thumbnail Halo,

Takluk 4-0, lalu 3-0 dari lawan yang sama, Barcelona mungkin harus menyadari masa-masa keemasan mereka mulai memudar.


OPINI  M YANUAR F     Ikuti @mohammadyanuar di twitter

Kapan terakhir kali Anda bisa mengingat Barcelona kalah dengan skor mencolok? Sepertinya sulit untuk memutar lagi memori tersebut karena memang Barcelona dalam beberapa tahun terakhir begitu digdaya di hampir semua kompetisi yang ada.

Ya, Barcelona begitu berkuasa di kompetisi Eropa nyaris dalam satu dekade terakhir.

Cerita kesuksesan Barcelona dimulai ketika Joan Laporta menggantikan Joan Gaspart pada 2003. Sejak menduduki jabatannya itu, Barcelona berubah menjadi tim yang luar biasa.

Frank Rijkaard yang berada di kursi pelatih melakukan sejumlah perubahan, termasuk memboyong Ronaldinho. Hasilnya, Barcelona memenangi La Liga dan Piala Super Spanyol pada musim 2004/05. Di musim yang sama, Ronaldinho berhasil meraih penghargaan pemain terbaik FIFA.

Semusim kemudian, selain titel La Liga dan Piala Super Spanyol, Barcelona juga meraih gelar Liga Champions dengan mengalahkan Arsenal 2-1 di final.

Di musim 2006/07, hanya gelar Copa Del Rey yang bisa diraih. Musim berikutnya lebih parah, tak ada satupun gelar diraih, yang membuat pihak klub memutuskan untuk melakukan gebrakan fenomenal.

Salah satunya adalah dengan mempromosikan Pep Guardiola ke tim utama dari tim junior. Pemain-pemain hebat juga disisihkan, seperti Ronaldinho dan Deco, dan digantikan oleh Xavi, Andres Iniesta dan Lionel Messi.

Dan sejak saat itu, catatan kesuksesan Barcelona berlanjut. Pada 2009, Barcelona meraih gelar Copa Del Rey, La Liga dan Liga Champions. Masih di tahun yang sama, Barcelona melengkapi koleksi trofi dengan memenangi Piala Super Spanyol dan Piala Super Eropa, sebelum akhirnya memastikan sebagai yang terbaik di dunia dengan memenangi Piala Dunia Antarklub pada Desember 2009. Ya, enam gelar juara hanya dalam satu tahun.

Di tahun berikutnya, gelar La Liga dan Piala Super Spanyol kembali diraih. Laporta akhirnya lengser sebagai presiden Barcelona pada Juni 2010, digantikan Sandro Rosell.

Sukses Barcelona terus berlanjut setelah pergantian tampuk kepemimpinan tertinggi di tubuh Barcelona itu. Di musim 2010/11, gelar La Liga dan Liga Champions kembali diraih, ditambah Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub. Dan trofi Copa Del Rey menjadi trofi terakhir yang didapat Barcelona sebelum akhirnya Guardiola mundur.

Mundurnya Guardiola memicu perdebatan mengenai kemungkinan menurunnya kualitas Barcelona. Bukan tanpa alasan, gaya permainan tiki-taka yang begitu fenomenal itu merupakan strategi milik Johan Cruyff yang disempurnakan oleh Guardiola.

Dan dengan rentetan kejayaan selama hampir satu dekade itu, Barcelona jarang mengalami kekalahan, apalagi dengan skor mencolok, seperti dinihari tadi, dan sepekan sebelumnya.

Tim lawan sepertinya terlalu mudah menjebol gawang Victor Valdes. Di Allianz Arena, empat kali gawang Barcelona kecolongan, dan tiga gol dari lawan juga bersarang di Nou Camp.

Kekhawatiran bahwa masa keemasan Barcelona mulai memudar pun berkembang. Tak sedikit yang menilai siklus sukses Barcelona sudah berhenti di titik terendah.

Bukan tanpa alasan munculnya penilaian tersebut. Sudah banyak tim yang tahu bagaimana melemahkan Barcelona. Real Madrid dan Bayern sudah menunjukkan caranya.

Pemain Barcelona terus ditekan setiap mendapatkan bola, dan memaksa pemain sekaliber Xavi, Iniesta dan Messi harus membuat kesalahan sendiri. Kesalahan itulah yang kemudian dimaksimalkan untuk mencuri keunggulan lewat serangan balik cepat dan mangkus. Real Madrid dan Bayern, juga Chelsea dan PSG sudah menggunakan cara ini. Tinggal menunggu waktu saja tim lainnya mengikuti cara tersebut.

Kekalahan itu juga seharusnya menjadi peringatan keras bagi Barcelona, bahwa strategi yang mereka gunakan mulai usang dan tak lagi sangkil. Mengharapkan satu sosok penyelamat bernama Messi juga tak lagi mujarab.

Lalu bagaimana sekarang?

Harusnya, momen ini menjadi tendangan bagi Barcelona untuk bangkit dan mulai melakukan evaluasi. Mungkin Barcelona harus memulai lagi menjalankan program jangka panjang mereka sekali lagi.

Mendatangkan pemain baru untuk memulai generasi dan era yang baru mungkin bisa disarankan, entah itu dari luar klub atau mempromosikan pemain dari akademi La Masia mereka. Pemain dari luar klub seperti Neymar dan Gareth Bale bisa menjadi opsi yang menarik, meski tidak murah.

Tapi apapun itu, sampai saat ini, Barcelona memang harus mengakui keunggulan lawan mereka. Setelahnya, Barcelona juga harus tahu mereka harus melakukan pembenahan besar-besaran jika ingin kembali menuai kejayaan mereka, dengan tidak lagi berharap pada sosok Messi.

Ikuti perkembangan terkini Liga Champions di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Liga Champions, lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen Liga Champions.

Terkait