thumbnail Halo,

Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) pertandingan Persema, Sapto P Santoso mengundurkan diri dengan alasan manajemen tidak profesional.

Persoalan demi persoalan silih berganti menyelimuti klub Persema Malang menjelang laga lawan Persebaya Surabaya di Stadion Gajayana Malang, Minggu (22/4). Setelah pemain mengancam mogok karena gaji dan bonus belum dibayar, kini Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) pertandingan Persema, Sapto P Santoso mengundurkan diri dengan alasan manajemen tidak profesional.

Pengunduran diri Sapto P Santoso sebagai Ketua Panpel  itu diakui CEO Persema, Didit Poernawan Afandi. Menurut dia, manajmen sudah menerima surat pengunduran diri ketua Panpel Persema.

"Ya, sebenarnya sudah Senin (16/4) lalu dia menyampaikan secara lisan. Lalu dia menguatkan dengan mengajukan surat pengunduran diri itu ke manajemen. Saya secara pribadi memang menyanyangkan keputusan itu,'' papar Didit Poernawan Afandi kepada GOAL com Indonesia Jum'at (20/4).

Apalagi, pengunduran Ketua Panpel itu diakui Didit memang membuat pusing manajemen. Apalagi, tandas dia, pengunduran itu disampaikan justru menjelang pertandingan lawan Persebaya.

Meski begitu, pihaknya tidak bisa mencegah dan berbuat banyak. Alasannya,  keputusan yang diambil Sapto itu dinilai sangat pribadi. Makanya, dia hanya bisa merelakan kepergian Sapto dari jabatannya sebagai Ketua Panpel Persema Malang. Manajemen Persema pun, dikatakan sudah menunjuk penggantinya.

Manajemen Laskar Ken Arok sudah menunjuk pengganti Sapto P Santoso sebagai Ketua Panpel Persema. Penunjukan pengganti Sapto P Santoso itu diakui manajer media officer Persema, Farnia Ramadhani, Jumat (20/4).

''Kami sudah menunjuk Ketua Panpel Persema yang baru, yaitu Eka Ananta Sidharta. Dia selama ini menjabat sebagai Sekretaris tim Persema. Ya, biar merangkap dulu,'' kata wanita yang akrab disapa Nia ini.

Menurut dia, jabatan Ketua Panpel itu memang untuk sementara dirangkap. Eka Ananta Sidharta pun dikatakan siap menunaikan tugas rangkap jabatan itu.

Makanya, tandas dia, pertandingan antara Persema melawan Persebaya di Gajayana  tetap akan dilaksanakan sesuai jadwal yang ditentukan. Pertandingan, tandas dia, tidak akan dipindah ke stadion lain.

Alasannya, selain persoalan personel penjabat Ketua Panpel Persema sudah ditunjuk, persiapan untuk melawan tim Bajol Ijo asal Kota Pahlawan pun sudah dilakukan. Dia contohkan seperti mempersiapkan lapangan, termasuk personel keamanan.

Semua persoalan termasuk masalah gaji, bonus pemain dan juga Ketua Panpel yang mundur dikatakan sudah tidak ada masalah lagi. Semua beres. Bahkan, Panpel sebanyak 35 orang pun dikatakan telah mulai bekerja mempersiapkan sarana dan prasarana serta alat perlengkapan pertandingan.

Begitu juga mengenai pencairan dana. Menurut, Nia sudah tak menjadi masalah, tim sekarang sudah bisa fokus dan konsentrasi untuk menghadapi Persebaya. "Ya, karena mengenai dana yang macet, Alhamdulillah sudah selesai. Itu karena ada mekanisme yang harus dilalui untuk pencairannya," tutur dia.

Karena itu, dia sangat optimistis laga derby Jatim antara Persema Malang melawqan  Persebaya di Stadion Gajayana Malang, Minggu (22/4/2012) nanti tetap terlaksana seperti yang diharapkan. Sebab, semua persoalan yang menyelimuti Persema ini diyakini sudah teratasi.

Sementara itu, Sapto P Santoso secara terpisah mengatakan bila kepergiannya dari tim Laskar Ken Arok itu  bukan tanpa alasan. Dia merasa selama ini sering dikecewakan manajemen Persema. Bahkan, dia menilai bila manajemen  manajemen Persema tak memiliki iktikad baik untuk mengantar  Persema menjadi klub besar yang professional.

"Kami mundur bukan karena sengaja menjerumuskan Persema. Sebab kami memang tahu Persema akan menjamu Persebaya di Gajayana. Namun,  bagi kami semua itu kembali ke manajemen Persema sendiri. Jika memang bisa diajak kerja sama secara profesional tidak masalah. Sebab, kami sudah bekerja secara maksimal," kata Sapto.

Namun, lanjut dia, respon manajemen Persema selama ini justru dinilai sebaliknya. Sebab, kata dia, selama ini manajemen sering memperlakukan Panpel itu seperti pengemis atau tukang tagih. Itu dialami  Panpel jika meminta biaya operasional untuk penyelenggaraan pertandingan di Stadion Gajayana Malang.

''Kami merasa keberatan diperlakukan seperti tukang tagih atau pengemis. Itu kami alami selama musim pertandingan  ini. Bahkan, untuk biaya sewa lapangan pun harus hutang,'' katanya.

Padahal, tandas dia, pada musim pertandingan sebelumnya tidak seperti saat ini. Biaya operasional untuk sewa lapangan dan lain sebagainya, kata dia, sudah terima jauh hari sebelum  pertandingan home itu digelar. Karena itu, Sapto memilih  mengundurkan diri sebagai Ketua Panpel, karena manajemen Persema dinilai sering mengecewakan. (gk-41)

Terkait