thumbnail Halo,

Fabio memahami jika publik sepakbola Medan menyalahkannya.

Pelatih Kepala PSMS, Fabio Lopez mengatakan bertanggung jawab atas torehan timnya musim ini di Indonesian Premier League (IPL). PSMS degradasi setelah timnya kalah 1-0 dari Persibo Bojonegoro di Stadion Baharoeddin Siregar, Lubukpakam, Deliserdang (17/7). Dengan ini, setali tiga uang dengan PSMS ISL, kiprah PSMS di IPL berakhir.

"Saya baru saja katakan ke pemain saya di ruang ganti, minta maaf kepada pemain saya, karena memang saya yang bertanggung jawab atas statistik musim ini.  Tapi untuk minta maaf kepada pemain bukan hal yang  buruk bagi saya. Karena memang benar, saya pelatihnya dan saya bertangung jawab atas raihan musim ini.  Saya pelatihnya, Fabio Lopez. Sebagai pelatih untuk melakukan minta maaf itu bukan hal yang aneh," tuturnya usai pertandingan.

Dia juga memahami, ketika publik menyalahkannya. "Karena dalam sepakbola di Italia. Saat tim menang, itu karena pemainnya yang bagus, tapi ketika tim kalah itu salah pelatih. Jadi tidak masalah," lanjutnya.

Dalam laga ini, sejatinya PSMS punya begitu banyak peluang. Varner Luis dkk tampil offensif sepanjang pertandingan. Persibo yang menurunkan kiper cadangan, Adith harus bekerja ektras keras untuk mementahkan semua serangan tim tuan rumah. PSMS sempat mencetak gol lewat Julio Alcorse pada menit 43, namun dianulir karena offside. Namun, keasyikan menyerang, PSMS malah dikejutkan lewat serangan balik yang berbuah gol melalui kaki Alexdro Leke menit 86 setelah menerima umpan matang dari Iskandar Nur. 

Setelah gol ini, permainan PSMS tidak banyak berubah dan terus menyerang. PSMS sendiri mendapatkan hadiah penalti pada injurytime setelah Azuan Lubis ditekel oleh bek Persibo. Wasit Deri Koswara menunjuk titik putih. Sayangnya, Julio Alcorse yang menjadi algojo gagal menceploskan si kulit bundar. Tendangannya malah jauh ke atas mistar gawang.

"Ada sepuluh peluang yang kami buat hari ini, namun tidak bisa menjadi gol. Kami tidak bisa meraih sesuatu di partai terakhir. Karena harusnya kami bisa menyelamatkan tim ini jauh hari tidak pada hari ini. Saya katakan kepada pemain saya untuk belajar dari pengalaman ini," tutur pelatih asal Italia tersebut.

"Saya rasa sangat terlambat bicara untuk menyelamatkan tim ini. Saya tidak tahu bagaimana federasi, dan komisi disiplin tapi kami kemudian disebutkan pengurangan nilai menjadi sepuluh poin. Saya tahu jika seandainya dibalikkan  poin itupun,  telat untuk menyelamatkan tim," timpalnya.

Fabio menyebutkan banyak hal yang harusnya bisa membawa PSMS ke keadaan lebih baik, misalnya tidak harus WO dari Persebaya hanya gara-gara tiket. Fabio harus menerima fakta karirnya sebagai pelatih sangat berbeda selama di PSMS. Baru kali ini dia gagal membawa tim ke level lebih baik atau paling tidak bertahan.

"Dalam kehidupan saya, tidak pernah saya seperti ini, banyak klub yang menginginkan saya untuk menyelamatkan timnya dalam tujuh atau delapan pertandingan sisa. Saya bahkan punya julukan Magic Lopez di media, karena mampu melakukan hal  tersebut (menyelamatkan tim). Tapi melakukan sendiri tidak akan bisa. Sendiri tidak akan bisa melakukan apa-apa. Dalam tim itu ada manajemen, staf teknik. Hanya pelatih tidak akan bisa melakukan. Di sini, hanya saya dan pemain yang melakukan," bebernya.

Pelatih berusia 39 tahun asal Roma ini juga menjelaskan tidak akan menyalahkan pemainnya yang gagal mencetak penalti, Julio Alcorse. Menurutnya, keputusannya membiarkan Julio mengambil tendangan penalti itu, karena Julio seorang striker.  "Julio itu striker. Dia harus mencetak gol. Dia mengambil penalti itu normal. Francesco Totti, Roberto Baggio pernah gagal penalti. Setelah era Roberto Baggio juga banyak pemain dunia gagal mencetak gol di penalti," tukasnya.

Lalu bagaimana karir sepakbola setelah di PSMS? Fabio belum tahu seperti apa. "Hari ini bagi saya bukan waktu yang tepat untuk berbicara soal itu (kemungkinan melatih tim ini lagi). Benar-benar  bukan waktu tepat," ucapnya.

Hanya saja, pria yang pernah menjadi pemandu bakat untuk tim Fiorentina ini bilang, jika ada tawaran kembali ke PSMS, dia akan menerima jika manajemen punya perencanaan yang baik untuk membangun sepakbola untuk klub. Namun, jika dengan kondisi PSMS yang sama musim ini dan musim depan, sulit baginya menerima.

"Kamu tahu dalam sepakbola jangan pernah katakan tidak pernah.  Mungkin tidak hanya saya, tapi pelatih lain juga tidak mau melatih tim PSMS dengan kondisi tim seperti ini. Jika seseorang menelepon saya, dan memberikan perencanaan untuk membangun tim ini dengan baik, saya akan kembali ke Medan. Saya tidak tahulah, dalam kondisi saat ini PSMS Medan adalah saya dan pemain-pemain saya tidak ada yang lain. Tim ini ditinggalkan begitu saja. Bahkan, hanya seorang teman memberikan saya pesan tentang kondisi pemain lawan kemarin. Saya pikir ini bukan tugas teman saya, ini adalah tugas manajemen. Pernyataan saya ini  bukan untuk menyerang seseorang ya, ini untuk memberitahukan kondisi situasi yang sebenarnya," tuturnya.

"Saya tidak melihat masa depan di sini (PSMS IPL). Tidak hanya buat saya tapi juga pelatih manapun. Jika untuk pelatih yang menyalurkan hobi tidak ada masalah melatih dengan kondisi ini.  Tapi untuk pelatih yang menjadikan ini adalah pekerjaan utama, saya rasa tidak pelatih manapun mau," ungkap pelatih pemegang lisensi A UEFA ini.

Fabio mengaku akan meninggalkan Medan dan Indonesia Rabu siang (18/7) menuju tanah kelahirannya, Roma. "Saya pulang besok (Rabu), seminggu kemudian saya ke Ukraina untuk liburan," ujarnya tersenyum.

Ke Ukraina tentu bukan untuk liburan. Fabio mengatakan sebuah klub menginginkannya di Ukraina, hanya saja belum pasti. "Belum ada yang pasti. Tapi mereka ingin berjumpa saya. Jika saya suka dengan tawarannya, saya akan memulai pekerjaan di sana. Liga Ukraina, tapi ya belum bisa dipastikan. Sejujurnya, saya masih ingin memenangkan sesuatu di Indonesia. Ini target dan taruhan pribadi saya sendiri," tegasnya.

Fabio juga mengatakan sangat berterima kasih dengan orang-orang di PSMS. Terutama asisten pelatihnya, M Khaidir. Dan dia menyukai Medan dan orang-orangnya. "Saya terima kasih yang sangat spesial kepada Coach Khaidir yang mendukung saya dalam segala hal hingga akhir musim. Saya doakan yang terbaik untuk dia dengan segala hormat untuk pria ini yang telah memberikan saya pelajaran. Selamat tinggal," jelas mantan pelatih FK Banga Gargždai dan FK Šiauliai di Lithuania ini.

Sementara itu, Asisten Pelatih Persibo, Wanderley  mengatakan timnya datang melawan PSMS dengan skuad pas-pasan dengan hanya dua pemain pengganti dan satu diantaranya kiper. "Kami tahu PSMS harus menang hari ini. Kami memang bermain dengan bertahan tapi menyerang dalam momen yang tepat. Babak pertama kami hanya ada dua peluang, dan babak kedua satu peluang berhasil gol. Kami analisis permainan PSMS, sebenarnya mereka bisa menang, PSMS punya permainan bagus. Tapi musim ini belum beruntung," ungkapnya.

Persibo turun dengan kiper cadangan, Adith dan membangucadangkan Fauzi Toldo, kiper yang bermain di final Piala Indonesia melawan Semen Padang. Wanderley mengatakan itu bukan sinyal anggap remeh terhadap PSMS.

"Bukan meremehkan. Kami menjalani tiga partai dalam enam hari, sebelum PSMS kami melawan Semen Padang dan Persiba Bantul. Pemain kamu ada yang cedera dan akumulasi. Kami berterima kasih terhadap pemain kami, karena bermain maksimal. Musim ini kami berkekuatan pemain pas-pasan, tapi musim ini kami produktif dengan juara Piala Indonesia dan finish di urutan ketiga IPL. Dan semua pemain kami baik itu di cadangan pernah dimainkan. Tidak satupun yang tidak pernah dimainkan,"pungkasnya. (gk-38)

Terkait