thumbnail Halo,

Dean Furman bersinar untuk Afrika Selatan di Piala Afrika 2013.


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter
Sabtu, 5 Januari 2013. Dia tidak bisa berlama-lama merayakan kemenangan mengejutkan Oldham Athletic atas Nottingham Forest di babak ketiga Piala FA. Begitu wasit mengakhiri pertandingan untuk keunggulan Oldham 3-2, dia bergegas masuk kamar ganti. Mandi sebentar, berpakaian, berpamitan kepada rekan-rekan setim, dan langsung menuju bandara Heathrow, London. Pesawat yang diburunya akan bertolak ke Afrika Selatan. Di sakunya masih tersimpan surat pemanggilan memperkuat timnas Afrika Selatan untuk Piala Afrika 2013. Di antara 23 nama pemain yang dipanggil pelatih Gordon Igesund, namanya tercantum di surat itu: Dean Furman.

Furman tentu tidak melupakan tanggal 8 September 2012. Ketika itu Igesund memberinya kesempatan memulai debut untuk Bafana-Bafana. Tak tanggung-tanggung, Furman diterbangkan ke Sao Paulo untuk menghadapi Brasil. Pertandingan berakhir 1-0 untuk kemenangan Brasil, tapi Furman bangga dapat membela tanah kelahirannya. Debut itu memungkas penantian panjang Furman selama empat tahun ketika menjadi pemain cadangan dalam uji coba melawan Australia. Lahir di Cape Town, 22 Juni 1988, Furman hanya tinggal sebentar di Afrika Selatan karena sejak kecil keluarganya pindah ke Inggris. Di negara itu, Furman menekuni olahraga yang digemarinya, sepakbola.

"Sungguh kehormatan besar buat saya," ujarnya. "Afrika Selatan adalah tempat kelahiran saya. Saya pernah tinggal di sana hingga usia lima tahun dan beberapa anggota keluarga masih tinggal di sana. Ini momen membanggakan buat saya. Sesuatu yang selalu saya idam-idamkan dan mudah-mudahan kesempatan ini bukti dari kemampuan saya."

Penampilan Furman melawan Angola menginspirasikan kemenangan Bafana-Bafana

Saat berusia 15 tahun, Furman masuk akademi Chelsea yang ditangani Brendan Rodgers. Menilai tak punya masa depan di Stamford Bridge, Furman menerima ajakan bergabung dari Glasgow Rangers pada musim panas 2006. Pada musim pertamanya bergabung di skuat senior Rangers, dia langsung dipinjamkan ke Bradford City selama enam bulan dan kemudian diperpanjang hingga musim 2008/09 selesai. Di klub divisi League Two itu Furman mendapat tempat di tim inti dan tampil 33 kali sehingga Oldham datang merekrutnya. Melihat potensi yang ditunjukkannya bersama Latics dalam tiga musim terakhir, sejumlah klub Championship tertarik meminangnya akhir musim lalu. Namun, Furman memilih bertahan. Salah satu syaratnya, jika panggilan memperkuat timnas Afrika Selatan datang, dia akan memenuhinya.

Oldham sebenarnya sedang dalam periode buruk ketika Piala Afrika menjelang. Latics berada di papan bawah klasemen League One. Tanpa diperkuat sang kapten, mereka mengalami tiga kekalahan beruntun. Tapi, janji adalah janji. Begitu Bafana-Bafana mengumumkan daftar skuat, Furman tidak bisa menolak.

"[Dilema klub versus timnas] Terjadi setiap tahun. Banyak pemain yang terpaksa absen. Itu sebuah kesulitan tersendiri, tapi ketika negara saya memanggil, sangat sulit menolaknya," imbuhnya.

"Sungguh sebuah kehormatan besar bermain untuk Afrika Selatan dan mewakili negara saya di sebuah turnamen besar akan menjadi salah satu titik puncak dalam karier."

STATISTIK KARIER FURMAN
Tempat, tanggal lahir: Cape Town, 22 Juni 1988
Klub Tahun Laga (Gol)
Chelsea (akademi) 2003-06 -
Rangers 2006-08 1 (0)
Bradford 2008-09 33 (4)
Oldham 2009- ... 146 (7)
Timnas:
Afrika Selatan
2012- ... 7 (0)
Meski demikian, Furman harus menunggu kesempatan karena tidak dimainkan pada laga pembukaan turnamen menghadapi Tanjung Verde. Namun, akibat hanya meraih hasil imbang tanpa gol, Igesund merombak skuat. Furman dipercaya mengomandoi lini tengah pada pertandingan berikutnya melawan Angola. Kebetulan pula Kagisho Dikgacoi mengalami cedera ringan sehingga Furman yang dipilih menjadi jangkar tim. Tugas itu dibayarnya dengan sempurna.

Furman menjadi bintang lapangan Afrika Selatan sekaligus menjadi pujaan baru publik. Dia jarang melepas penguasaan bola, mendistribusikannya tanpa cela, dan sulit dilewati pemain lawan. Sekilas, permainannya mirip dengan sang pemain idola, Frank Lampard. Penampilannya memberikan kestabilan yang dibutuhkan sehingga Afrika Selatan berhasil menang 2-0. Steven Pienaar, eks kapten timnas yang sudah pensiun, memujinya. "Dean Furman pemain terbaik buat kita," ujar pemain Everton itu usai menyaksikan pertandingan lewat televisi di rumahnya di Liverpool.

"Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan buat saya. Luar biasa," ujar Furman usai pertandingan.

"Dengan hanya terlibat di pertandingan pertama [melawan Tanjung Verde] sudah sulit dipercaya dan bisa memainkan penampilan saya rasanya hebat sekali. Saya bisa dengar para penonton bersorak makin kencang seiring berjalannya pertandingan. Lebih cantik kami bermain, lebih kencang sorakannya. Sungguh impian setiap pemain bisa bermain di depan penonton seperti ini. Luar biasa."

Kehadiran Furman yang berkulit putih dan Yahudi memang begitu mencolok di skuat Bafana-Bafana. Kehadirannya bahkan mempertegas ideologi "negara pelangi" yang diperjuangkan sejak Nelson Mandela memimpin Afrika Selatan. Kehadirannya mengembalikan memori kejayaan ketika Afrika Selatan menjuarai Piala Afrika 1996 bermaterikan para pemain dengan latar belakang yang beragam, antara lain seperti Neil Tovey, Lucas Radebe, dan Mark Williams. Sejumlah media Afrika Selatan berharap penampilan apik Furman membuka mata komunitas kulit putih negara itu untuk membiarkan anak-anaknya menekuni sepakbola, olahraga yang identik dengan anggapan olahraganya kaum kulit hitam.

Pada pertandingan terakhir Grup A, tuan rumah memastikan tiket perempat-final setelah bermain 2-2 melawan Maroko. Furman lagi-lagi menunjukkan permainan yang konsisten. Gaya main ortodoks dengan formasi 4-4-2 yang diterapkan Igesund seakan tak bisa dilepaskan dari gaya bermain Furman yang lugas. Kebahagiaan Furman berlipat ganda usai pertandingan Maroko saat mendapat kabar Oldham berhasil menyingkirkan Liverpool dari Piala FA dan melaju ke perempat-final.

"Saya langsung berjalan ke ruang ganti dan diberitahu hasil pertandingan Oldham. Saya begitu gembira dengan dua hasil bagus ini. Benar-benar hari yang menakjubkan," tukasnya.

Kalau dua penampilan bagus itu belum mendapat sorotan luas, Furman membutuhkan satu pertandingan penting menghadapi lawan yang tangguh untuk membuktikan kalau dia juga sanggup bermain di level yang lebih baik. Untuk itu, Furman harus membawa Afrika Selatan sejauh-jauhnya. Bila perlu menjadi juara sekalian.

Sebuah kehormatan besar tampil untuk Afrika Selatan di Piala Afrika. Ketika negara memanggil, sulit bagi saya menolaknya.

- Dean Furman


Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait