thumbnail Halo,

Barcelona nyaris pasti menguasai permainan di Parc des Princes, tapi mereka harus menerapkan sejumlah detail jika ingin pulang dari kandang PSG itu dengan kemenangan.


OLEH   DEDE SUGITA


Barcelona kerap dikritik lantaran tak punya Rencana B saat tim menemui jalan buntu untuk membongkar pertahanan lawan yang tampil begitu defensif.

Namun, seperti pernah dituturkan Dani Alves, Blaugrana memang tak memerlukannya dan tak harus pula mengubah gaya permainan. Yang mereka butuhkan adalah mengembangkan Rencana A yang sudah terbukti menghadirkan kejayaan dalam beberapa tahun terakhir.

Faktanya, meski strategi mereka secara umum sudah terbaca, hanya nasib buruk yang dapat menghadang The Catalans keluar sebagai pemenang jika segala elemen dalam Rencana A berjalan sempurna, tak peduli tim oposisi memarkir bus atau pesawat.

Kendati begitu, tentu ada sejumah detail yang mesti diterapkan skuat Tito Vilanova jika tak ingin menerima kejutan tak menyenangkan untuk ketiga kalinya di Liga Champions musim ini kala menyambangi markas Paris Saint-Germain pada laga pertama perempat-final, Rabu (3/4) dinihari WIB.

ALIRKAN BOLA LEBIH CEPAT

Tak perlu menjadi seorang pakar untuk mengetahui bahwa Barcelona bakal lebih banyak menguasai bola ketimbang sang lawan sekalipun mereka dipenuhi pemain bintang.

Namun, keunggulan ini juga terkadang menjadi sisi negatif lantaran mereka terlalu lama mendistribusikan bola secara horizontal dan tak langsung mengirim killer pass.

Guna menerobos barisan pertahanan PSG, yang dikawal duet bek tangguh Thiago Silva dan Alex, Barca sesekali harus mengalirkan bola lebih cepat dan tampil lebih direct agar lawan tak punya waktu untuk mengorganisasi diri di belakang.


PASANG VILLA

Walau sempat kurang dipercaya di awal musim lantaran baru pulih dari cedera panjang, David Villa belakangan membuktikan dirinya masih bagian penting tim Barcelona.

Dengan keberadaan dirinya di lini depan, fokus bek-bek lawan yang biasanya hanya tertuju pada seorang Lionel Messi jadi terpecah, dan otomatis membuka lebih banyak ruang buat striker Argentina itu.

Harmonisasi permainan di antara keduanya pun amat terasa dengan kerap berganti peran sebagai pencetak gol dan penyumbang assist.



PRESSING KETAT

Selain penguasaan permainan, yang membuat Barca tampak begitu superior adalah pressing ketat sejak di garis depan saat kehilangan bola.

Menghadapi Les Parisiens, para jugador The Catalans harus tampil seperti saat menjamu AC Milan di Camp Nou, jangan loyo seperti ketika mereka takluk di San Siro.

Tekanan mesti diberikan kepada para pemain bertahan lawan sehingga mereka jadi rentan membuat kesalahan, dan pada akhirnya menghasilkan keuntungan bagi Barca.

LEBIH DISIPLIN DI BELAKANG

Kesetiaan pada skema menyerang tak jarang membuat Barcelona seolah melupakan sisi defesif, bahkan para bek sekalipun yang tugas utamanya tentu adalah bertahan.

Yang perlu "diingatkan" soal ini pastinya para full-back di kedua sisi lapangan: Dani Alves dan Jordi Alba.

Kembali mengambil hasil impresif di second leg kontra Milan sebagai rujukan, Alba mungkin harus mengerem hasrat ofensifnya dan lebih bertindak sebagai bek sentral ekstra dan baru maju dengan kecepatan tinggi saat timing-nya pas.


AWASI IBRA

Zlatan Ibrahimovic pastinya mengusung misi pribadi untuk membobol gawang mantan klubnya setelah perpisahan kurang menyenangkan pada musim panas 2010.

Tanpa motivasi ekstra itu pun Ibracadabra sudah amat berbahaya dengan kemampuan komplet yang dimilikinya.

Gerard Pique cs. harus ekstra hati-hati dan siaga penuh di sepanjang pertandingan guna meminimalisir petaka yang bisa didatangkan raksasa Swedia itu.








Ikuti perkembangan terkini Liga Champions di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Liga Champions, lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen Liga Champions.

Tendangan Bebas

Leg Pertama Perempat-Final Liga Champions Antara Bayern Munich dan Juventus, Bagaimana Hasilnya?

Terkait