thumbnail Halo,

Tujuh dari delapan tim perempat-finalis Piala Afrika 2013 berasal dari Afrika Barat. Akhir dari dominasi Afrika Utara?


CATATAN   LOLADE ADEWUYI     PENYUSUN   AGUNG HARSYA   

Selama empat kali beruntun antara 2004 dan 2010, Piala Afrika direbut oleh tim asal Afrika Utara. Tunisia menjadi tuan rumah dan memenanginya pada 2004, sementara Mesir mampu menggandeng tiga gelar sekaligus selama enam tahun penyelenggaraan mulai dari menjadi tuan rumah 2006, di Ghana 2008, dan Angola 2010.

Saat itu, kelihatannya Mesir seperti tinggal datang dan tidak memedulikan apa yang dipikirkan tim lain karena gelar menjadi milik mereka. Mereka sangat kompak, saling memahami satu sama lain karena mayoritas pemain bermain untuk tim raksasa Kairo seperti Al Ahly dan Zamalek, serta mereka memiliki Hassan Shehata, pelatih yang membangun materi tim selama bertahun-tahun.

Dalam turnamen terakhir di Gabon dan Guinea Khatulistiwa, hanya Tunisia yang lolos ke fase gugur. Sebuah pertanda datang. Mereka disingkirkan Ghana di perempat-final. Juara bertahan Mesir bahkan gagal melangkah ke putaran final. Libya datang seperti siap memberikan kejutan, sedangkan Maroko hanya mampu meraih tiga poin atas tim debutan Niger.

Halilhodzic, perlu bertanya ke diri sendiri

Afrika Selatan 2013 diikuti tiga tim Maghribi, yaitu Aljazair (peringkat kedua tertinggi di benua ini), Tunisia, dan Maroko. Tidak ada dari mereka yang mampu melangkah ke babak gugur.

Orang bisa berpendapat dua dari tiga tim itu harus saling berhadapan dalam grup yang sama dengan tim favorit Pantai Gading. Faktor itulah yang membuat mereka tersingkir.

Lihat pula catatan ini: hanya satu dari tiga tim Afrika Utara itu yang mampu mengemas kemenangan di turnamen ini, yaitu saat Tunisia membekuk Aljazair 1-0 pada laga pertama Grup D. Maroko tiga kali meraih hasil imbang di Grup A yang diikuti Tanjung Verde, Afrika Selatan, dan Angola. Aljazair dua kali menelan kekalahan (satu dari Togo yang berperingkat 55 tingkat di bawah) dan hanya mampu meraih satu kali hasil imbang melawan Pantai Gading pada laga terakhir yang sudah tak menentukan.

Apakah Afrika Utara menurun?

Sulit menegaskannya karena beberapa klub juara Afrika berasal dari kawasan ini, seperti Al Ahly yang mampu menjuarai Liga Champions Afrika meski tidak berkompetisi domestik.

Apa yang bisa menjadi alasan dari buruknya penampilan tim-tim Afrika Utara di Piala Afrika tahun ini? Sampai-sampai pelatih Aljazair Vahid Halilhodzic menumpahkan kesedihan ketika timnya tersingkir dan tak mampu bersaing di level tinggi.

Lamouchi, "wakil" Afrika Utara terakhir

"Kami harus bertanya kepada diri sendiri apa yang salah. Banyak bakat tersebar di Afrika Utara, tapi butuh keja keras untuk menyamai level kompetitif dengan tim-tim Afrika Barat," ujarnya.

Saat ditanya apakah kegagalan dikarenakan beratnya beban menyandang tim peringkat kedua FIFA tertinggi di turnamen ini, Halilhodzic menjawab, "Secara pribadi, tidak; tapi media dan orang lain menciptakan atmosfir yang begitu menekan."

Menarik dicatat ketika tak ada lagi tim asal Afrika Utara yang tersisa di turnamen ini, masih ada pelatih Pantai Gading Sabri Lamouchi yang memiliki keturunan Tunisia meski dia tampil untuk timnas Prancis di level internasional.

Tampil penuh percaya diri di konferensi pers, Lamouchi enggan membahas tersingkirnya wakil-wakil Afrika Utara setelah Pantai Gading bermain imbang melawan Aljazair.

Sementara Afrika Utara pulang ke negara masing-masing, wakil Afrika Barat masih terbang tinggi. Tujuh di antara delapan tim yang tersisa mewakili kawasan yang telah mencetak banyak pemain terbaik Afrika selama satu dasawarsa terakhir tetapi gagal merebut trofi turnamen.

Mulai dari debutan Tanjung Verde hingga tim favorit seperti Pantai Gading dan Ghana, kemudian Nigeria yang kembali lagi, Togo yang dipimpin Emmanuel Adebayor, dan Mali yang bermain dengan kondisi negara tercabik-cabik akibat konflik; semuanya siap membentuk kekuatan baru di kawasan ini.

Hanya Afrika Selatan yang menghalangi jalan mereka untuk merebut trofi yang direbut Nigeria pada 1994. Jelas mereka sulit dihentikan kali ini. Akankah itu terjadi?


Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait