thumbnail Halo,

Kini Cesare Polenghi membahas tentang apa yang bisa dipelajari ASEAN Super League dari sukses Jepang membangun liga domestiknya.


CATATAN  CESARE POLENGHI     PENYUSUN   AGUNG HARSYA    Ikuti Cesare Polenghi di twitter

Rencana pembentukan ASEAN Super League (ASL), yang diharapkan dimulai 2015, tidak hanya telah membangkitkan antusiasme fans sepakbola kawasan ini, tetapi juga memunculkan sejumlah pertanyaan baru. Sulit menjawabnya karena tidak banyak informasi mendetail tentang proyek itu.

Untuk memberi kilasan tentang bagaimana pengelolaan sebuah "super league", mungkin ada relevansinya mengkaji sejumlah aspek tentang bagaimana sebuah kompetisi modern dibentuk di Asia dan cara kerjanya.

Tentu saja kita membahas soal J-League yang kini telah 20 musim bergulir. Kompetisi tersebut telah mampu mencetak banyak pemain bagus yang menuai sukses di kompetisi top Eropa serta membantu terbentuknya timnas yang kompetitif.

Pertama-tama, tentu ada sejumlah perbedaan yang harus disebutkan. J-League adalah kompetisi domestik, sedangkan ASL akan menjadi kompetisi internasional yang memiliki kerumitan tersendiri. Kemudian, tak seperti Asia Tenggara, kompetisi J-League tidak berasal dari liga yang berbeda-beda. Saingan mereka sejak dulu hingga kini adalah bisbol.

Terakhir, karena popularitas bisbol di sejumlah kawasan metropolitan, kebanyakan klub asal J-League (Kashima Antlers, Urawa Red Diamonds, Gamba Osaka, dll) berasal dari kota kecil atau kawasan sub-urban. Sementara, ASL tentu ingin menarik populasi yang tinggal di megalopolis kawasan ini.

Prinsip dasar sukses J-League dibangun dari dua konsep, yaitu kelokalan dan kemandirian. Dalam kata lain, klub harus mengandalkan komunitas masing-masing, mulai dari pemain, fans, institusi, dan sponsor, untuk menunjang kegiatan mereka di dalam maupun luar lapangan.

Untuk memulai analisis ini, ada muatan lokal yang ditekankan J-League ketika menerbitkan sebuah booklet kepada para jurnalis asing pada 2011 lalu: "J-Leage menginginkan agar para anggotanya bisa terintegrasi sepenuhnya dengan komunitas lokal mereka".

Gagasannya adalah agar klub-klub sepakbola menjadi bagian dari kehidupan sosial warga masyarakat dengan menjadi simbol lokal atau regional. Menjadi semacam bendera agar masyarakat bersatu atas dasar olahraga dan kecintaan mereka terhadap kota tempat tinggal. Ini yang kita lihat sudah terjadi di sejumlah klub-klub ASEAN, misalnya Chonburi di Thailand dan Kelantan di Malaysia.

Lagi-lagi, perlu disadari tantangannya kian besar untuk tim-tim yang bermarkas di kota-kota besar karena mereka kurang memiliki identitas. Dimensi internasional yang diusung ASL juga mengalihkan sentimen lokal ini ke ruang yang lebih luas, yaitu secara nasional.

Sebuah klub yang ingin menjadi anggota provisional J-League harus memiliki rata-rata 3000 penonton per pertandingan. Angka itu tidak masalah bagi mayoritas klub-klub ASEAN. Namun, ada persyaratan tambahan untuk menampung organisasi-organsasi suporter resmi. Keadaan ini dapat mendorong klub peserta ASL untuk mengintegrasikan kelompok suporter ke dalam struktur mereka. Untuk menjamin standar profesionalisme yang tinggi, J-League hanya menerima muatan sepakbola dengan rekam jejak stabilitas yang sudah terbukti dan berkecimpung di sebuah liga di divisi rendah.

Sejumlah klub diminta memiliki dua tim taruna dengan kelompok usia bawah 18 tahun dan 15 tahun, ditambah sebuah tim U-12 atau memiliki kursus untuk pelajar sekolah dasar.

Pengelolaan yang profesional juga dituntunt. Sebuah klub J1 harus memiliki badan korporasi atau perusahaan terbatas, memiliki setidaknya seorang pejabat eksekutif, tiga pengurus penuh waktu, tidak punya utang modal, memiliki pendapatan tahunan setidaknya 150 juta yen (lebih dari Rp14 milyar), dan memiliki pendapatan iklan tahunan setidaknya 100 juta yen (hampir Rp10 milyar) setelah terdaftar.

Pengalaman Jepang tampak relevan dan seharusnya tidak terlalu berat dicapai klub Asia Tenggara mana pun. Pertanyaan sebenarnya terletak pada integrasi kepada sistem sepakbola yang sudah ada. Dengan mempertimbangkan penyelenggaraan AFC Cup yang relatif sukses, khususnya pula liga-liga lokal, ASL harus memiliki gagasan yang benar-benar memikat antusiasme suporter dan investor.

Kemudian perlu juga meninjau apa yang terjadi pada awal-awal penyelenggaraan J-League. Kunci sukses dari pembentukan liga adalah produksinya, lebih dari sekadar kontennya. Mulai dari nama-nama pemain top seperti Zico, Pierre Littbarski, dan Gary Lineker, hingga perlengkapan resmi yang menyerupai NFL atau NBA, J-League mampu tepat sasaran dengan menangkap imajinasi "kustomer" mereka.

Contoh Jepang mungkin bukan cetak biru sempurna untuk dikembangkan ASL, tetapi jelas memberikan pelajaran penting tentang bagaimana J-League dapat berkembang. Menimbang minat Jepang terhadap sepakbola Asia Tenggara, kerja sama dua organisasi terkait juga rasanya harus segera dimulai.


GOAL.com hadir via ponsel di alamat m.goal.com.
Unduh juga aplikasi GOAL.com secara langsung untuk OS ponsel Anda:


Terkait