thumbnail Halo,

Lima faktor di bawah ini mendukung Bayern Munich mewujudkan ambisi merengkuh trofi Liga Champions 2012/13.


OLEH   DEDE SUGITA


Inilah saatnya! Bayern Munich lantang mengumandangkan keyakinan treble winners musim lalu, hanya untuk menuntaskan seluruh tiga kejuaraan sebagai runner-up. Keyakinan serupa... tidak, lebih tinggi, mengemuka pada edisi kali ini.

Dengan segala pembenahan yang mereka lakukan, klub tersukses di Tanah Jerman itu melangkah mantap di semua ajang. Titel Deutscher Meister, yang dalam dua tahun terakhir berada di pangkuan Borussia Dortmund, sudah direbut saat kompetisi masih menyisakan enam pekan, rekor tercepat dalam sejarah Bundesliga.

Di DFB-Pokal, Die Borussen, yang juga bersatus jawara bertahan turnamen, dipaksa tunduk di perempat-final. Tanpa bermaksud mengecilkan semi-finalis lainnya: VfL Wolfsburg  (lawan Bayern di empat besar), VfB Stuttgart, dan SC Freiburg, "seharusnya" gelar ini juga bisa disabet Die Roten.

Fokus utama tak pelak tertuju pada trofi idaman yang sudah lebih dari satu dekade tak pernah lagi diangkat The Bavarians: Liga Champions.

Tiket semi-final telah diamankan usai mengempaskan Juventus lewat agregat 4-0, tapi bisakah satu dari lima klub pemegang UEFA Badge of Honour ini meneruskan kiprah hingga laga pamungkas dan menjadi yang terbaik di Wembley, 25 Mei nanti? Lima faktor di bawah ini mendukung Bayern mewujudkan ambisi tersebut.

KEKECEWAAN MUSIM LALU


What doesn't kill you makes you stronger. Kepedihan selalu menjadi si nomor dua di tiga ajang edisi lalu, khususnya ketika kalah dalam final Liga Champions di rumah sendiri oleh Chelsea melalui adu penalti padahal unggul mutlak secara permainan, tak membuat Bayern berlarut-larut dalam keterpurukan.

Mereka menggunakannya sebagai pelecut motivasi untuk menggapai sukses musim ini. Rencana perbaikan pun langsung disusun, dan dilaksanakan tentunya. Bukan hanya materi pemain yang dibenahi. Di level manajemen, direktur olahraga Christian Nerlinger dicopot untuk digantikan sosok yang lebih ambisius dan perfeksionis dalam diri Matthias Sammer.

Hasilnya, superioritas Si Merah nyata terlihat sepanjang perjalanan di 2012/13 ini. Setelah tangis duka di Bundesliga diubah menjadi tawa bahagia, mereka siap melakukan hal serupa di pentas Eropa.

KEDALAMAN SKUAT MUMPUNI

Tim utama Bayern musim lalu sebenarnya sudah cukup paten, tapi mereka kekurangan pelapis sepadan di bangku cadangan. Contoh gampang adalah stok penyerang yang cuma dua, Mario Gomez dan Ivica Olic. Di belakang, gelandang bertahan Anatoliy Tymoshchuk kerap diplot mengkover absensi salah satu pilar, seperti di final UCL musim lalu ketika ia mengisi tempat Holger Badstuber yang terkena suspensi.

Menyadari kondisi tak ideal tersebut, klub langsung menggaet sebarisan pemain anyar sesuai kebutuhan. Ivica Olic dilepas, tapi Mario Mandzukic datang, ditemani Claudio Pizarro, pujaan lawas publik Bavaria yang kembali setelah berkelana ke Chelsea dan Werder Bremen.

Bek tangguh Dante direkrut dari Borussia Monchengladbach, sementara lini tengah diperkokoh seorang Javi Martinez, yang ditebus dari Athletic Bilbao dengan rekor transfer termahal Bundesliga, €40 juta. Jangan lupakan pula suntikan tenaga belia Xherdan Shaqiri. Dengan kedalaman skuat mumpuni, pelatih Jupp Heynckes jadi mudah melakukan rotasi tanpa mengorbankan kualitas tim.

SOLID DI SEMUA LINI


Materi pemain oke menjadikan Bayern kuat di segala sektor, mulai dari penjaga gawang, lini belakang, sampai dengan pos ujung tombak. Die Roten bahkan bisa dikatakan sebagai tim paling seimbang di antara para semi-finalis Liga Champions lainnya.

Di bawah mistar berdiri kiper nomor satu Jerman, Manuel Neuer. Sementara garis pertahanan yang ditinggal Badstuber akibat cedera panjang menjadi milik kapten Philipp Lahm, Daniel van Buyten/Jerome Boateng, Dante, serta David Alaba.

Duet Javi Martinez dan Bastian Schweinsteiger, yang tak hanya tangguh melindungi back-four tapi juga cermat dalam mendistribusikan bola, bertugas sebagai double pivot. Dengan cederanya Toni Kroos, Arjen Robben kembali masuk tim inti sebagai trio penyokong di belakang striker bersama Thomas Muller dan Franck Ribery.

Sementara Mandzukic sukses merebut posisi utama di lini depan karena selain jago menyerang, ia juga fasih memainkan peran sebagai "bek" pertama saat tim kehilangan bola. Bomber Kroasia itu akan absen dalam leg pertama melawan Barcelona di semi-final, namun sosok terpinggirkan, Mario Gomez, siap unjuk gigi.

JUPP HEYNCKES


Ketika Januari lalu klub mengumumkan kepastian datangnya Pep Guardiola sebagai pelatih musim depan, sempat muncul kekhawatiran akan adanya imbas negatif pada perjalanan tim. Lantaran musim baru separuh jalan, pemilihan waktu konfirmasi tersebut dianggap kurang pas dan berpotensi mengganggu fokus bos terkini, Jupp Heynckes, dan pasukannya untuk mengarungi sisa musim.

Kenyataannya, penampilan anak-anak Bavaria malah semakin dahsyat. Jelas pula terlihat bahwa Heynckes justru kian termotivasi untuk mempersembahkan yang terbaik di akhir masa baktinya, sekaligus memberikan tantangan luar biasa besar untuk dijawab sang calon suksesor, Guardiola.

Arsitek veteran 67 tahun itu pun tampak telah belajar banyak dari kegagalan musim lalu. Bayern kini terlihat semakin padu. Mereka menyerang dan bertahan sebagai sebuah tim, dan jago mengatur tempo sesuai situasi yang tengah dihadapi. Titel Liga Champions akan menjadi kado perpisahan paling manis buat sang pelatih.

MITOS BARCELONA


Undian semi-final menghadapi Barcelona tak perlu dianggap sebagai mimpi buruk oleh Bayern. Justru ini merupakan kesempatan bagus buat mereka menjadi kampiun. Jika ditarik mundur dalam lima tahun ke belakang, tim yang mampu menaklukkan Blaugrana selalu mengakhiri turnamen dengan trofi La Orejona di tangan.

Mitos ini bermula pada 2007/08, ketika Manchester United membekap The Catalans dengan agregat 1-0 di empat besar sebelum memaksa Chelsea menyerah via adu penalti dalam final di Moskwa.

Semusim berselang, El Barca keluar sebagai yang terbaik, namun dihentikan FC Internazionale di semi-final edisi 2009/10. Azulgrana juara lagi pada 2010/11, untuk kemudian terjegal Chelsea, juga di babak empat besar, dalam ambisi mempertahankan gelar pada musim lalu.

Selama periode ini, The Bavarians sendiri dua kali menjadi "korban" mitos Barcelona. Ya, merekalah lawan yang ditaklukkan Inter dan Chelsea di laga pamungkas. Percaya atau tidak, tak bisa dimungkiri mitos adalah bagian tak terpisahkan dari sepakbola, meski ada kalanya berakhir. Yang jelas, faktanya Bayern wajib mengalahkan El Barca untuk melangkah lebih dekat menuju trofi impian.




Ikuti perkembangan terkini Liga Champions di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Liga Champions, lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen Liga Champions.

Terkait