengan kondisi PSMS terdegradasi ke divisi utama. Namun, Nico masih ingin membela PSMS, jika diberikan kesempatan musim depan. Dia bahkan belum memutuskan masa depannya, meski ada dua klub di Kalimantan dan Jawa yang sudah sempat menawarnya.

"Sejauh ini ada dua klub di Kalimantan dan satu di Jawa yang sudah menyatakan tertarik. Semua klub ISL. Tapi saya  belum menentukan pilihan.  Kalau masih dipercaya, meski degradasi saya masih mau di PSMS. Karena klub ini yang membesarkan nama saya. Lagian, saya masih ingin mengasah kualitas di klub ini. Saya akan sangat bangga jika mampu menaikkan PSMS dari divisi utama ke kasta yang lebih tinggi musim berikutnya," bebernya.

Disinggung soal haknya yang belum selesai di PSMS musim ini, Nico kesulitan menjawab. Hanya saja, dia tetap ingin semua gajinya dibayar penuh untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mengingat dia anak sulung dari empat bersaudara.

"Bingung, sebagai pemain enggak bisa kasih solusi. Tapi kalau dibilang berharap ya sangat berharap diberikan penuh. Walaupun saya lajang, saya sebagai anak sulung punya tanggung jawab yang besar. Nenek saya sedang sakit saat ini, dan adik juga baru masuk sekolah," ungkapnya.

Di tengah kisruhnya sepakbola Indonesia, Nico juga berharap musim depan PSMS hanya satu dan tidak terbagi dua di Medan. "Kalau saya berharap, mereka mau bergabung dengan satu nama PSMS. Tidak ada lagi PSMS ISL dan IPL. Karena kalau satu pasti lebih kuat. Tapi semua kembali ke pengurus, kalau mau memajukan PSMS pasti bisa," tegasnya.

Lalu apa kata caretaker pelatih kepala PSMS, Suharto AD soal Nico? "Kualitas tekniknya lumayan, tapi butuh peningkatan. Nico punya kelebihan dribbling dan punya kecepatan dengan tipikal menusuk ke kotak penalti," timpalnya.

"Tapi, mentalnya masih kurang dan emosi masih labil. Wajar, dia masih muda. Masa depannya masih panjang, karena masih muda. Jika dia mau terus  belajar dan tidak cepat puas, maka akan menjadi pemain Medan yang luar biasa. Ini tidak hanya untuk Nico, tapi juga untuk pemain muda PSMS lainnya. Agar terus berlatih dan tidak pernah lelah untuk belajar dari senior," ungkapnya. (gk-38)

Terkait