thumbnail Halo,

Sao Paulo menganggap alasan Tigre, yang menolak melanjutkan babak kedua final Copa Sudamericana, tidak bisa diterima.


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter
Sao Paulo menilai alasan Tigre menolak melanjutkan babak kedua final Copa Sudamericana terlalu dibuat-buat.

Leg kedua di Estadio Cicero Pompeu de Toledo, Rabu (12/12) malam waktu setempat, berakhir ricuh. Sao Paulo sudah unggul 2-0 dan Tigre menolak melanjutkan babak kedua karena mengaku para pemainnya ditodong petugas keamanan di lorong stadion. Setelah menunggu 30 menit, skuat Tigre tidak muncul di atas lapangan sehingga wasit memberikan kemenangan untuk Sao Paulo.

Tuan rumah menyangkal telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan seperti yang dituduhkan tamunya asal Argentina itu.

"Semua ini bisa dibuat-buat. Tidak ada bukti dari apa yang mereka tuduhkan," sangkal wakil presiden Carlo Augusto de Barros e Silva kepada Lance.

"Tidak mungkin menimpakan tanggung jawab kepada Sao Paulo atas kejadian yang disebabkan tindakan dan provokasi mereka sendiri. Sungguh disayangkan."

"Mereka tim yang tidak layak menjunjung kehormatan Argentina dan ini salah satu cara mereka untuk mengerdilkan keberhasilan kami."

"Jelas sekali tidak ada [penodongan pemain]. Tidak ada pegawai kami yang menggunakan senjata api. Mereka melakukan provokasi. Mereka menemukan cara untuk menghindari kemenangan indah kami."

Pelatih Ney Franco tak kalah geram.

"Kami menghadapi tim yang sudah melampaui batas dalam mengawal pemain. Mereka melakukan banyak pelanggaran," cetusnya kepada wartawan.

"Sungguh memalukan. Saya tidak tahu apa yang terjadi di luar lapangan, tapi kami menikmati kemenangan ini. Kami sangat gembira."

"Kami memang mendengar ada insiden, tapi mereka bukan orang suci. Apa yang mereka lakukan di atas lapangan, bisa saja dilakukan lagi di lorong stadion."

"Mereka kurang pendidikan, itu kalimat terbaik untuk menerangkannya. Kami ingin mencetak lebih banyak gol di babak kedua dan mereka ketakutan sehingga berulah."

Franco mengakhiri pernyataan dengan meminta sikap tegas dari Conmebol.

"Conmebol harus bergerak. Kami lelah dikawal sehingga harus membutuhkan polisi dengan tameng di setiap sudut untuk menjaga kami melakukan tendangan penjuru," pungkasnya.

Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait