thumbnail Halo,

Tangis Balotelli pecah saat ditarik keluar melawan Napoli. Namun Balo hanya satu dari sekian banyak aktor lapangan hijau yang tak sanggup membendung air matanya.


GOALOLEH   SANDY MARIATNA     Ikuti di twitter


Menangis akan membuat sisi manusiawi seseorang terkuak. Pun menangis tidak akan membuat seorang pria, yang dianggap tabu menitikkan air mata menurut hukum sosial, mengurangi rasa 'ke-pria-annya' itu. Sepakbola sebagai representasi candradimuka kehidupan manusia, tentu juga tak pernah lepas dari tetes air mata para pemainnya.

Terkadang, sepakbola menjadi salah satu permainan terkejam. Kemenangan yang tinggal sejengkal kaki bisa langsung sirna tanpa ada tanda-tanda peringatan sebelumnya. Di satu waktu, sepakbola juga bisa membuat orang merasa begitu kesal, frustrasi, geram, benci, karena segalanya berjalan di luar rencana. Menguras emosi para pemain yang terlibat.

Itulah sekiranya yang dirasakan striker AC Milan Mario Balotelli yang tak kuasa membendung air matanya ketika ditarik keluar oleh Clarence Seedorf dan digantikan oleh Giampaolo Pazzini di menit 73 ketika timnya masih tertinggal 2-1 dari Napoli di San Paolo, Minggu (9/2) dini hari WIB. Balotelli terlihat menangis di bangku pemain dan di akhir laga, Rossoneri takluk 3-1.

Ada dua teori penyebab Balotelli menangis. Pertama, ia menangis karena ejekan berbau rasis oleh para suporter tuan rumah. Dan yang kedua -- yang paling masuk akal -- karena di pekan ini ia baru saja dipastikan menjadi seroang ayah berdasarkan hasil tes DNA. Pia, nama sang anak yang sudah berusia setahun lebih, tinggal di Naples bersama ibunya, Raffaella Fico. Mungkin Balotelli sudah menyiapkan selebrasi spesial kepada mereka, namun ia tampil underperform. Balo gagal dan ia pun menangis. Sesederhana itu.

"Kami adalah pemain dan ada kalanya kami menunjukkan dengan cara seperti itu. Saya tak melihat hal yang salah atau tidak normal mengenai hal ini. Saya juga kadang merasakannya juga," tutur Seedorf seusai laga. Terlepas dari penyebab mana yang benar, tangis dan performa buruk Balotelli malam itu menggambarkan Milan yang sedang terseok-seok di musim ini.

Tangisan striker berusia 23 tahun itu hanyalah salah satu dari sekian banyak momen serupa yang terjadi di dunia sepakbola. Mereka menangis karena menghadapi situasi yang berada di luar kemampuan mereka dan momen-momen seperti ini akan selalu lekat di pikiran para penggemar. Goal Indonesia menyajikan beberapa kejadian banjir air mata dari pesepakbola internasional. 


PAUL GASCOIGNE | Semi-final Piala Dunia 1990

Salah satu momen paling menguras emosi yang pernah terlihat di lapangan hijau. Gelandang timnas Inggris Paul Gascoigne menjadi pusat perhatian di Stadio Delle Alpi dalam babak empat besar Piala Dunia 1990 melawan Jerman. Ketika kedudukan masih terkunci 1-1, eks pemain Tottenham Hotspur itu melakukan ganjalan keras kepada Thomas Berthold dan ia mendapat kartu kuning dari wasit. Artinya, jikalau Inggris lolos ke final, Gascoigne tak akan bermain di partai puncak. Gazza lalu menangis tersedu-sedu. The Three Lions akhirnya takluk via adu penalti dan melenggangkan Jerman untuk menjuarai turnamen tersebut. Dan tangis Gazza masih kekal hingga saat ini.


ROMARIO | Batal tampil di Piala Dunia 1998
Usai golnya membawa Brasil meraih trofi Piala Dunia keempat di Amerika Serikat, Romario tentu berharap bisa kembali tampil membela negaranya di Piala Dunia 1998 di Prancis untuk mempertahankan gelar sekaligus menghadirkan kombinasi penyerang mematikan bersama Rivaldo dan Ronaldo. Sayang, menjelang turnamen akbar tersebut, ia mengalami cedera otot dan harus bergelut dengan waktu agar bisa masuk dalam skuat Mario Zagallo. Sehari sebelum pengumuman skuat Selecao itu diumumkan, Romario menyadari dirinya tak bisa pulih tepat waktu dan air mata mengucur deras darinya.


DIEGO MARADONA | Final Piala Dunia 1990

Musim panas di Italia tahun 2000 adalah pusat perhatian dunia. "Diego, we love you, but Italy is our father," demikian banner di dalam Stadio San Paolo ketika tuan rumah Italia menjalani babak semi-final melawan Argentina yang diperkuat bintang pujaan Napoli, Diego Maradona. Tapi sambutan serupa tak terjadi di Olimpico, ketika Maradona dkk. bermain di final melawan Jerman. Argentina kalah 1-0 dan fans di dalam stadion terus mengejek Maradona karena menyingkirkan Italia di babak sebelumnya. Maradona sudah menangis, sejak sebelum medali runner-up dikalungkan kepadanya, mengetahui trofi Piala Dunia terlepas dari tangannya.


SAMUEL KUFFOUR | Final Liga Champions 1998/99

Samuel Kuffour menjadi orang yang paling sedih di Camp Nou ketika final Liga Champions 1999. Di saat timnya Bayern Munich sudah unggul 1-0 hingga menit 90, Manchester United secara ajaib mampu mencetak dua gol di injury time. Reaksi murung luar biasa jelas tampak di wajah seluruh pemain Bayern dan memuncak pada Kuffour. Bek Ghana ini terbaring lesu di lapangan sambil terus menangis selama beberapa menit setelah Ole Gunnar Solskjaer mencetak gol penentu kemenangan Setan Merah.


FRANCO BARESI | Final Piala Dunia 1994

Meski dikenal sebagai bek tertangguh yang pernah dilahirkan oleh AC Milan, Franco Baresi punya beberapa momen mengecewakan yang membuatnya menangis. Seperti saat dia gagal mengeksekusi penalti dalam adu tos-tosan melawan Brasil di final Piala Dunia 1994, dalam penampilan terakhirnya bersama Italia. Ia kembali menitikkan air mata ketika melakoni partai terakhirnya berama Rossoneri pada 1997.


MICHAEL BALLACK | Semi-final Piala Dunia 2002

Usai rampung mengalahkan tuan rumah nan mengejutkan bernama Korea Selatan di babak semi-final Piala Dunia 2002, Michael Ballack justru tampak bersedih. Pasalnya, ia tak boleh tampil di partai puncak akibat akumulasi kartu. Empat menit setelah ia diberi kartu kuning, ia memberikan persembahan terakhir kepada Jerman lewat gol semata wayangnya ke gawang Korsel. 


SKUAT KOREA UTARA | Fase Grup Piala Dunia 2010
Menjadi negara kejutan yang lolos ke Piala Dunia 2010, Korea Utara tergabung satu grup dengan Portugal, Pantai Gading, dan Brasil. Nama terakhir menjadi lawan pertama yang dihadapi Korea Utara. Begitu lagu kebangsaan Korea Utara dikumandangkan, satu per satu para pemain mereka menitikkan air mata. Jong Tae-Se, salah satu pemain kelahiran Jepang yang mendapat kewarganegaraan Korut, tampak menangis terharu mengingat betapa bangga dirinya bisa tampil di sana.


JOHN TERRY | Final Liga Champions 2007/08

John Terry memang terkenal cengeng setiap kali Chelsea atau timnas Inggris mengalami sebuah kegagalan. Tetapi tak ada kegagalan yang lebih menyakitkannya ketimbang final Liga Champions 2008 di Moskwa. Terry, yang seharusnya bisa menjadi penentu adu penalti melawan Manchester United, ternyata gagal mengeksekusinya lantaran ia terpeleset! Bola tembakannya pun melenceng. United lalu bangkit dan sukses menjuarai trofi tersebut. Sementara Terry tak bisa menghentikan air matanya akibat kegagalan itu. 


ANGELO PALOMBO | Giornata 38 Serie A Italia 2010/11
Mei 2011, Sampdoria terdegradasi ke Serie B setelah kalah di kandang sendiri dari Palermo. Angelo Palombo sebagai kapten klub tampak menangis. Sembari memberikan aplaus dan permintaan maaf di tiap tribun penonton, tangis Palombo semakin kencang. Laga itu adalah titik kulminasi perjalanan musim Sampdoria yang buruk pada waktu itu.


CRISTIANO RONALDO | Final Euro 2004

Cristiano Ronaldo mengaku menangis ketika gagal membawa Real Madrid lolos ke final Liga Champions dua musim lalu melawan Bayern Munich. Tapi, tangisan Ronaldo yang paling terkenal adalah saat di final Euro 2004. Ketika itu Ronaldo muda tampak menangis tersedu-sedu di lapangan dengan rona merah terlihat jelas di sekitar wajahnya. Portugal kalah 1-0 dari Yunani. Padahal, Luis Figo cs. bertindak sebagai tuan rumah dan pencapaian tersebut menjadi prestasi tertinggi Seleccao hingga saat ini.


RONALDO | Leg pertama Final Coppa Italia 1999/00
April 2000, striker Internazionale Ronaldo siap melakoni comeback melawan Lazio di Coppa Italia usai pulih dari cedera lutut parah yang membuatnya absen enam bulan. Baru bermain tujuh menit, bencana langsung datang. Striker terbaik dunia itu tiba-tiba terjatuh dan berteriak kencang mengerang kesakitan karena lututnya cedera lagi. Ronaldo menangis ketika ditandu keluar lapangan. Meski beberapa tahun setelahnya pulih dan menjuarai Piala Dunia 2002 bersama Brasil, banyak yang menganggap kemampuannya tak sebaik dulu lagi.


PELE | Final Piala Dunia 1958

Tangisan haru kerap terjadi ketika seorang pemain atau pelatih merengkuh trofi yang mereka idamkan. Namun Pele sanggup mengekspresikan perasaan terindahnya lewat tangisan usai mencetak gol di final Piala Dunia 1958 melawan tuan rumah Swedia. Sebagai pemain muda berusia 17 tahun, Pele berkontribusi besar dalam membawa Brasil meraih Piala Dunia pertamanya. Ia lalu digotong massal oleh rekan setimnya dan diarak di lapangan sambil menitikkan air mata. Pele lalu menangis lagi 56 tahun setelah momen itu ketika ia mendapatkan Ballon d'Or Prix d'Honneur dalam gala Ballon d’Or pada 13 Januari lalu.



Goal kini hadir dengan aplikasi unggulan live score!
Segera unduh untuk mengetahui skor pertandingan lebih cepat daripada siaran televisi:

Apple iOS

Android

Windows Phone


Terkait