thumbnail Halo,

Akankah kompetisi taruna UEFA Youth League bakal mampu menyelamatkan bakat-bakat muda Eropa?


GOALOLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter

Enam jam sebelum publik menyaksikan gol David Alaba mengawali upaya Bayern Munich mempertahankan gelar Liga Champions, UEFA merintis proyek baru yang diharapkan dapat menjamin masa depan sepakbola regional.

Bayern mengalahkan CSKA Moskwa 3-0 pada laga pertama Grup D Liga Champions musim 2013/14, tetapi tahukah Anda enam jam sebelum itu tim Bayern U-19 ditekuk CSKA U-19, 2-0, pada turnamen yang diberi nama UEFA Youth League?

Setelah memperkenalkan sistem "jalur juara" dan "jalur liga" untuk merebut tiket fase grup Liga Champions, Michel Platini melakukan terobosan baru dengan membentuk turnamen untuk menampung bakat-bakat muda Eropa. Agaknya presiden UEFA itu ingin membatasi secara halus perputaran uang yang begitu kencang di bursa transfer. Di awal bulan, lebih dari 1 milyar euro dihamburkan klub-klub Eropa untuk membeli para pemain baru guna bersaing di musim kompetisi 2013/14. Jika masalah pembentukan tim inti bisa diselesaikan dengan mudah lewat lambaian euro, jalan para pemain muda pun tersumbat.

"Kami percaya UEFA Youth League akan menjadi tawaran tambahan yang menarik bagi para peserta Liga Champions. Kami membentuk kesempatan berkompetisi bagi para pemain muda untuk merasakan pertandingan internasional di tingkat klub. Tidak hanya pemain, korps wasit pun akan mendapatkan pengalaman hebat yang sama," ujar Platini, Desember tahun lalu.

"Ini menjadi keuntungan bagi para klub peserta sehingga mereka bisa menjembatani celah antara tim inti dan taruna serta mengasah komitmen untuk terus mengembangan tim usia dini. Tujuan kami hanya didasarkan pada kepentingan olahraga."

Para peserta menyambut baik mainan baru UEFA ini.

"Tidak ada target apa pun. Tujuan kami adalah agar para pemain dapat mengukur kemampuan saat melawan deretan pemain terbaik Eropa sehingga kami bisa membandingkan diri dengan klub lain, mana keunggulan atau ketertinggalan kami, serta untuk menilai diri sendiri," imbuh pelatih CSKA Aleksandr Grishin.

Perlindungan terhadap pemain muda sudah dimulai UEFA sejak 2005. Secara bertahap UEFA meminta klub peserta kompetisi antarklub mereka menyertakan mulai dari empat hingga delapan pemain binaan sendiri (homegrown players) sejak musim 2006/07 hingga 2008/09. Pemain yang termasuk kategori "homegrown" adalah mereka yang berusia antara 15-21 tahun, tidak terbatas kewarganegaraan, dan telah tiga tahun berlatih bersama klub tersebut. Klub tidak ditetapkan harus menurunkan pemain binaan dalam jumlah tertentu saat bertanding.

Pertumbuhannya dalam delapan tahun ini meski dianggap baik, tapi dipandang tidak cukup signifikan membatasi arus transfer pemain.

"Dampak netral atau positif dari peraturan itu masih harus diimbangi dengan pemberlakuan peraturan yang membatasi kebebasan pemain berpindah klub," ujar Dr Geoff Pearson dari University of Liverpool.

UEFA Youth League mengantarkan pemain muda Eropa ke langkah selanjutnya dari peraturan "homegrown players". Tidak urung pula turnamen ini memberi imbas kepada turnamen usia muda lain yang sudah dua tahun diselenggarakan, NextGen Series. Kompetisi itu digelar dengan sistem invitasi. Pada tahun pertamanya, musim 2011/12, NextGen Series mengundang 16 tim. Internazionale menjadi juara dengan mengalahkan Ajax Amsterdam. Beberapa bulan setelah final, pelatih mereka, Andrea Stramaccioni, dipercaya menangani tim senior. Sementara, Ajax mempromosikan pemain muda mereka, Viktor Fischer, ke skuat senior.

Penyelenggaraan berikutnya, musim 2012/13, Aston Villa menjadi juara dengan mengalahkan Chelsea. Graham Burke dari Villa dan Islam Feruz dari Chelsea menjadi bintang turnamen. Begitu juga dengan para pemain lain seperti Conor Coady dan Chuba Akpom. Kemunculan nama-nama ini menjadi angin segar bagi sepakbola Britania apalagi sudah diketahui kalau kesempatan bermain di Liga Primer Inggris sangat mahal bagi bakat-bakat lokal.

Sayangnya, bulan lalu, pengelola NextGen Series, duet Justin Andrews dan Mark Warburton, menyatakan terpaksa menunda turnamen hingga tahun depan karena "masalah keuangan". Tapi, kuat dugaan penundaan itu dilakukan karena UEFA berniat menggelar kompetisinya sendiri di kelompok usia U-19.

Akibat pembatalan NextGen Series musim ini, Inter dan Aston Villa pun harus menunda ambisi mereka menambah koleksi gelar regional. Penyelenggaraan UEFA Youth League juga mengundang kritik karena hanya menyertakan klub-klub peserta Liga Champions sehingga membatasi pemerataan kesempatan kepada klub-klub yang sebenarnya memiliki akademi yang lebih baik.

Tetap saja menarik untuk terus mengikuti UEFA Youth League hingga laga puncak di Stadion Colovray, Nyon, Swiss, 14 April tahun depan. Sebanyak 32 tim bertarung memperebutkan trofi Lennart Johansson. Nama-nama pemain seperti Serge Gnabry, George Glendon, Munir El Haddadi, Florian Pick, dan Marco Pinato tak hanya bersaing demi gengsi, tetapi juga kesempatan dilirik bermain untuk tim senior masing-masing.

Liga Champions >> Halaman Khusus Liga Champions

>> Semua Berita Liga Champions

>> Jadwal - Hasil - Klasemen Liga Champions

Tendangan Bebas

Apakah UEFA Youth League dapat memberikan solusi bagi pembinaan pemain muda Eropa?

Terkait