thumbnail Halo,

Borussia Dortmund menjadi satu-satunya tim semi-finalis yang tidak memiliki sejarah gemerlap di Liga Champions, tapi bisa menjungkirbalikkan prediksi.


ANALISIS    DONNY AFRONI


Borussia Dortmund yang meraih sukses berturut-turut di Bundesliga Jerman, kini menatap trofi tertinggi bagi klub-klub di kawasan Eropa. Dortmund tinggal dua langkah lagi untuk mengulang prestasi tinggi yang pernah mereka raih ketika menjadi kampiun Liga Champions pada musim 1996/97.

Delapan tahun lalu, Dortmund babak belur akibat dilanda krisis finansial. Petinggi klub pun mulai membangun tim Lembah Ruhr itu berusaha untuk menjadikan Dortmund sebagai salah satu klub yang disegani di Jerman.

Sekarang Dortmund sudah berada di empat besar Liga Champions, dan bakal berhadapan dengan Real Madrid, tim yang tak bisa mengalahkan anak asuh Jurgen Klopp itu di fase grup.

GOAL.com Indonesia mengulas lima alasan yang membuat Dortmund pantas tampil di Wembley untuk menghadapi pemenang pertandingan antara Barcelona dan Bayern Munich.

STATUS UNDERDOG YANG MENGUNTUNGKAN


Sejak awal Liga Champions 2012/13, tidak ada yang memperkirakan Dortmund bakal tampil hingga empat besar, sekalipun menyandang status kampiun Bundesliga Jerman dua musim berturut-turut.

Hal itu berkaca dari torehan Dortmund di musim 2011/12 yang menempati posisi juru kunci Grup F di bawah Arsenal, Marseille, dan Olympiakos. Tak heran jika Dortmund memilih hanya menargetkan hasil bagus di musim berikutnya.

Sikap ini cukup beralasan, karena Dortmund mengawali musim 2012/13 dari grup maut, yakni grup yang berisikan para juara di kompetisi domestik: kampiun La Liga Spanyol Real Madrid, Manchester City (Liga Primer Inggris), dan Ajax Amsterdam (Eredivisie Belanda).

Namun Dortmund tampil mengejutkan. Tim lembah Ruhr ini tidak terkalahkan sepanjang fase grup, serta meraih empat kemenangan, dan dua kali imbang, sehinga memuncaki Grup D. Madrid dan City merasakan pahitnya dikalahkan Dortmund.

Sebagian kalangan juga menganggap Dortmund dilindungi Dewi Fortuna di fase knock-out. Mereka menghadapi tim-tim bukan unggulan di kompetisi antarklub kasta tertinggi Eropa ini dengan menyingkirkan FC Porto dan Malaga.

Kini, Dortmund sudah berada di semi-final, dan bakal berhadapan dengan Madrid, pemilik tiga kali runners-up dan sembilan gelar juara Liga Champions.

BERMAIN EFISIEN & MEMATIKAN


Di masa lalu, sepakbola Jerman kerap mendapat cemoohan, karena identik dengan permainan monoton dan text book layaknya robot. Namun apa yang diperlihatkan Dortmund di musim ini berbeda dengan anggapan tersebut.

Dortmund bermain lebih efisien dengan skema 4-2-3-1, dan tidak perlu terlalu lama menguasai bola. Di saat menguasai si kulit bundar, para pemain seperti sudah memahami apa yang harus mereka lakukan. Sentuhan satu-dua cepat, dan tiba-tiba sudah berada di depan gawang lawan.

Ketika kehilangan bola, Dortmund langsung melakukan tekanan ke pemain lawan. Mereka juga beberapa kali menunggu lawan menjadi lengah, dan selanjutnya melakukan serangan mematikan.

Skema permainan ini dirasakan Malaga di leg kedua perempat-final. Di saat sudah bersiap menyambut kemenangan, Malaga harus menangis setelah serangan balik cepat membuahkan dua gol yang dilesakkan Marco Reus dan Felipe Santana di masa injury time.

Dortmund juga memiliki keseimbangan dalam menutup kelemahan yang ada di dalam tim. Jika di satu sisi memperlihatkan performa tak sesuai harapan, maka sisi lainnya akan tampil lebih trengginas, sehingga bisa memecah konsentrasi lawan.

KHARISMA JURGEN KLOPP


Jurgen Klopp mulai menangani Borussia Dortmund pada 2008. Kehadiran Klopp pun membawa perubahan di tubuh tim. Pelatih berusia 45 tahun ini pun lebih suka memakai pemain muda. Apa yang diawali Klopp itu membuahkan hasil dengan menjadi juara Bundesliga dua musim berturut-turut.

Klopp menyandang status sebagai 'pelatih spesialisasi lokal' ketika Dortmund menempati dasar klasemen Grup F Liga Champions musim lalu. Namun Klopp mengabaikan semua itu, dan tetap menaruh kepercayaan kepada para pemainnya.

Klopp tidak pernah memarahi pemain secara terbuka, dan lebih melakukan pendekatan kekeluargaan. Satu pernyataan yang menggambar sosok Klopp adalah kalimat 'lebih sering Anda memperhatikan individu, Anda akan mendapatkan hasil bagus sebagai balasannya'.

Klopp bisa dibilang seorang pelatih yang lebih mementingkan keindahan permainan dibandingkan hasil. Klopp pernah menyatakan, memenangkan laga dengan permainan buruk tidak lebih dari kehilangan permainan bagus. Ia menganggap kemenangan dengan cara itu hanya sebuah kesuksesan palsu. Klopp kerap menganggap kekalahan sebagai awal dari perkembangan permainan menuju ke arah lebih baik.

Pelatih kelahiran Stuttgart ini dikenal sebagai sosok motivator ulung. Itu bisa dilihat dari perjalanan Dortmund menuju semi-final. Klopp pun tak segan-segan merayakan gol tim besutannya layaknya seorang pemain.

PERAN MARIO GOTZE & MARCO REUS


Dortmund disebut-sebut bakal mengalami penurunan ketika ditinggalkan bintang mereka Shinji Kagawa yang hijrah ke Manchester United. Peranan Kagawa begitu besar dalam membantu Dortmund meraih gelar juara Bundesliga dua kali berturut-turut.

Namun kepergian Kagawa sepertinya tidak memberikan pengaruh ketika Dortmund kedatangan Marco Reus. Mantan gelandang serang Borussia Monchengladbach ini memberikan jawaban atas kepercayaan yang diberikan kepada dirinya.

Reus bersama Mario Gotze menjadi sosok sentral bagi permainan Dortmund dengan skema 4-2-3-1. Reus dan Gotze bergantian menjalankan peran yang pernah diemban Kagawa. Bahkan, duet itu lebih dahsyat dibandingkan pendahulunya.

Gotze bertindak sebagai pengatur permainan. Pemain termuda di starting line-up ini tidak hanya bertugas sebagai pemberi umpan bagi Robert Lewandowski, namun juga pencetak gol.

Hal serupa juga diperlihatkan Reus. Walau lebih kerap berperan sebagai pemain bernomor 9, Reus juga memiliki kemampuan untuk menjadi pengumpan andal. Pertukaran posisi kedua pemain ini sering membuat lawan kebingungan.

PEMAIN KE-12


Dortmund dikenal memiliki fans fanatik, dan menjadi salah satu elemen dalam sukses Die Schwarzgelben. Pada musim 2010/11, rata-rata jumlah penonton yang hadir di Signal Iduna Park mencapai 80 ribu, tertinggi di Eropa.

Tak heran bila Signal Iduna Park menjadi neraka bagi tim lawan. Keangkeran stadion ini dirasakan Real Madrid dan Manchester City di fase grup. Kedua tim itu tumbang di hadapan puluhan ribu fans dortmund yang memberikan dukungan dengan cara atraktif. Mereka juga tidak meninggalkan tribun sekalipun tim kesayangannya sedang tertinggal.

Terakhir, Malaga merasakan bagaimana atmosfer bermain di Signal Iduna Park. Kursi tribun tetap penuh sekalipun Dortmund sudah tertinggal 2-1. Yel-yel dukungan yang memekakkan telinga tetap diteriakan para suporter. Dukungan hingga menit terakhir itu pun membuahkan hasil, dua gol di masa injury time untuk membalikkan keadaan.

Koreografi yang diperlihatkan fans Dortmund cukup enak dilihat mata. Fans Dortmund melakukan keografi yang menggambarkan sosok pria mengeker menggunakan teropong, sehingga bisa diartikan target yang diinginkan pendukung Dortmund.

Satu hal yang mungkin tidak dimiliki tim lainnya, para pemain Dortmund dikenal mempunyai hubungan erat dengan para fansnya, Mereka tidak menempatkan diri sebagai pemain bintang yang ingin dielu-elukan fans, dan memilih untuk bergaul dengan suporter layaknya seorang teman.

Ikuti perkembangan terkini Liga Champions di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Liga Champions, lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen Liga Champions.


Ikuti GOAL.com Indonesia di twitter dan gabunglah bersama kami di facebook untuk menjadi bagian dari komunitas sepakbola terbesar di dunia maya!

Terkait