thumbnail Halo,

Pertemuan berjalan kurang lebih 30 menit dan pemain berjalan balik ke mess.

Keresahan skuad PSMS ISL atas hak lima bulan gaji yang belum dibayar mencapai titik puncak. Aksi lebih berani dari sekadar mogok latihan dilakukan dengan mendatangi Kantor Wali Kota Pemerintah Kota Medan, Selasa (3/7) sekira pukul 11.20 WIB.

Ini merupakan akumulasi kemarahan pemain, karena manajemen tidak juga muncul dalam tiga kali pertemuan yang sudah dijadwalkan. Minggu malam, Senin dan Selasa pagi, CEO PSMS, Idris tidak jadi datang.

Hampir seluruh pemain, baik yang senior, pemain magang serta pemain asing berangkat dari mess Kebun Bunga. Setidaknya 21 pemain ikut dan hanya Zulkarnain dan Nastja Ceh hanya tidak tampak dalam rombongan pemain. Dengan mengenakan kostum latihan, merah liris putih, Sasa Zecevic dkk berjalan kaki ke Pemko yang hanya berjarak sekira 500 meter.

Sesampai di Pemko, skuad PSMS terpaksa menunggu di depan pintu masuk Pemko, lantaran belum mendapatkan lampu hijau untuk masuk ke dalam. Mereka menyemut duduk di depan pintu masuk.

Beberapa menit kemudian, seorang satpam mengintruksikan para pemain PSMS masuk ke dalam untuk melakukan pertemuan dengan pejabat Pemko Medan. Para pelatih yang awalnya tidak tahu aksi para pemain, baru menyusul belakangan ke ruangan pertemuan. Di ruangan rapat lantai 2, semua pemain sambut Darussalam, Asisten Kemasyarakatan Pemko dan Hanas Hasibuan, Kadispora Medan dan Zulhifzi Lubis Ketua KONI Medan. Sedangkan, Wali Kota Medan, Rahudman Harahap tidak berada di tempat karena sedang mengikuti rapat paripurna di DPRD Medan.

Dalam pertemuan ini, raut wajah pemain PSMS sangat tegang dan datar. Sasa Zecevic sebagai kapten didaulat untuk membuka pembicaraan dari skuad PSMS di ruang pertemuan meja bundar tersebut. "Kami main di PSMS, kami saat ini sebagai anak-anak Medan. Kita semua sama, kami sedang ada masalah. Kami menghargai kalian (pejabat) mau mendengarkan kami," ujarnya. "Kami kecewa mengapa pengurus tidak menjumpai kami sesuai janji mereka pada Senin malam. Paginya kami tunggu, tidak juga datang. Kami tidak mau untuk melakukan latihan pagi. Tidak ada jaminan yang bisa kami pegang. Semua pemain beraudiensi bukan berdemo seperti kamu lihat. Itu spontan kami lakukan bukan terencana dari awal," ucap pemain Serbia itu. Sasa kemudian meminta seluruh skuad untuk mengungkapkan isi hatinya.

Hal ini disambut Eddy Kurnia. Kiper PSMS ini dengan suara terbata-bata mengungkapkan, tujuan skuad PSMS ke Pemko adalah untuk berkeluh kesah. "Maksud tujuan kami tidak untuk berdemo. Tidak untuk membuat suasana lebih keruh, maksud kami berkeluh kesah untuk mendapatkan jalan yang terbaik. Pemain hanya ingin mendapatkan kenikmatan berlatih dan bertanding. Tapi di sisi lain kami punya anak, keluarga. Hidup kami cuma ini. Masalah kami gaji belum dibayar (lima bulan)," ungkapnya.

Eddy menambahkan, sejatinya manajemen sudah memberikan sedikit hak pemain, namun masihda hak lain yang belum dibayar. "Manajemen memang memberikan tanggal pasti kapan dibayar, kami kurang tenang dan ingin dijembati, jika seandainya hak kami tidak dibayar," tukasnya.

Hal lebih memiriskan lagi diungkapkan, striker asing PSMS, Osas Marvelous Saha, karena pemain saat ini sangat kesulitan dan bahkan terancam tidak bisa menyekolahkan anak di masa penerimaan siswa baru gara-gara gaji ini. "Kami ke sini untuk untuk demo atau berantam. Kami sudah bekerja lima bulan belum dibayar. Di dalam kontrak, jika tiga bulan tidak dibayar kami punya hak, ini sudah lima bulan," ujarnya.

Pemain asing asal Nigeria ini menjelaskan, dia dan seluruh rekan-rekannya mendatangi Pemko Medan, karena Wali Kota Medan, Rahudman Harahap. "Karena namanya ketua umum kami adalah wali kota, kami juga butuh jawaban. Dari klub lain itu yang kondisi sama dengan kami, bisa jalan karena ada jaminan. Pak Idris (CEO)sudah janji tanggal 15 Juli dibayar. Kami percaya, tapi Idris sendiri susah juga dia. Saat ini, masa anak mau naik kelas dan daftar anak ke sekolah, kalau tidak ada uang, apa anak kami terancam tidak sekolah gara-gara ini. Kami tidak ada solusi yang lain. Mau pinjam Rp100 ribu sama kawan saja susah. Apalagi ini mau puasa, untuk yang muslim bagaimana mau puasa kalau pikiran tidak tenang," bebernya.

Gelandang bertahan PSMS, Anton Samba menimpali, agar keputusan dari pertemuan kali ini jangan terlalu lama. Mengingat PSMS dijadwalkan akan bertanding melawan Mitra Kukar (7/7) dan Persisam (11/7). "Kami mau berjuang membawa nama Medan, tolong jangan terlalu lama, karena tanggal lima kami akan berangkat. Kami ingin konsentrasi bertanding," tegasnya.

Caretaker Pelatih Kepala PSMS, Suharto AD, mengaku sebagai pelatih merasa sedikit berat untuk melaksanakan, karena hati pemain sedang sedang baik. "Pemain kurang konsentrasi, karena masalah yang berat ini. Kalau sampai sejauh ini (datang ke Pemko) saya sendiri terkejut, saya lagi tidur tadi. Saya sudah mengajak pemain berlatih, tapi ini hak anak-anak. Selama ini,  sudah mampu menunjukkan walau kondisinya seperti ini. Saya harap, bapak-bapak mau mencarikan solusikan. Dua partai away (Mitra dan Persisam) sangat penting, kalau kalah bisa degradasi. Saya harapkan, ada solusi. Dan kami berlatih untuk tetap memegang nama Medan agar besar, lebih konsentrasi ke depannya. Kedatangan, anak-anak ini tidak disengaja, tidak direncanakan, mereka spontan, mereka pusing," tuturnya.

Kadispora Medan, Hanas Hasibuan menanggapi keluhan pemain ini, akan memanggil pengurus PSMS dan pihak ketiga untuk mencarikan solusi terbaik. "Kami menerima kehadiran untuk bersama-sama membicarakan ini. Dan PSMS tidak bisa dipisahkan yang satu dengan yg lain, karena PSMS juga tidak bisa dilepas dari kita semua. Ini (keluhan pemain) kami tampung, untuk tindakdilanjuti. PSMS bagian dari anak Medan dan Pemerintah Kota Medan. Bagaimana follow up tentu kami bukan sebagai pemutus, curhat ini akan kami tampung dan kami sampaikan kepada stakeholder yang berhubungan dengan PSMS," paparnya.

"Saya telepon Pak Idris (CEO) langsung, karena dia enggak bisa datang," timpalnya.

Namun, lanjut Hanas soal posisi Rahudman sebagai ketum tidak lagi bisa, karena peraturan pemerintah, kepala daerah tidak bisa lagi jadi ketua umum klub profesional. Dan anggaran pemerintah daerah tidak bisa digunakan untuk klub profesional. "Saya pikir respontime tidak terlalu lama. Kami akan panggil pengurus," tegasnya.

Ketua KONI Medan, Zulhifzi Lubis menegaskan jika nanti memanggil manajemen dan pengurus PSMS, maka juga akan mempertegas soal dana sponsor yang disebut belum cair. "Sore ini akan kami panggil," tukasnya.

Pertemuan ini berjalan kurang lebih 30 menit dan pemain berjalan balik ke mess.

Sementara itu, CEO Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI), Valentino Simanjuntak melalui ВВМ nya menyampaikan, APPI sudah mengetahui perihal tunggakan lima bulan gaji tersebut. "Sebenarnya PSMS sudah akan mogok main juga pada saat lawan Persib Bandung. Tapi, Bapak  Idris meyakinkan akan dibayar, tetapi ternyata belum dibayar sampai sekarang," tegasnya. (gk-38)

Terkait