thumbnail Halo,

Ketika negara terkecil di Piala Afrika 2013 menciptakan kejutan...


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter
Apa saja momen dramatis yang selalu Anda ingat selama menggemari sepakbola? Banyak, tentu saja, tapi satu momen ini pantas menambah daftar tersebut.

Memasuki sepuluh menit terakhir pertandingan, Tanjung Verde masih tertinggal dari Angola lewat gol bunuh diri Nando. Situasi ini menempatkan mereka terancam tersingkir dari Piala Afrika 2013. Pada paruh akhir pertandingan, mereka membalikkan keadaan. Kegagalan kiper Angola Luis Lama menghalau sepakan penjuru memudahkan Fernando Varela menyamakan kedudukan. Semangat Tanjung Verde kian berlipat ganda. Persis memasuki menit terakhir di waktu normal, Heldon Ramos menyambar bola muntah tepisan Lama untuk menyarangkan gol kemenangan. Tanjung Verde pun mengukir sejarah. Mereka sukses melaju ke perempat-final pada kesempatan debut di Piala Afrika.

Padahal, Tanjung Verde bukanlah negara sepakbola. Terdiri dari sepuluh pulau utama, negara berbentuk kepulauan ini mengandalkan sektor pariwisata dan perikanan sebagai pemasukan negara. Tanjung Verde baru berkembang menjadi pemukiman saat disinggahi pelaut Italia dan Portugal pada pertengahan abad 15. Pemukiman itu lambat laun berkembang menjadi koloni di bawah bendera Portugal. Kepulauan ini menjadi patokan saat Portugal berbagi kekuasaan maritim dengan Spanyol melalui Perjanjian Tordesillas. Hubungan paling erat antara Tanjung Verde dan si kulit bulat adalah produk-produk "impor" seperti Luis Nani, Patrick Vieira, Henrik Larsson, dan bahkan buyut Cristiano Ronaldo berasal dari negara kepulauan ini.

Tanjung Verde, kejutan Piala Afrika tahun ini

Di ruangan konferensi pers usai pertandingan Angola, mimbar narasumber dengan cepat beralih fungsi menjadi panggung pesta bagi skuat berjuluk Hiu Biru itu dalam merayakan keberhasilan mereka. Pelatih Lucio Antunes turut larut  dengan menyanyikan lagu terkenal dari negaranya, "The Biography of a Criulo".

Kegembiraan yang sama terasa ketika Antunes dengan bersemangat merayakan gol Heldon hingga masuk ke dalam lapangan pertandingan sampai harus diperingatkan wasit. Seperti belum cukup, begitu pertandingan berakhir Antunes melampiaskan kegembiraan dengan mengibarkan bendera raksasa Tanjung Verde di tengah lapangan. Kali ini tak ada yang bisa mencegahnya.

Siapa sangka pelatih yang juga merangkap sebagai petugas air traffic controller (ATC) di bandara internasional Nelson Mandela di Praia itu bisa memandu tim sejauh ini?

"Saya mendedikasikan sukses ini kepada masyarakat di tanah air. Kami datang untuk memenangkan pertandingan ini dan kami bekerja mewujudkannya sejak menit pertama. Sukses ini merupakan dedikasi para pemain. Tujuan kami di turnamen ini sudah tercapai. Kami ingin mencapai delapan besar," sergahnya.

Jose Mourinho, yang sempat bertemu dan dibuntuti Antunes untuk memperoleh ilmu darinya, tak ketinggalan memberi pujian.

"Dia pelatih cerdas. Dia punya gagasan sendiri, rapi, metodis, dan ambisius. Dia pelatih yang sangat bagus," tukas pelatih Real Madrid itu dalam sebuah wawancara televisi.

"Antunes pelatih cerdas, rapi, metodis, ambisius, dan sangat bagus" - Jose Mourinho
Bek andalan Guy Ramos yang bermain di klub Belanda RKC Waalwijk membeberkan rahasia sukses skuat Tanjung Verde.

"Kami sudah seperti keluarga. Ketika tengah menurun, pemain lain membantu memberikan semangat. Ini seperti mimpi yang liar. Kami baru pertama kali tampil di turnamen ini dan mampu lolos ke perempat-final," tukasnya.

"Antunes motivator yang bagus dan dia selalu bisa mempersiapkan kami."

Tanjung Verde memang sebuah anomali. Ketika negara Afrika lain melirik pelatih asing dan materi pemain mancanegara untuk meraih sukses, Tanjung Verde lebih banyak mengandalkan sumber daya lokal. Antunes adalah pelatih lokal kelahiran 46 tahun lalu yang memegang skuat senior Hiu Biru sejak 2010 berkat sukses menjuarai Lusophone Games di Lisabon bersama tim yunior tiga tahun sebelumnya. Di dalam skuat, hanya lima pemain yang lahir di luar negeri, salah satunya Carlitos yang merupakan sepupu Nani.

Bermaterikan pemain andalan seperti Ryan Mendes, Babanco, Platini, Heldon, serta kapten Fernando "Nando" Neves, tim liliput dalam peta sepakbola Afrika ini menjadi cerita besar ketika menyingkirkan singa-singa perkasa Kamerun dalam play-off Piala Afrika.  Di putaran final di Grup A, Maroko nyaris menjadi korban. Singa Atlas dipaksa keteteran dan tertinggal oleh gol Platini hingga Youssef El Arabi menyarangkan gol balasan, 11 menit sebelum pertandingan berakhir. Kejutan akhirnya tercipta juga di Port Elizabeth dengan memaksa Angola bertekuk lutut sekaligus merebut tiket perempat-final.

Sabtu (2/2), tantangan kian besar karena Tanjung Verde dinanti tim favorit Ghana. Kedua tim pernah beruji coba di Lisabon, November lalu, yang berakhir dengan kemenangan Ghana melalui gol tunggal Wakaso Mubarak. Ditambah rangkaian kejutan yang terus diciptakan Tanjung Verde, Ghana sudah tentu takkan lengah apalagi petandingan ini berada di fase krusial.

Meski rasanya tak diunggulkan untuk pertandingan itu, setidaknya dongeng keberhasilan Tanjung Verde di Piala Afrika tahun ini makin memperkaya kisah fenomenal dalam dunia sepakbola.

Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait