SPESIAL: Sepuluh Pelajaran Penting Dari Piala Dunia 2014

Dari penampilan menggigit Jerman sepanjang turnamen hingga gigitan Luis Suarez, setidaknya ada sepuluh hal yang membuat Piala Dunia 2014 akan selalu dikenang.

GOALOLEH    SANDY MARIATNA     Ikuti di twitter

Tuntas sudah pagelaran akbar sepakbola bernama Piala Dunia 2014 dengan Jerman keluar sebagai pemenangnya usai membekap Argentina 1-0 melalui babak perpanjangan waktu, Minggu (14/7) malam waktu Brasil.

Sebanyak 171 gol tercipta sepanjang 64 pertandingan yang dipentaskan, mulai dari gol bunuh diri Marcelo di partai pembuka hingga sepakan voli Mario Gotze di partai puncak. Selain gol, tentu saja, ada banyak sekali momen yang membuat Piala Dunia edisi ke-20 ini layak dikenang sebagai salah satu yang terbaik.

Goal Indonesia menghadirkan setidaknya sepuluh pelajaran penting yang bisa dipetik untuk menjadi bahan evaluasi dari semua pihak, mulai dari FIFA, pihak penyelenggara tuan rumah, tim dan pemain yang bertanding, hingga para pencinta si kulit bundar di seluruh dunia. Simak selengkapnya berikut ini! 

 

1. Banyak Gol, Semakin Semarak

Meski banyak keluhan tentang cuaca panas dan lembab, nyatanya hal tersebut tidak menghalangi terciptanya 171 gol di sepanjang pagelaran Piala Dunia 2014. Dengan rataan 2,67 gol per partai, jumlah ini persis menyamai rekor yang tercipta di Piala Dunia 1998 di Prancis sebagai Piala Dunia dengan jumlah gol terbanyak. Sebelumnya, jumlah total gol turnamen mulai menurun signifikan sejak Jerman 2006 (147 gol) dan bertambah buruk pada Afrika Selatan 2010 (145 gol).

Untungnya, banyak tim di Brasil 2014 yang tak segan mengakomodasi sepakbola menyerang sehingga membuat turnamen kian semarak. Gol-gol indah pun tercipta. Siapa yang tak ingat gol 'pesawat terbang' Robin van Persie ke gawang Iker Casillas, sepakan voli deras Tim Cahill kontra Belanda, dan tembakan spekulasi luar biasa dari James Rodriguez versus Uruguay. Nama terakhir bahkan sukses menyabet Sepatu Emas lewat koleksi enam gol sepanjang turnamen. Dan jangan lupakan, di turnamen ini Miroslav Klose mencatatkan diri sebagai topskor sepanjang masa Piala Dunia.

 

2. Inovasi Teknologi Garis Gawang

Wacana penggunaan goal line technology (GLT) atau teknologi garis gawang kian gencar dikemukakan setelah gol Frank Lampard ke gawang Jerman di babak 16 besar Piala Dunia 2010 dianulir. Ide yang sempat menimbulkan pro dan kontra dari sejumlah kalangan itu pada akhirnya terwujud juga di Piala Dunia kali ini. Ya, untuk pertama kali dalam sejarah, teknologi garis gawang diterapkan di Piala Dunia oleh FIFA.

Hasilnya? Memuaskan. Teknologi yang meminimalisir kesalahan wasit ini langsung menunjukkan tajinya ketika turut mengesahkan gol bomber Prancis Karim Benzema ke gawang Honduras pada laga pembuka Grup E. Berikutnya, GLT juga mengiringi kejutan Kosta Rika ketika tandukan Bryan Ruiz sukses membuat Italia terbenam. Selain GLT, FIFA juga menginisiasi inovasi lain dengan penggunaan vanishing spray yang hasilnya memuaskan karena mempercepat eksekusi tendangan bebas.

 

3. Nestapa Tuan Rumah

Kembalinya Piala Dunia ke sebuah negara yang memiliki prestasi paling mentereng di ajang tersebut tidak serta merta membuat kegembiraan bagi tuan rumah. Usai Maracanazo 64 silam, Brasil kembali harus menelan tragedi di kandang sendiri. Brasil dipaksa menyerah oleh Jerman 7-1 di laga semi-final. Mineirazo, begitu orang-orang menyebut bencana itu yang merupakan skor kekalahan terburuk Brasil sejak 1920.

Pupusnya ambisi pasukan Luiz Felipe Scolari merengkuh hexacampeao ini diperparah dengan cederanya sang inspirator tim, Neymar, pada laga perempat-final melawan Kolombia. Duka 200 juta lebih rakyat Brasil akhirnya komplet kala mereka dihajar Belanda 3-0 di tempat perebutan juara ketiga. Selecao butuh solusi jangka panjang jika mereka masih ingin dipandang sebagai timnas tersukses di dunia.

 

4. Kembali Populernya Sistem Tiga Bek

Satu hal menarik dalam taktik yang dikembangkan oleh beberapa tim di Brasil 2014, yakni mencuatnya kembali sistem tiga bek yang sempat ditinggalkan oleh banyak tim-tim top dalam beberapa dekade terakhir.

Beberapa tim -- yang paling mencolok adalah Belanda, Cili, Meksiko, dan Kosta Rika -- mampu tampil cemerlang dengan formasi 3-5-2 yang kebanyakan dimodifikasi menjadi 3-4-1-2. Keempat tim tersebut mampu lolos dari fase grup dan bahkan Belanda sanggup merengkuh juara ketiga lewat kombinasi trio bek Stefan De Vrij, Ron “Si Beton" Vlaar, dan Bruno Martins Indi. 

 

5. Kejutan Akan Selalu Ada

Siapa yang menyangka sang juara bertahan Spanyol harus tersingkir cepat? Siapa pula yang mengira Kosta Rika justru hadir sebagai pemuncak grup neraka yang berisikan Italia, Inggris, dan Uruguay? Semuanya itu bisa terjadi dalam turnamen sekaliber Piala Dunia yang memang selalu memberi kejutan, baik itu di masa lalu, sekarang, dan yang akan datang.

Spanyol bahkan langsung dibabat Belanda 5-1 di laga pembuka sebelum akhirnya dipastikan tersingkir melawan Cili di partai kedua, menjadikan La Roja sebagai juara bertahan yang paling cepat angkat koper sejak Italia pada 1950. Sementara itu, Kosta Rika mampu mengangkangi tiga mantan juara dunia di Grup D sebelum langkah mereka terhenti oleh Belanda di perempat-final. Menarik untuk menanti kejutan berikutnya dari tim-tim benua Afrika dan Asia di Piala Dunia mendatang yang masih belum bisa berbicara banyak di Brasil.

 

6. Kiper Bagus, Tim Melaju Mulus

Kisah heroik para kiper menjadi salah satu cerita manis di Brasil. Bagaimana tidak? Ada banyak kiper yang mampu tampil luar biasa di sepanjang turnamen dan berkontribusi besar dalam mengantar timnya melaju ke babak selanjutnya. Ada Tim Howard yang mampu membuat penyelamatan terbanyak sepanjang sejarah dalam satu partai Piala Dunia meski Amerika Serikat akhirnya harus digusur Belgia. Kiper tanpa klub Guillermo Ochoa dari Meksiko kini menjadi buruan transfer musim panas setelah penampilan heroiknya melawan Brasil.

Lalu ada Keylor Navas yang tak bisa dilepaskan dari paket tim kejutan Kosta Rika. Jangan lupakan pula duo kiper Afrika, Vincent Enyeama (Nigeria) dan Rais M’Bolhi (Aljazair), yang juga tampil jempolan. Ini belum termasuk para pahlawan adu penalti seperti Sergio Romero (Argentina) dan Tim Krul (Belanda). Pada akhirnya, Manuel Neuer-lah yang mengklaim Sarung Tangan Emas lewat performa konsistennya sepanjang turnamen setelah mengantarkan Jerman menjadi kampiun. Kiper kini punya status baru.

 

7. Penyakit Lama Luis Suarez Kambuh

Jika 2006 punya tandukan kepala Zinedine Zidane dan 2010 punya pemberontakan skuat Prancis terhadap pelatih mereka, maka predikat villain (penjahat) Piala Dunia 2014, tak lain tak bukan, jatuh kepada Luis Suarez atas insiden gigitannya terhadap pundak bek Italia Giorgio Chiellini dalam partai krusial di Grup D.

Memang, menggigit sudah masuk dalam kamus Suarez sejak dulu, namun jika hal ini dilakukan di ajang sekelas Piala Dunia dan merupakan kelakuannya yang kali ketiga, maka FIFA tak segan menghukum berat striker Uruguay ini. Empat bulan tak boleh terlibat dalam aktivitas sepakbola dan skorsing sembilan laga internasional harusnya membuat penyerang anyar Barcelona ini jera.

 

8. Louis van Gaal Si Petaruh Ulung

Barangkali, jika ada penghargaan pelatih terbaik Piala Dunia maka Louis van Gaal adalah sosok yang paling pantas mendapatkannya. Ia sukses memimpin Belanda menjadi juara ketiga di bawah Jerman dan Argentina, sebuah raihan yang jauh melampaui ekspektasi publik sebelum turnamen digelar. Kejutan demi kejutan yang diberikan oleh sang Meneer berusia 62 tahun ini menjadi cerita menarik.

Dimulai dari formasi 5-3-2 yang sukses membabat juara bertahan Spanyol 5-1, berlanjut dengan keberhasilan besarnya dalam memanfaatkan pemain cadangan, taktik mind games Tim Krul dengan pergantian kiper saat adu penalti kontra Kosta Rika, sebelum akhirnya sukses memainkan seluruh 23 pemain yang ia bawa ke Brasil. Bisa dibilang Van Gaal adalah seorang petaruh yang handal. Menarik disimak kiprahnya di Inggris musim depan bersama Manchester United.  

 

9. Lionel Messi Gagal Raih Kesempurnaan

Disebut-sebut sebagai titisan Diego Maradona, Lionel Messi memang berhasil menunjukkan segala sinarnya di level klub bersama Barcelona, namun lain ceritanya jika berbicara di level internasional ketika membela Argentina. Pendapat ini nyaris terbantahkan ketika La Pulga mampu menginspirasi Albiceleste hingga ke final Piala Dunia 2014 melawan Jerman.

Sayang, gol voli Mario Gotze di babak perpanjangan waktu membuat Messi gagal mencapai ambisi terbesarnya. “Saya akan menukar semua rekor personal dengan trofi Piala Dunia,” ujar Messi sebelum laga final. Pantas saja, Messi bak menjadi orang paling sedih di dunia meski mendapatkan Bola Emas seusai laga final. Messi tahu bahwa dirinya dirinya belum sama sempurnanya dengan Maradona dan Pele.

 

10. Jerman Panen Hasil Kerja Keras

Ketika Jerman hancur lebur di Euro 2000, Federasi Sepakbola Jerman (DFB) mendeklarasikan revolusi sepakbola. Pembinaan pemain muda diintensifkan, termasuk investasi besar-besaran dalam sistem akademi, Bundesliga terus dibenahi, proporsi pemain asing dikurangi, dan segala hal lainnya yang berkaitan dengan satu tujuan: demi timnas. Jerman pun berhasil bangkit.

Setelah hanya mencapai final, semi-final, dan semi-final lagi di tiga edisi Piala Dunia sebelumnya, maka pada Brasil 2014 ini mereka sukses memanen hasil kerja keras selama 14 tahun terakhir itu. Jerman kini boleh berbangga dengan dicantumkannya empat bintang, mengakhiri dahaga gelar selama 24 tahun, sekaligus menjadi tim Eropa pertama yang sukses menaklukkan benua Amerika. Sebuah kesabaran dan usaha keras yang layak ditiru oleh semua federasi sepakbola di seluruh dunia.



Piala Dunia >> Halaman Khusus Piala Dunia 2014
>> Semua Berita Piala Dunia 2014
>> Jadwal - Hasil - Klasemen Piala Dunia 2014
>> Live Update Piala Dunia 2014