thumbnail Halo,

Meski materi pemain berkualitas sangat berlimpah, tapi menangani timnas Brasil bukanlah tugas yang mudah.


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter
Mano Menezes bisa memberikan Anda seribu jawaban sulitnya menangani timnas Brasi. Jumat, 23 November 2012, ketidakpastian yang menghantui Menezes akhirnya terjawab. Melalui direktur timnas Andres Sanchez, federasi sepakbola Brasil (CBF) memutuskan untuk melakukan perubahan di dalam struktur kepelatihan timnas. Menezes harus mundur dari jabatan sebagai pelatih yang didudukinya selama 29 bulan.

Dua hari sebelumnya, Brasil mampu menjuarai Superclásico de las Américas. Di stadion La Bombonera, Buenos Aires, Brasil mengalahkan tuan rumah Argentina melalui adu penalti setelah dalam dua laga mereka saling mengalahkan 2-1. Gelar itu rupanya tak menyelamatkan reputasi Menezes di mata presiden baru CBF Jose Maria Marin yang menilai Brasil butuh banyak pembenahan sebelum menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun depan.

Dibekali begitu banyak pemain berbakat dan berkemampuan teknik tinggi, kursi kepelatihan timnas Brasil adalah salah satu yang tersulit di dunia sepakbola. Melatih Seleção tidak sesederhana soal bongkar pasang materi impian yang bisa membuat tim manapun merasa iri, tapi si pelatih terpilih harus pula pandai mengelola ekspektasi federasi maupun publik. Carlos Dunga, pelatih sebelum Menezes, dicopot Juli 2010 setelah gagal di perempat-final Piala Dunia Afrika Selatan. Selain gagal membawa Brasil ke podium juara, Dunga dikecam karena timnya kerap menerapkan strategi defensif.

Awalnya, Menezes menjawab ekspektasi dengan memanggil banyak pemain muda debutan ke jajaran Seleção. Pada laga debutnya mengalahkan Amerika Serikat 2-0, Agustus 2010, Menezes hanya memilih empat pemain alumnus Piala Dunia Afrika Selatan dalam tim. Harapan membubung ketika Copa America 2011 datang, tetapi Brasil malah disingkirkan Paraguay melalui adu penalti di babak delapan besar. Keraguan mulai muncul karena pertaruhan Menezes sangat tinggi, yaitu gelar juara dunia 2014 di kandang sendiri. Bayang-bayang tragedi Maracana pada Piala Dunia 1950 kembali menghantui publik Brasil.

Setelah gagal di Olimpiade London 2012 karena hanya merebut medali perak, CBF mengambil keputusan tegas: Menezes harus dicopot. Padahal, rekor total Brasil di bawah kepelatihan Menezes tidaklah buruk. Dalam 40 pertandingan yang dijalani, Menezes meraih 27 kemenangan, enam hasil imbang, dan tujuh kekalahan. Rekor 72 persen kemenangan itu ditambah dengan 86 kali menjaringkan gol serta dua gelar Superclásico de las Américas. Statistik rupanya tak cukup memenangkan hati publik, terutama petinggi CBF.

Secara terbuka mantan presiden FIFA asal Brasil, Joao Havelange, pernah mencela Menezes sebagai pelatih "idiot" dan mendesak agar sang pelatih dipecat selekas-lekasnya. Tuntutan publik diperkeruh analisis dari sisi teknik. Menezes dianggap melakukan sebuah dosa besar. Di tangan mantan pelatih Gremio dan Corinthians itu, Seleção memainkan strategi "false nine" yang otomatis mengabaikan puluhan penyerang tengah mumpuni yang dimilikii Brasil. Kasus Dunga kembali terulang. Sejak sepakbola menjalar di negeri Amerika Selatan ini, Seleção telah menjadi milik siapa saja. Semua orang bebas beropini dan menentukan yang terbaik untuk Seleção. Apalagi jika orang itu bernama Jose Maria Marin yang tampil menggantikan Ricardo Teixeira sebagai presiden CBF sejak Maret 2012.

BRASIL BERSAMA MENEZES VS SCOLARI
MANO MENEZES
Periode 24 Juli 2010-23 November 2012
Rekor 40 main | M27 S6 K7 | 86-30
 LUIZ FELIPE SCOLARI
Periode 13 Juni 2001-9 Agustus 2002
Rekor  24 main | M18 S1 K5 | 56-14
Marin, 80 tahun, adalah mantan pejabat politik sayap kanan yang kemudian terjun ke kancah sepakbola. Menurut kolomnis BBC Tim Vickery, Marin merupakan produk generasi semi-feodal Brasil yang kental dengan sistem oligarki. Saat memimpin CBF, mantan Gubernur Sao Paulo awal 1980-an itu meminta agar Menezes memberinya daftar pemain yang akan dipanggil sebelum melakukan pengumuman resmi. Baginya, harus ada persetujuan dari sang pemimpin besar sebelum pasukan perang berangkat ke medan perang. Permintaan yang sulit diterima akal sehat di era sepakbola modern seperti sekarang ini.

Di belakang punggung Menezes, diam-diam Marin sudah mengontak Luiz Felipe Scolari, yang baru saja berbela sungkawa karena ditinggal wafat sang ibunda. Perbincangan lewat telepon itu hanya berlangsung lima menit dan Scolari setuju kembali menangani Seleção setelah sukses menjuarai Piala Dunia 2002. Pergantian pun dilakukan karena Marin beralasan "ditekan media" dan bukan karena hasil berkonsultasi dengan Teixeira. Ketika Menezes sibuk berkemas dari apartemen mewahnya di Rio de Janeiro serta mengurusi pesangon sebesar lebih dari US$2 juta (kira-kira Rp20 milyar), Scolari bersiap membangun ulang Seleção.

Bagi CBF, Scolari adalah pilihan yang aman. Mungkin juga bukan kebetulan kalau jauh-jauh hari Havelange sudah meminta agar Si Felipe Besar tampil lagi di bangku kepelatihan Seleção menggantikan Menezes meski sebenarnya dia bukan pelatih yang selalu berprestasi mentereng. Gagal di Chelsea usai Piala Dunia 2002, Scolari mencoba peruntungan bersama Bunyodkor di Uzbekistan dan kemudian kembali ke Brasil menangani Palmeiras yang akhirnya terdegradasi musim lalu.

Scolari juga pernah menjadi bulan-bulanan publik, terutama dengan sang legenda Pele, ketika Brasil tertatih-tatih di kualifikasi Piala Dunia 2002. Keraguan itu terjawab ketika formasi 3-5-2 yang diterapkan Scolari justru menjadikan mereka juara dunia untuk kali kelima di Jepang dan Korea Selatan. Scolari mengukir sukses besar karena tercatat hanya Sebastiao Lazaroni yang pernah "memaksakan" formasi tiga bek tengah di Seleção.

Sukses itu memberikan Scolari kharisma yang sanggup memenangi hati publik Brasil. Tidak butuh waktu lama bagi pemain muda seperti Neymar untuk langsung menangkap kharisma itu. Keduanya langsung akrab mengobrol tentang sepakbola di dalam penerbangan ke London awal pekan ini dan Neymar sudah menganggap Scolari seperti figur ayah bagi para pemain. Di sisi teknik, pemanggilan Luis Fabiano membuktikan kesiapan Scolari untuk mengembalikan peran penyerang tengah klasik dalam buku strateginya. Selain itu, Ronaldinho, yang sering diabaikan Menezes, kembali dipanggil. Media pun meyakini Brasil akan tampil lebih keras di bawah Scolari.

Jawaban pertama Scolari atas segala ekspektasi itu terletak di Wembley, 6 Februari, ketika Brasil berujitanding melawan Inggris. Si Felipe Besar hanya punya waktu 15 bulan mempersiapkan Seleção sebelum Piala Dunia dimulai. Dia mungkin bukan pesulap, tapi beban tanggung jawab menghindari tragedi Maracana kedua tak pelak menggelayut di bahunya.


"Kalau sebuah tim yang lima kali juara Piala Dunia menyelenggarakan Piala Dunia, Anda tidak boleh berpikir hanya mencapai final atau semi-final"


- Luiz Felipe Scolari


GOAL.com hadir via ponsel di alamat m.goal.com.
Unduh juga aplikasi GOAL.com secara langsung untuk OS ponsel Anda:


Terkait